JawaPos.com - Fenomena doomscrolling semakin marak di tengah masyarakat digital. Kebiasaan ini merujuk pada aktivitas menggulir konten negatif secara terus-menerus di media sosial atau portal berita. Tanpa disadari, perilaku ini berdampak nyata pada kualitas tidur dan kesehatan mental.
Doomscrolling sering kali dipicu oleh rasa cemas dan ketidakpastian terhadap kondisi dunia. Alih-alih merasa lebih tenang, paparan informasi negatif justru memperburuk kondisi psikologis seseorang. Hal ini membuat otak terus berada dalam kondisi siaga dan sulit beristirahat .
Salah satu dampak utama yang jarang disadari adalah meningkatnya kecemasan. Konsumsi berita buruk secara berulang dapat memperkuat pikiran negatif dan rasa takut. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu stres kronis hingga depresi.
Dampak lain yang cukup serius adalah munculnya kecemasan eksistensial. Individu menjadi lebih pesimis terhadap masa depan dan kehidupan secara umum. Hal ini berkaitan dengan paparan berita krisis dan konflik yang terus menerus .
Kebiasaan ini juga terbukti mengganggu kualitas tidur. Banyak orang melakukan doomscrolling sebelum tidur, sehingga pikiran tetap aktif dan sulit rileks. Akibatnya, waktu tidur menjadi lebih singkat dan tidak berkualitas .
Tidak hanya itu, doomscrolling dapat meningkatkan hormon stres dalam tubuh. Kadar kortisol dan adrenalin yang tinggi membuat tubuh tetap tegang meski sudah waktunya istirahat. Kondisi ini berkontribusi pada kelelahan fisik dan mental secara bersamaan .
Dampak berikutnya adalah menurunnya konsentrasi dalam aktivitas sehari-hari. Pikiran yang dipenuhi informasi negatif akan sulit fokus pada pekerjaan atau belajar. Hal ini juga dapat mengganggu produktivitas dan performa individu.
Doomscrolling juga memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya. Bagi individu dengan gangguan kecemasan atau depresi, kebiasaan ini dapat memicu gejala yang lebih parah. Bahkan, dalam beberapa kasus dapat memicu serangan panik .
Para ahli menyarankan untuk mulai membatasi konsumsi informasi digital. Mengatur waktu penggunaan media sosial dan menghindari layar sebelum tidur menjadi langkah awal yang efektif. Dengan kebiasaan yang lebih sehat, risiko dampak negatif doomscrolling dapat diminimalkan.