JawaPos.com - Membicarakan wisata alam di sekitar Jakarta, banyak orang mungkin langsung teringat Puncak, Bogor, atau Bandung. Padahal, sekitar 4 hingga 5 jam perjalanan dari Jakarta, ada sebuah kawasan yang menyimpan pemandangan spektakuler berupa pantai, air terjun, tebing raksasa, hingga jejak sejarah bumi yang berusia jutaan tahun. Tempat itu adalah Geopark Ciletuh-Palabuhanratu di Kabupaten Sukabumi.
Bukan sekadar destinasi wisata biasa, Geopark Ciletuh merupakan kawasan yang diakui UNESCO sebagai UNESCO Global Geopark sejak 2018. Pengakuan ini diberikan karena kawasan tersebut memiliki kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya yang memiliki nilai penting bagi dunia. Selain itu, kawasan ini juga menjadi salah satu geopark terbesar di Indonesia dengan luas lebih dari 126 ribu hektare yang mencakup delapan kecamatan di Sukabumi.
Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami terlebih dahulu apa itu geopark. Menurut UNESCO, geopark adalah kawasan geografis yang memiliki warisan geologi bernilai internasional dan dikelola dengan prinsip konservasi, edukasi, serta pembangunan berkelanjutan. Jadi, kawasan ini tidak hanya melindungi bentang alam yang unik, tetapi juga mendorong pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat.
Konsep tersebut bisa ditemukan di Geopark Ciletuh. Di sini, pengunjung tidak hanya disuguhkan pemandangan alam yang indah, tetapi juga dapat mempelajari sejarah terbentuknya Pulau Jawa, aktivitas lempeng tektonik, hingga budaya lokal yang telah berkembang selama ratusan tahun. Salah satu ikon utamanya adalah Amfiteater Ciletuh, bentang alam berbentuk tapal kuda yang disebut sebagai amfiteater alam terbesar di Indonesia. Dari Puncak Darma maupun Panenjoan, wisatawan dapat menikmati panorama perbukitan hijau yang mengelilingi Teluk Ciletuh dengan latar Samudra Hindia. Menariknya, lanskap spektakuler ini terbentuk melalui proses geologi yang berlangsung selama puluhan juta tahun dan menjadi salah satu lokasi terbaik untuk mempelajari sejarah pembentukan Jawa bagian barat.
Bagi pencinta wisata alam, Geopark Ciletuh juga dikenal sebagai surga air terjun. Kawasan ini memiliki sejumlah curug dengan karakter berbeda, seperti Curug Awang yang dijuluki "Niagara Mini", Curug Cimarinjung dengan latar tebing batu yang eksotis, serta Curug Sodong, Curug Cikanteh, dan Curug Puncak Manik. UNESCO bahkan mencatat terdapat sembilan air terjun utama yang tersebar di kawasan amfiteater alam Ciletuh, menjadikannya salah satu daya tarik wisata unik di Indonesia.
Pesonanya tidak berhenti di sana. Geopark Ciletuh juga memiliki garis pantai yang panjang dengan karakter yang beragam. Pantai Palangpang menjadi salah satu lokasi paling populer sekaligus pintu masuk utama kawasan geopark, sementara Pantai Cikepuh, Pantai Cihurang, dan Pantai Karang Daeu menawarkan keindahan panorama yang berpadu dengan perbukitan dan tebing hasil aktivitas geologi jutaan tahun lalu. Kombinasi inilah yang membuat lanskap Ciletuh terasa berbeda dibandingkan kawasan pantai lain di Jawa Barat.
Keunikan lainnya adalah Geyser Cisolok, fenomena alam langka yang mampu menyemburkan air panas dan uap dari dalam tanah secara alami akibat aktivitas geotermal di wilayah selatan Jawa. Kehadirannya menjadi bukti bahwa Geopark Ciletuh tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi.
Selain kekayaan alam, kawasan ini juga menyimpan warisan budaya yang masih terjaga. Masyarakat adat Kasepuhan masih mempertahankan tradisi Sunda secara turun-temurun, sementara Kampung Batik Purwasedar menghasilkan batik khas Pakidulan yang motifnya terinspirasi dari air terjun, pegunungan, hingga batuan purba khas Geopark Ciletuh.
Lokasinya yang relatif dekat dari Jakarta, sekitar 4 hingga 5 jam perjalanan dengan kendaraan pribadi, membuat Geopark Ciletuh semakin diminati wisatawan. Dalam satu kawasan, pengunjung bisa menikmati pantai, air terjun, perbukitan, wisata budaya, hingga edukasi geologi sekaligus. Tak heran jika Geopark Ciletuh sering disebut sebagai paket lengkap wisata alam dekat Jakarta yang menawarkan pengalaman berbeda, menikmati keindahan alam sambil memahami bagaimana bumi membentuk lanskap yang kita lihat hari ini.
Editor : Bintang Pradewo