Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Pace Besar Bukan Masalah, Komunitas Lari Ini Justru Bikin Pemula Makin Pede

Muhammad Irfan Hidayat • Senin, 11 Mei 2026 | 18:59 WIB
ILUSTRASI: Lokasi yang paling populer untuk lari adalah kawasan Gelora Bung Karno di Senayan. Kompleks olahraga ini memiliki lintasan lari dan jalur pedestrian yang luas sehingga nyaman digunakan untuk jogging. (Dok JawaPos.com)
ILUSTRASI: Lokasi yang paling populer untuk lari adalah kawasan Gelora Bung Karno di Senayan. Kompleks olahraga ini memiliki lintasan lari dan jalur pedestrian yang luas sehingga nyaman digunakan untuk jogging. (Dok JawaPos.com)
JawaPos.com - Belakangan ini, media sosial rasanya makin dipenuhi konten orang habis lari. Mulai dari foto sepatu penuh keringat, sunrise di car free day, sampai screenshot aplikasi lari yang menunjukkan jarak, waktu tempuh, dan angka pace. Bahkan sekarang, sebelum caption “lari santai”, biasanya ada tulisan “pace 5”, “pace 6”, atau “pace 7” yang ikut dipamerkan.

Buat yang sudah lama terjun ke dunia running, istilah itu mungkin biasa saja. Tapi untuk orang yang baru mau mulai olahraga lari, angka-angka tersebut kadang malah bikin minder duluan.“Aduh pace aku masih gede.” “Takut paling belakang kalau ikut komunitas.” “Nanti malah bikin malu.”

Dalam dunia lari, pace adalah waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menempuh jarak tertentu, biasanya per kilometer. Jadi kalau seseorang punya pace 6, artinya ia membutuhkan waktu sekitar 6 menit untuk menyelesaikan 1 kilometer. Semakin kecil angka pace, biasanya semakin cepat ritme larinya.

Karena tren lari sekarang semakin ramai, pace akhirnya sering dianggap sebagai tolak ukur kemampuan seseorang. Tidak sedikit orang yang merasa harus punya pace kecil dulu baru pantas ikut komunitas atau upload hasil lari di media sosial.

Padahal, pace tiap orang tentu berbeda-beda. Faktor usia, kondisi tubuh, pengalaman olahraga, stamina, hingga kebiasaan sehari-hari bisa mempengaruhi ritme lari seseorang. Bahkan untuk pemula, pace besar sebenarnya hal yang sangat normal.

Fenomena ini juga yang akhirnya melahirkan komunitas-komunitas lari santai yang lebih ramah untuk pemula. Salah satunya adalah pace besar, komunitas yang membawa pesan sederhana bahwa pace besar bukan sesuatu yang harus dipermalukan.

Lewat berbagai unggahannya, komunitas ini sering mengajak orang untuk menikmati proses lari tanpa tekanan harus jadi yang tercepat. Tidak ada tuntutan harus kuat 10 kilometer, tidak harus punya personal record keren, bahkan tidak harus langsung jago.

Di tengah tren flexing pace dan statistik olahraga, konsep seperti ini justru terasa menyegarkan. Banyak orang ternyata hanya butuh lingkungan yang suportif untuk mulai bergerak, bukan lingkungan yang bikin makin insecure.

Fenomena komunitas “lari lambat” sendiri juga dianggap menjadi ruang aman untuk para pemula. Banyak orang merasa lebih nyaman berolahraga ketika tidak terus-menerus dibandingkan dengan pelari lain.

Padahal kalau dipikir-pikir, manfaat lari sebenarnya jauh lebih besar daripada sekadar mengejar angka pace. Lari rutin diketahui bisa membantu menjaga kesehatan jantung, meningkatkan stamina, membakar kalori, hingga membantu kualitas tidur menjadi lebih baik. 

Bukan cuma untuk fisik, lari juga sering jadi cara banyak orang menjaga kesehatan mental. Ada yang merasa pikirannya lebih ringan setelah jogging sore, ada yang menjadikan lari sebagai pelarian dari stres kerja atau tugas kuliah, sampai ada juga yang akhirnya menemukan circle pertemanan baru lewat komunitas lari.

Makanya sekarang, komunitas running bukan lagi sekadar tempat olahraga bareng. Buat sebagian orang, komunitas lari juga jadi tempat cari teman, berbagi cerita, sampai membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Menariknya lagi, tren lari sekarang juga mulai terasa lebih inklusif. Banyak komunitas yang mulai menekankan bahwa semua orang bisa mulai olahraga tanpa melihat pace, bentuk tubuh, atau pengalaman sebelumnya.

Karena pada akhirnya, semua pelari cepat juga pernah mulai dari langkah kecil. Pernah ngos-ngosan di kilometer pertama, pernah jalan di tengah lari, bahkan mungkin pernah malu upload hasil pace sendiri.

Jadi buat yang selama ini cuma jadi penonton konten running di TikTok atau Instagram, mungkin sekarang waktunya berhenti minder duluan. Tidak perlu menunggu jadi cepat untuk mulai lari.

Karena dalam olahraga ini, konsisten bergerak jauh lebih penting dibanding sibuk membandingkan angka di layar aplikasi.

Kalau hari ini baru kuat lari satu kilometer juga tidak masalah. Kalau masih harus diselingi jalan kaki juga bukan hal memalukan. Yang penting, berani mulai dulu.

Editor : Bintang Pradewo
#lari santai #komunitas lari