Jakarta Mulai Gerakan Pilah Sampah, Yuk Buktiin Anak Muda Juga Peduli Lingkungan

Mulai sekarang, kebiasaan buang sampah asal campur kayaknya harus mulai ditinggalin. Karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Lewat aturan ini, warga Jakarta diminta mulai memilah sampah langsung dari rumah masing-masing.
Gubernur Pramono Anung mengatakan langkah ini dilakukan karena persoalan sampah di Jakarta sudah semakin serius. Kapasitas TPST Bantargebang disebut makin terbatas, sehingga masyarakat diminta ikut berperan mengurangi beban sampah sejak dari rumah.
Lewat gerakan ini, warga diminta memilah sampah menjadi empat kategori. Mulai dari sampah organik yang bisa dijadikan kompos, sampah daur ulang seperti plastik dan kertas, sampah B3 seperti baterai atau lampu bekas, hingga sampah residu seperti tisu kotor dan popok sekali pakai.
Buat banyak anak muda, pilah sampah mungkin awalnya terdengar ribet. Apalagi buat anak kos yang kamarnya aja kadang sudah penuh duluan sama tugas kuliah, baju numpuk, dan kardus paket belanja online. Tapi sebenarnya, langkah kecil ini nggak sesulit yang dibayangkan.
Contohnya simpel banget. Kalau habis beli kopi atau minuman dingin, coba pisahkan gelas plastik dan sedotannya dari sisa es atau tisu bekas. Botol air mineral juga bisa dikumpulkan sendiri buat didaur ulang atau dijual ke bank sampah.
Anak muda yang sering pesan makanan online juga bisa mulai biasain misahin sisa makanan dengan kemasan plastiknya. Jadi nasi atau makanan sisa nggak tercampur sama sendok plastik, kantong, atau wadah makan sekali pakai.
Bahkan buat anak kos, cukup sediakan dua kantong sampah berbeda di kamar. Satu buat sampah organik seperti sisa makanan, satu lagi buat plastik, kardus, atau botol bekas. Kelihatannya sepele, tapi itu sudah jadi langkah awal memilah sampah.
Selain bikin lingkungan lebih bersih, memilah sampah juga punya banyak manfaat lain. Sampah yang dipisahkan jadi lebih mudah didaur ulang sehingga nggak semuanya berakhir menumpuk di TPST Bantargebang. Plastik, kardus, dan botol bekas yang masih layak juga bisa punya nilai ekonomi dan dimanfaatkan kembali.
Kalau sampah organik dipisahkan, bau sampah juga jadi berkurang. Tempat sampah di rumah atau kos jadi nggak cepat penuh dan nggak terlalu mengundang lalat atau tikus. Hal kecil kayak gini sebenarnya bikin lingkungan tempat tinggal jadi lebih nyaman.
Manfaat lainnya, memilah sampah juga bisa membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Sampah plastik yang tercampur dan dibuang sembarangan sering kali berakhir di sungai dan laut. Dari situ, dampaknya bisa panjang, mulai dari banjir sampai pencemaran ekosistem.







