Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Gangguan Layang-Layang Pengaruhi Performa Kereta Cepat Whoosh

Yogi Wahyu Priyono • Jumat, 6 Februari 2026 | 14:31 WIB

Kereta Cepat Whoosh mencatat performa ketepatan waktu yang baik meskipun menghadapi gangguan eksternal.
Kereta Cepat Whoosh mencatat performa ketepatan waktu yang baik meskipun menghadapi gangguan eksternal.
JawaPos.com - Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat performa ketepatan waktu perjalanan Kereta Cepat Whoosh yang baik sepanjang tahun 2025, meskipun menghadapi berbagai gangguan dari faktor eksternal. Data yang dihimpun menunjukkan ketepatan waktu keberangkatan mencapai 99,04 persen, dengan rata-rata keterlambatan hanya 10,8 detik per perjalanan. Sementara itu, ketepatan waktu kedatangan tercatat sebesar 88,62 persen, dengan rata-rata keterlambatan 33 detik per perjalanan.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa menjelaskan bahwa pencapaian tersebut diraih melalui upaya yang terus dilakukan, bahkan dengan adanya tantangan dari berbagai gangguan eksternal, termasuk aktivitas bermain layang-layang. Seluruh pencapaian ini tercatat dari total 21.907 perjalanan Whoosh yang dioperasikan sepanjang tahun 2025.

Selama tahun tersebut, tercatat sebanyak 164 kejadian gangguan yang menyebabkan keterlambatan perjalanan. Jenis gangguan terbesar berasal dari layang-layang yang menyangkut Jaringan Listrik Aliran Atas atau Overhead Catenary System (OCS), dengan jumlah sebanyak 74 kejadian.

"Lalu gangguan akibat kereta menabrak biawak yang terjadi sebanyak 25 kejadian, serta cuaca buruk yang menghambat perjalanan sebanyak 18 kejadian," kata Eva, Kamis (5/2).

Aktivitas bermain layang-layang di dekat jalur Whoosh bukan hanya mengganggu perjalanan, melainkan juga dapat membahayakan keselamatan perjalanan dan merusak infrastruktur kelistrikan, yang pada akhirnya akan mempengaruhi ribuan penumpang. Oleh karena itu, KCIC mengimbau masyarakat untuk mematuhi larangan bermain layang-layang dalam radius 3 km ke kiri dan kanan dari jalur Whoosh, demi menjaga keselamatan bersama.

"Gangguan akibat layang-layang paling banyak terjadi di wilayah Padalarang dan Cimahi, khususnya di ruas jalur antara Stasiun Padalarang dan Tegalluar Summarecon. Kenaikan aktivitas bermain layang-layang di daerah tersebut sering terjadi terutama pada saat musim liburan sekolah tiba," ujarnya. 
 
Untuk mengatasi permasalahan ini, KCIC telah mengambil berbagai langkah proaktif. Salah satunya adalah melakukan sosialisasi secara teratur di sekolah-sekolah dan permukiman warga yang berada di sekitar jalur Whoosh, dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh aktivitas bermain layang-layang di dekat jalur kereta cepat.
 
Selain sosialisasi, KCIC juga mengoperasikan 1.846 unit CCTV yang tersebar merata di sepanjang jalur, stasiun, serta kantor operasional. Fasilitas ini digunakan untuk memantau aktivitas di sekitar jalur Whoosh secara real-time. Tak hanya itu, sebanyak 530 petugas pengamanan ditempatkan berjaga selama 24 jam dengan jarak setiap 500 meter di sepanjang jalur.

Petugas ini bekerja sama erat dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) di wilayah yang rawan terjadinya gangguan layang-layang untuk melakukan patroli gabungan, mengawasi, serta menegakkan larangan yang telah ditetapkan.
 
"Kami mengimbau agar masyarakat tidak bermain layang-layang di sekitar jalur Whoosh. Hal tersebut dapat menghambat perjalanan Whoosh dan membahayakan keselamatan perjalanan kereta cepat yang melaju hingga 350 km/jam," pungkas Eva.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#KCIC