JawaPos.com - Kue basah atau jajanan pasar selama ini identik dengan harga terjangkau, tampilan sederhana, dan mudah ditemukan di pasar tradisional. Namun belakangan ini, kue basah mulai mengalami perubahan. Sejumlah pelaku usaha menghadirkan jajanan tradisional ini dalam versi yang lebih modern dan premium, baik dari segi branding, kualitas bahan, hingga cara penyajian.
Tren ini membuat kue basah tidak lagi sekadar camilan sederhana, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup. Kemasan yang lebih rapi, tampilan yang menarik, serta pengalaman membeli yang lebih nyaman menjadi nilai tambah yang ditawarkan. Tidak heran jika kue basah kini mulai masuk ke kafe, toko khusus, hingga pusat perbelanjaan.
1. Sari Sari
Salah satu pelopor yang cukup dikenal adalah Sari Sari. Brand ini sejak awal memang mengusung konsep jajanan pasar sebagai identitas utamanya. Sari Sari menawarkan beragam jenis kue tradisional dari berbagai daerah, mulai dari yang manis hingga gurih. Bahkan, beberapa jenis kue yang jarang ditemui juga bisa ditemukan di sini. Dari segi harga, Sari Sari tergolong cukup terjangkau dengan kisaran mulai dari Rp2.000 per potong. Nilai tambahnya terletak pada tempat yang nyaman, kemasan yang lebih modern, serta rasa yang tetap familiar di lidah banyak orang.
2. Fins Recipe
Berbeda dengan itu, Fins Recipe hadir dengan pendekatan yang lebih eksklusif. Pilihan kuenya tidak sebanyak Sari Sari, hanya sekitar tujuh jenis, namun setiap produk dibuat dengan perhatian lebih terhadap kualitas. Mulai dari bahan, rasa, hingga tampilan kemasan dirancang dengan lebih detail. Hasilnya, pengalaman yang ditawarkan terasa lebih premium. Harga yang dibanderol pun cukup tinggi, mulai dari Rp60 ribuan per paket, tetapi tetap memiliki peminat karena kualitas dan rasa yang dianggap sepadan.
3. Le Gourmet
Sementara itu, Le Gourmet bisa dibilang sebagai pemain lama yang sudah cukup dikenal, terutama di pusat perbelanjaan kelas menengah ke atas. Secara tampilan, produk yang ditawarkan cenderung lebih sederhana dibandingkan brand premium lainnya. Namun dari segi harga, Le Gourmet tetap berada di kategori menengah ke atas, dengan harga per potong yang bisa mencapai belasan ribu rupiah. Meski tidak terlalu mengikuti tren viral, brand ini mampu mempertahankan eksistensinya berkat konsistensi rasa dan kualitas yang ditawarkan.
4. Tjerita Nyonya
Pendatang baru yang cukup menarik perhatian adalah Tjerita Nyonya. Berlokasi di kawasan Blok M, tempat ini mengusung konsep yang berbeda dengan menghadirkan kafe khusus kue basah dan minuman tradisional. Pilihan kuenya memang tidak terlalu banyak, namun setiap produk dibuat dengan perhatian pada detail rasa dan kualitas. Selain itu, kehadiran area dine-in menjadi nilai tambah, karena pengunjung bisa menikmati kue basah dalam suasana santai layaknya nongkrong di kafe.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kue basah telah mengalami transformasi, tidak lagi hanya berfungsi sebagai jajanan sederhana, tetapi juga sebagai produk yang memiliki nilai estetika dan pengalaman. Konsumen tidak hanya membeli rasa, tetapi juga suasana, kemasan, dan citra yang ditawarkan oleh brand.
Meski demikian, tren ini juga menghadirkan perubahan pada esensi kue jajanan pasar itu sendiri. Jika dulu kue basah dikenal sebagai makanan yang sederhana dan merakyat, kini sebagian di antaranya hadir dengan tampilan yang lebih fancy dan harga yang jauh lebih tinggi. Hal ini membuat kue basah memiliki segmentasi pasar yang berbeda, dengan target konsumen yang lebih spesifik.
Di sisi lain, perubahan ini juga membuka peluang baru. Kue tradisional kembali diminati, tidak hanya untuk dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga untuk acara tertentu, bahkan dijadikan sebagai hampers atau hadiah. Ada konsumen yang tertarik dengan konsep modern dan premium ini, namun tidak sedikit pula yang tetap lebih memilih versi tradisional yang lebih sederhana dan terjangkau.
Pada akhirnya, tren kue basah modern ini menghadirkan pilihan bagi masyarakat. Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan sederhana, apakah Anda termasuk yang tertarik dengan kue jajanan pasar versi modern dan premium, atau justru lebih memilih yang klasik seperti dulu?
Editor : Bintang Pradewo