JawaPos.com – Aksi tawuran di Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, menjadi persoalan sosial yang tak kunjung rampung. Tahun demi tahun, bentrok antarkelompok warga di Manggarai terus terjadi, seolah menjadi tradisi kekerasan yang diwariskan lintas generasi.
Terakhir, aksi tawuran itu terjadi pada Kamis (14/8). Polisi menyebutkan pelaku tawuran tersebut merupakan sesama warga Manggarai. Yakni, RW 04 dan RW 12 Kelurahan Manggarai, Jakarta Selatan pada petang hari.
Untuk mengatasi masalah sosial itu, Karang Taruna DKI Jakarta melaksanakan kegiatan Kopi (Komunikasi Pemuda-Pemudi) Manggarai Jilid 2 di Sasana Krida Karang Taruna, Kelurahan Manggarai, kemarin (18/8). Dengan mengangkat tema Persaudaraan Manggarai untuk Menuju Jakarta Kota Global, diskusi ringan itu menghadirkan berbagai narasumber. Di antaranya, Staf Khusus (Stafsus) Gubernur DKI Jakarta Bidang Komunikasi Publik Chico Hakim, Anggota DPR Once Mekel, Kepala Kesbangpol DKI Muhammad Matsani, Ketua Karang Taruna DKI Jakarta Akmal B.Y., hingga Majelis Pertimbangan Karang Taruna DKI Budhi.
Dalam diskusi itu, Chico mengatakan kepada para pemuda-pemudi Manggarai untuk menyampaikan aspirasinya. Terutama, pemuda-pemudi yang ikut terlibat aksi tawuran untuk hidup rukun dan bergandengan tangan.
’’Bukan hanya mewakili pak gubernur, tapi juga sebagai anak Jakarta yang ingin membangun kampungnya menjadikan tempat yang kondusif. Jangan bangga menampilkan video Manggarai mencekam,’’ terang Chico yang mengaku lahir dan besar di Jakarta Selatan.
Dia juga mengajak pemuda-pemudi Manggarai itu untuk melanjutkan diskusi Kopi Manggarai tersebut. Namun, dia memberi target, agar tidak ada lagi kejadian tawuran di Manggarai.
’’Dari satu Kopi Manggarai ke Manggarai, satu jilid ke jilid berikutnya tidak ada kejadian. Ini dilakukan per tiga bulan, zero kejadian, zero korban, gak ada teman kita luka parah bahkan meninggal,’’ imbuhnya.
Karena itu, setelah diskusi Kopi Manggarai itu, ada tindak lanjut berikutnya. Yakni, pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan setelah sepekan kegiatan Kopi itu dilaksanakan. ’’Minimal seminggu setelah Kopi Manggarai harus ada kegiatan yang kita agendakan, harus yang disukai,’’ katanya.
Aris Harianto, salah seorang pemuda Manggarai yang hadir dalam Kopi Manggarai itu menyebutkan, anak-anak yang suka tawuran tidak ada yang mau hadir di sana. ’’Kadang mereka malu difoto, bukan gak mau ngobrol,’’ ujarnya.
Namun, ada beberapa aspirasi yang disampaikan anak-anak yang tawuran kepadanya. Mulai dari ketersediaan lapangan kerja hingga kejar paket C.
’’Mereka bilang pengen kerja, tapi terkendala birokrasi, nggak ada ijazah. Makanya, mereka minta dibantu tebus ijazah dan kejar paket C, tapi sambil kerja,’’ terangnya.
Aris juga bercerita, beberapa tahun sebelumnya, sempat selama tiga tahun aksi tawuran Manggarai kosong. Hal itu tidak lepas dari peran Polsek. ’’Waktu Kapolsek Bu Chintya (Kapolsek Tebet Kompol Chitya Intania) itu hampir tiga tahun nggak ada tawuran, mungkin karena ibu-ibu, pendekatannya lebih personal kepada anak remaja Manggarai,’’ jelasnya.
Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa aksi tawuran di Manggarai tidak hanya dilakukan warga, tetapi ada juga yang disusupi warga luar. Namun begitu, dia berharap, pemerintah juga menyiapkan ruang bagi anak-anak Manggarai yang menyukai seni, yakni festival Manggarai dengan kegiatan bazaar.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi