JawaPos.com - Pemerintah terus menjaga lahan basah yang ada di sejumlah titik di Indonesia. Pasalnya keberadaan lahan basah mempunyai peran besar untuk menjaga ekosistem. Diantara upaya menjaga lahan basah, menggunakan kearifan lokal setempat.
Kelestarian lahan basah di Indonesia jadi perhatian dalam peringatan Hari Lahan Basah Sedunia yang dipusatkan di kawasan konservasi Mangrove dan Bekantan, Kalimantan Utara (7/2). Kegiatan tahunan tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Raja Juli Antoni.
Dalam kesempatan itu Raja menyampaikan pentingnya perlindungan dan pengelolaan lahan basah berbasis pengetahuan tradisional. Dia berharap lahan basah menjadi kawasan dengan biodiversitas tinggi, serta menjadi sumber ekonomi untuk masyarakat pesisir.
“Kita berharap Lahan basah bukan hanya tanah yang basah," katanya. Tetapi menjadi kawasan dengan biodiversitas yang sangat tinggi. Sumber ekonomi yang baik. Sekaligus memiliki kemampuan penyerapan karbon yang sangat besar.
Tahun ini peringatan Hari Lahan Basah Sedunia dengan mengusung tema Lahan Basah dan Pengetahuan Tradisional: Merayakan Warisan Budaya. Raja mengatakan kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan. Namun, kearifan lokal tetap memiliki peran strategis sebagai sumber pengetahuan yang harus diakui dan dirayakan.
“Masyarakat kita sejak dulu sudah sangat terbiasa dengan sistem pasang surut, sistem pertanian di lahan basah, hingga memahami pola migrasi burung di kawasan basah sejak zaman nenek moyang,” jelasnya. Menurut Raja pengetahuan berbasis kearifan lokal seperti itu perlu diinstitusionalisasikan. Sehingga bisa berfungsi untuk melengkapi riset-riset yang dilakukan oleh universitas dan lembaga-lembaga lainnya.
Lebih lanjut, Raja menegaskan komitmen Indonesia sebagai anggota Konvensi Ramsar. Komitmen itu diantaranya diwujudkan dengan telah mendaftarkan delapan situs lahan basah penting. Indonesia, lanjutnya, dianugerahi kekayaan lahan basah yang luar biasa. Sehingga perlu adanya kerjasama dan kolaborasi semua pihak baik nasional maupun internasional.
Data dari Kemenhut menyebutkan, sekitar 23 persen mangrove dunia berada di Indonesia. "Kita juga memiliki gambut tropis terbesar di dunia. Ini adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus kita jaga bersama-sama,” tuturnya.
Pada kesempatan yang sama, Head of Development Cooperation and Counsellor, Embassy of Canada to Indonesia Alice Birnbaum mengatakan pihaknya bangga dapat bekerjasama dengan Kementerian Kehutanan. Dia juga mengaku berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem mangrove dan masyarakat pesisir.
“Mangrove ini tidak hanya indah tapi juga diakui secara global sebagai penopang keanekaragaman hayati dan pondasi bagi ekosistem," tuturnya. Dia menyebut Kanada sangat bangga dapat bermitra dengan Kementerian Kehutanan dan banyak pihak lainnya. Pemerintah Kanada berkomitmen untuk melindungi ekosistem sekaligus memperkuat masyarakat pesisir. Dia di sini hadir pada kegiatan itu, untuk menjadi babak baru menuju keberlanjutan.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi