JawaPos.com - Es selendang mayang menjadi salah satu kuliner tradisional khas Betawi yang hingga kini masih bertahan di tengah gempuran minuman modern. Sajian ini dikenal dengan tampilannya yang berwarna-warni serta rasa manis dan gurih yang khas. Di tengah cuaca siang yang terik, es selendang mayang menjadi pilihan tepat untuk melepas dahaga.
Belakangan ini, cuaca panas di siang hari terasa semakin menyengat di berbagai wilayah. Kondisi tersebut membuat banyak orang mencari minuman yang tidak hanya segar, tetapi juga mampu mengembalikan energi. Es selendang mayang pun kembali dilirik sebagai pilihan tradisional yang relevan di tengah suhu yang kian meningkat.
Minuman ini terbuat dari adonan tepung beras dan tepung sagu yang dimasak hingga kenyal, lalu dipotong-potong menyerupai puding. Potongan tersebut biasanya terdiri dari tiga warna, yaitu merah, putih, dan hijau, yang membuat tampilannya semakin menarik. Penyajiannya semakin lengkap dengan siraman santan dan gula merah cair yang kental.
Keunikan es selendang mayang terletak pada teksturnya yang lembut namun kenyal saat dikunyah. Perpaduan rasa manis dari gula merah dan gurihnya santan menciptakan sensasi yang khas di lidah. Ditambah es batu yang dingin, minuman ini terasa begitu menyegarkan, terutama saat dinikmati di siang hari yang panas.
Nama selendang mayang sendiri memiliki makna yang cukup unik. Selendang merujuk pada bentuk potongan yang berlapis-lapis seperti kain, sedangkan mayang menggambarkan keindahan dan warna warni dari sajian ini. Nama tersebut mencerminkan tampilan es ini yang cantik dan menggoda selera.
Es selendang mayang sudah ada sejak zaman dahulu dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Betawi. Dahulu, minuman ini sering dijajakan oleh pedagang keliling di kampung kampung. Dengan menggunakan gerobak sederhana, mereka menawarkan kesegaran yang mudah dijangkau oleh berbagai kalangan.
Seiring berjalannya waktu, keberadaan es selendang mayang sempat mulai jarang ditemui. Kehadiran minuman kekinian membuat minat masyarakat terhadap kuliner tradisional ini sedikit menurun. Namun, belakangan ini es selendang mayang kembali diminati, terutama oleh generasi muda yang mulai tertarik dengan warisan kuliner Nusantara.
Selain rasanya yang enak, es selendang mayang juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Minuman ini menjadi salah satu simbol kekayaan kuliner Betawi yang patut dilestarikan. Keberadaannya tidak hanya sekedar sebagai pelepas dahaga, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya lokal.
Kini, es selendang mayang bisa ditemukan di berbagai tempat, mulai dari pasar tradisional hingga festival kuliner. Bahkan, beberapa kafe dan restoran mulai menghadirkan kembali minuman ini dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Hal ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Di tengah cuaca panas yang belakangan terasa sangat ekstrem, es selendang mayang menjadi pilihan yang tidak hanya menyegarkan, tetapi juga mengenyangkan. Teksturnya yang padat membuat minuman ini terasa seperti camilan yang cukup mengisi perut. Jadi, saat matahari sedang terik-teriknya, tak ada salahnya menikmati segelas es selendang mayang sebagai pelepas dahaga sekaligus cara sederhana menikmati warisan kuliner yang tetap relevan hingga kini.
Editor : Bintang Pradewo