JawaPos.com – Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta menyasar remaja putri dalam program sosialisasi Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA). Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman gizi sejak dini sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A. Sidabalok mengatakan remaja putri dipilih sebagai sasaran karena mereka diharapkan menjadi calon ibu yang memahami pentingnya pemenuhan gizi keluarga.
"Kenapa remaja putri? Karena ternyata putri itu yang kita harapkan menjadi ibu rumah tangga yang mengerti terkait dengan gizi dari rumah tangga itu sendiri," kata Hasudungan di Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Jumat (17/7).
Edukasi Gizi Sejak Remaja
Hasudungan menjelaskan sosialisasi B2SA rutin dilaksanakan di berbagai sekolah. Salah satunya digelar di SMKN 41 Jakarta Selatan, Cilandak, pada 10 Juni 2026 yang diikuti sekitar 200 siswi.
Pola Pangan B2SA merupakan konsep konsumsi pangan yang mendorong masyarakat mengonsumsi makanan dengan komposisi beragam, bergizi, seimbang, dan aman.
Menurutnya, penerapan pola makan tersebut tidak harus mahal. Yang terpenting adalah memahami komposisi gizi yang tepat serta memanfaatkan sumber pangan lokal.
Baca Juga: Mudik ke Jakarta: Pemprov DKI Tawarkan Rangkaian Wisata dan Promo Libur Lebaran
Dengan pola konsumsi yang beragam dan seimbang, ketahanan pangan keluarga dapat diperkuat sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak-anak.
Melalui edukasi sejak usia sekolah, KPKP berharap generasi muda memahami bahwa makan bukan sekadar menghilangkan rasa lapar, tetapi juga harus memenuhi kebutuhan gizi untuk menunjang pertumbuhan dan kesehatan.
Dorong Urban Farming dan Konsumsi Ikan
Selain memberikan edukasi mengenai gizi, Pemprov DKI Jakarta juga terus mengembangkan program pertanian perkotaan (urban farming) untuk memperkuat ketahanan pangan di ibu kota.
Hasudungan mengatakan Jakarta masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Karena itu, pemerintah menjalankan program contract farming di sembilan provinsi untuk menjaga ketersediaan pangan.
Di sisi lain, pengembangan urban farming dilakukan melalui pembagian rak hidroponik, bak fiber untuk budidaya ikan, hingga diversifikasi hasil pertanian agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Ia juga menyoroti rendahnya tingkat konsumsi ikan masyarakat DKI Jakarta. Karena itu, program urban farming diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih mudah mengakses dan mengonsumsi ikan sebagai sumber protein.
"Jadi kita juga ingin melaksanakan peningkatan konsumsi ikan tadi dengan urban farming tadi," kata Hasudungan.
Editor : Edy Pramana