JawaPos.com - Rasa gatal di sela-sela jari kaki kerap dianggap sebagai gangguan ringan yang bisa hilang dengan sendirinya. Padahal, jika disertai kulit mengelupas, kemerahan, atau pecah-pecah, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda kutu air.
Kutu air atau athlete's foot merupakan infeksi jamur pada kulit kaki yang dalam istilah medis disebut tinea pedis. Infeksi ini umumnya muncul di sela-sela jari kaki, terutama ketika area tersebut sering berada dalam kondisi lembap dan hangat.
Kondisi tersebut bisa dialami siapa saja, bukan hanya orang yang rutin berolahraga. Kebiasaan memakai sepatu tertutup dalam waktu lama, kaki yang mudah berkeringat, serta penggunaan fasilitas umum yang lembap dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi jamur pada kaki.
Kenali Gejala Kutu Air yang Perlu Diwaspadai
Salah satu gejala kutu air yang paling umum adalah rasa gatal di antara jari-jari kaki. Keluhan ini dapat disertai perubahan kondisi kulit yang terkadang dianggap sepele.
Kulit di area yang terinfeksi bisa tampak bersisik, mengelupas, memutih, atau mengalami pecah-pecah. Pada beberapa kasus, penderita juga dapat merasakan sensasi perih atau terbakar. Bahkan, lepuhan kecil bisa muncul pada bagian kaki yang terdampak.
Gejala tersebut dapat berbeda pada setiap orang. Infeksi juga bisa meluas dari sela-sela jari ke telapak maupun bagian samping kaki jika tidak ditangani dengan tepat.
Meski demikian, rasa gatal tidak selalu menandakan kutu air. Kondisi kulit lain, seperti eksim atau iritasi, juga dapat menimbulkan keluhan serupa. Karena itu, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan apabila penyebabnya belum jelas.
Mengapa Kutu Air Bisa Muncul?
Jamur penyebab kutu air dapat tumbuh dengan baik di lingkungan yang hangat dan lembap. Kondisi ini dapat terbentuk ketika kaki terus berkeringat di dalam sepatu tertutup, terlebih jika kaus kaki yang digunakan basah dan jarang diganti.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak dengan kulit yang terinfeksi atau benda dan permukaan yang terkontaminasi jamur. Lantai kamar mandi umum, ruang ganti, serta area di sekitar kolam renang menjadi tempat yang perlu diwaspadai.
Penggunaan handuk, kaus kaki, atau sepatu secara bergantian dengan orang yang terinfeksi juga dapat meningkatkan resiko penularan. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan kaki saja belum tentu cukup jika kebiasaan menjaga alas kaki dan barang pribadi masih diabaikan.
Cara Mencegah Kutu Air agar Tidak Mudah Kambuh
Menjaga kaki tetap bersih dan kering menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi resiko kutu air. Setelah mandi atau mencuci kaki, pastikan sela-sela jari dikeringkan dengan lembut karena bagian tersebut mudah lembap.
Kaus kaki sebaiknya diganti setiap hari atau lebih sering jika sudah basah akibat keringat. Pilih alas kaki yang memiliki sirkulasi udara baik dan beri kesempatan sepatu untuk benar-benar kering sebelum digunakan kembali.
Saat berada di kamar mandi umum, ruang ganti, atau area kolam renang, gunakan sandal sebagai pelindung kaki. Hindari pula berbagi handuk, kaus kaki, dan sepatu dengan orang lain.
Jika gejala sudah muncul, hindari menggaruk bagian yang gatal karena dapat memperparah iritasi dan beresiko menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lain. Obat antijamur yang tersedia di apotek dapat digunakan sesuai petunjuk, tetapi pemilihan pengobatan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi yang dialami.
Apabila keluhan tidak membaik setelah dua minggu menggunakan krim antijamur yang dijual bebas, atau justru disertai pembengkakan, nanah, dan demam, segera periksakan diri ke tenaga medis. Orang yang memiliki diabetes juga perlu lebih berhati-hati dan sebaiknya segera berkonsultasi jika mengalami gejala kutu air.
Jangan Abaikan Gatal di Sela Jari Kaki
Gatal di sela-sela jari kaki memang tidak selalu menandakan masalah serius. Namun, jika keluhan muncul berulang kali dan disertai perubahan pada kulit, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Mengenali gejala sejak awal, menjaga kaki tetap kering, serta memperhatikan kebersihan kaus kaki dan alas kaki dapat membantu mengurangi resiko infeksi. Jika keluhan terus berlanjut atau semakin parah, pemeriksaan medis menjadi langkah yang tepat untuk memastikan penyebabnya dan mendapatkan penanganan sesuai kebutuhan.
Editor : Bintang Pradewo