Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

CFD Jakarta Punya Rute Baru, Yuk Flashback ke Sejarah Awal Car Free Day di Ibu Kota 

Muhammad Irfan Hidayat • Sabtu, 9 Mei 2026 | 17:30 WIB
SEMARAK: Warga mengikuti senam pada kegiatan Jaga Jakarta Penuh Warna di CFD, Bundaram HI, Jakarta Pusat, Minggu (30/11).
SEMARAK: Warga mengikuti senam pada kegiatan Jaga Jakarta Penuh Warna di CFD, Bundaram HI, Jakarta Pusat, Minggu (30/11).

JawaPos.com -  Warga Jakarta baru saja mendapatkan hadiah dari Gubernur Pramono Anung yaitu Car Free Day alias CFD yang kini punya rute baru di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan. Setelah selama ini identik dengan Sudirman-Thamrin, sekarang salah satu jalan tersibuk di ibu kota itu juga bakal berubah jadi area bebas kendaraan setiap Minggu pagi.

Kabar ini langsung menarik perhatian banyak orang. Soalnya CFD sudah jadi bagian dari gaya hidup warga Jakarta. Setiap akhir pekan, jalanan dipenuhi orang jogging, gowes, senam bareng, kulineran, sampai bikin konten media sosial. Bahkan buat sebagian anak muda, CFD sekarang sudah seperti “festival Minggu pagi” di tengah kota.

Belum lagi suasana CFD yang makin ramai dengan komunitas lari, skateboard, dance, sampai pedagang UMKM yang berjejer di sepanjang jalan. Tidak heran kalau setiap ada perubahan rute atau jam operasional baru, langsung jadi perbincangan publik.

Baca Juga: TelkomGroup Resmikan Kabel Laut Pukpuk: Jembatan Digital Pertama yang Menghubungkan Indonesia – Papua Nugini

Nah, di tengah ramainya pembahasan CFD Rasuna Said ini, ternyata banyak juga yang belum tahu bagaimana awal mula CFD hadir di Jakarta. Padahal sejarahnya cukup panjang dan berawal dari masalah serius yang dihadapi ibu kota: polusi udara dan kemacetan.

Secara global, konsep Car Free Day mulai populer di Eropa sekitar tahun 1990-an. Saat itu banyak negara mulai mengampanyekan pengurangan penggunaan kendaraan pribadi demi menekan polusi dan emisi gas buang. Gerakan ini kemudian menyebar ke berbagai kota besar dunia.

Di Indonesia, konsep Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau HBKB mulai diperkenalkan pada awal 2000-an. Jakarta menjadi salah satu kota yang paling serius menerapkannya karena jumlah kendaraan terus meningkat dan kualitas udara makin memburuk.

Baca Juga: Terpaksa Pulang Malam? Tenang, Ini Tips Biar Tetap Aman Sampai Rumah! 

CFD Jakarta sendiri pertama kali dicanangkan pada masa kepemimpinan Gubernur Sutiyoso. Program ini mulai diuji coba pada tahun 2002 di kawasan Sudirman-Thamrin. Saat itu, tujuan utamanya adalah mengurangi polusi udara sekaligus mengampanyekan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

Namun pelaksanaan CFD secara rutin baru benar-benar dimulai pada tahun 2007. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat itu menetapkan kawasan Jalan Sudirman dan MH Thamrin sebagai area bebas kendaraan bermotor setiap Minggu pagi.

Pemilihan Sudirman-Thamrin bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan salah satu pusat bisnis dan jalur lalu lintas tersibuk di Jakarta. Setiap hari, ribuan kendaraan melintas di sana dan menyumbang polusi udara dalam jumlah besar.

Bayangin saja, jalan yang biasanya penuh suara klakson mendadak berubah jadi tempat orang lari pagi dan jalan santai. Buat warga Jakarta saat itu, suasana seperti ini terasa baru banget. Banyak orang penasaran ingin merasakan seperti apa ibu kota tanpa kendaraan bermotor.

Meski sekarang selalu ramai, ternyata CFD sempat menuai pro dan kontra di awal kemunculannya. Ada yang mendukung karena dianggap bagus untuk kesehatan dan lingkungan, tapi ada juga yang mengeluh karena penutupan jalan dinilai bikin macet di kawasan lain.

Namun lama-kelamaan masyarakat mulai melihat manfaatnya. CFD bukan cuma soal udara lebih bersih, tetapi juga menghadirkan ruang publik gratis di tengah kota yang super padat. Warga akhirnya punya tempat untuk olahraga, berkumpul, atau sekadar refreshing tanpa harus keluar biaya mahal.

Seiring waktu, CFD Jakarta berkembang jauh lebih besar dibanding tujuan awalnya. Kalau dulu fokusnya hanya pengurangan emisi kendaraan, sekarang CFD juga ikut menggerakkan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Ube Take Over! Si Ungu Manis yang Disebut Bakal Geser Popularitas Matcha 

Setiap Minggu pagi, banyak pedagang UMKM mencari rezeki di sekitar area CFD. Mulai dari penjual sarapan, kopi kekinian, minuman segar, sampai perlengkapan olahraga selalu ramai pembeli. Karena itu, CFD kini dianggap bukan cuma program lingkungan, tetapi juga ruang ekonomi dan sosial warga kota.

Selain itu, CFD juga perlahan berubah jadi bagian dari culture anak muda Jakarta. Banyak orang datang bukan cuma buat olahraga, tetapi juga nongkrong, cari hiburan, sampai bikin konten TikTok dan Instagram. Tidak sedikit komunitas yang tumbuh dan berkembang dari kegiatan CFD setiap akhir pekan.

Karena antusias warga terus meningkat, Pemprov Jakarta akhirnya memperluas area CFD ke Rasuna Said pada Mei 2026. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu pusat bisnis paling sibuk di Jakarta Selatan dengan lalu lintas yang padat hampir setiap hari.

Baca Juga: Hantavirus Ramai Dibicarakan, Yuk Kenali Cara Simpel Cegah Tikus di Rumah

Penambahan rute baru ini diharapkan bisa memberi ruang publik lebih luas bagi masyarakat sekaligus mengurangi kepadatan pengunjung di Sudirman-Thamrin. Selain itu, jam operasional CFD Jakarta juga dimajukan menjadi pukul 05.30 WIB mulai Juni 2026 agar warga punya waktu olahraga yang lebih panjang.

Meski sekarang identik dengan olahraga, hiburan, dan kuliner, pesan utama CFD sebenarnya tetap sama seperti saat pertama kali dicanangkan dulu: mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan dan kualitas udara kota.

Dari yang awalnya hanya program pengurangan polusi, CFD kini berubah menjadi tradisi Minggu pagi warga Jakarta. Dan dengan hadirnya rute baru di Rasuna Said, suasana akhir pekan tanpa kendaraan di ibu kota tampaknya bakal semakin ramai di tahun-tahun mendatang.

Editor : Bintang Pradewo
#cfd #cfd jakarta