Apa Itu Toxic Relationship? Kenali 5 Tandanya dan Cara Mengatasinya

Rafi Akbar • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:08 WIB
Ilustrasi Pasangan yang Sedang Bertengkar (Dok. Magnific)
Ilustrasi Pasangan yang Sedang Bertengkar (Dok. Magnific)

JawaPos.com - Memiliki hubungan dengan pasangan tentu tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, hingga pertengkaran merupakan hal yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan. Namun, jika hubungan justru lebih sering membuat seseorang merasa tertekan, tidak dihargai, atau kehilangan kepercayaan diri, kondisi tersebut patut diwaspadai.

Situasi ini kerap dikaitkan dengan toxic relationship atau hubungan yang tidak sehat. Kondisinya tidak selalu ditandai dengan pertengkaran besar. Perilaku mengontrol pasangan, manipulasi emosional, hingga kebiasaan merendahkan juga dapat membuat hubungan perlahan menjadi tidak sehat.

Karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sejak dini. Selain memahami perilaku yang perlu diwaspadai, mengetahui cara menghadapinya juga dapat membantu seseorang menentukan langkah yang tepat untuk menjaga diri.

5 Tanda Toxic Relationship yang Perlu Dikenali

1. Sering Merendahkan Pasangan

Salah satu tanda hubungan yang tidak sehat adalah kebiasaan merendahkan pasangan melalui perkataan maupun tindakan. Kritik yang seharusnya disampaikan untuk memperbaiki keadaan justru berubah menjadi hinaan, ejekan, atau komentar yang membuat seseorang merasa tidak berharga.

Misalnya, pasangan kerap mengejek penampilan, membandingkan dengan orang lain, atau mengungkit kekurangan setiap kali terjadi pertengkaran. Jika terjadi berulang kali, perilaku tersebut dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan membuat seseorang merasa tidak dihargai dalam hubungannya sendiri.

2. Terlalu Mengontrol Kehidupan Pasangan

Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak tetap memiliki ruang untuk menjalani kehidupan pribadi. Namun, dalam toxic relationship, salah satu pihak bisa merasa berhak mengatur berbagai aspek kehidupan pasangannya.

Contohnya, melarang pasangan bertemu teman, menentukan pakaian yang boleh dikenakan, meminta akses ke akun media sosial tanpa izin, hingga mengharuskan pasangan memberikan kabar setiap saat.

Perhatian dan rasa khawatir memang bisa muncul dalam hubungan. Namun, keduanya tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengambil alih keputusan pribadi atau membatasi kehidupan pasangan secara berlebihan.

3. Sering Memanipulasi Perasaan

Manipulasi emosional juga menjadi salah satu perilaku yang perlu diwaspadai. Kondisi ini terjadi ketika seseorang menggunakan tekanan emosional untuk mempengaruhi keputusan atau perilaku pasangannya.

Sebagai contoh, pasangan terus-menerus menyalahkanmu ketika terjadi konflik, membuatmu merasa bertanggung jawab atas kemarahannya, atau mengancam akan mengakhiri hubungan ketika keinginannya tidak dituruti. 

Akibatnya, kamu mungkin memilih mengalah bukan karena memahami sudut pandang pasangan, melainkan karena takut menghadapi pertengkaran atau kehilangan hubungan tersebut.

4. Cemburu Berlebihan dan Membatasi Pergaulan

Rasa cemburu sesekali bisa muncul dalam hubungan. Namun, kecemburuan yang berlebihan hingga memicu kecurigaan tanpa alasan jelas dapat menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.

Misalnya, pasangan selalu menuduhmu berselingkuh ketika berinteraksi dengan orang lain, memeriksa ponsel tanpa izin, atau marah ketika kamu menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga.

Jika dibiarkan, perilaku tersebut dapat membuat seseorang merasa terkekang dan kehilangan dukungan dari lingkungan terdekat. Padahal, menjalani hubungan tidak berarti harus meninggalkan kehidupan sosial atau kehilangan privasi.

5. Hubungan Lebih Sering Membuat Tertekan

Tanda lainnya dapat terlihat dari dampak hubungan terhadap kondisi emosional seseorang. Alih-alih merasa nyaman, kamu justru lebih sering merasa cemas, sedih, takut melakukan kesalahan, atau khawatir terhadap reaksi pasangan.

Kamu mungkin mulai menghindari pembicaraan tertentu karena takut memicu pertengkaran. Bahkan, kamu bisa merasa perlu mengubah kepribadian atau menyembunyikan pendapat agar hubungan tetap berjalan.

Meski begitu, perasaan sedih atau kecewa sesekali tidak otomatis menandakan hubungan toxic. Hal yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku yang berulang, bagaimana pasangan memperlakukanmu, dan apakah kamu merasa aman untuk menyampaikan kebutuhan maupun pendapat.

Cara Mengatasi Toxic Relationship

Menyadari bahwa hubungan yang dijalani tidak sehat bukanlah hal yang mudah. Terlebih jika sudah ada keterikatan emosional dan banyak kenangan bersama. Meski begitu, ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan untuk menghadapi situasi tersebut.

1. Kenali Pola Perilaku yang Terjadi

Langkah pertama adalah memahami perilaku apa saja yang membuat hubungan terasa tidak sehat. Cobalah memperhatikan apakah konflik hanya terjadi sesekali atau justru berulang dengan pola yang sama.

Kamu juga bisa mencatat kejadian yang membuat tidak nyaman agar lebih mudah melihat situasi secara objektif. Dengan mengenali polanya, kamu dapat mempertimbangkan apakah masalah tersebut bisa diperbaiki melalui komunikasi atau justru membutuhkan langkah yang lebih tegas.

2. Komunikasikan Perasaan dan Tetapkan Batasan

Jika situasinya aman, cobalah membicarakan perilaku yang membuatmu merasa tidak nyaman. Sampaikan perasaan dan kebutuhan secara jelas tanpa harus merendahkan atau menyerang pasangan.

Selain itu, tentukan batasan yang perlu dihormati, seperti privasi handphone, waktu bersama teman, dan kebebasan mengambil keputusan pribadi.

Namun, perubahan tidak cukup hanya mengandalkan janji. Perhatikan apakah pasangan benar-benar bersedia mendengarkan, menghormati batasan, dan mengubah perilakunya secara konsisten.

3. Cari Dukungan dari Orang Terdekat

Ketika menghadapi hubungan yang tidak sehat, dukungan dari orang lain bisa membantu. Cobalah bercerita kepada teman, keluarga, atau orang yang dipercaya agar kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Jangan merasa harus menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri. Jika tekanan emosional mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional juga dapat menjadi pilihan.

4. Pertimbangkan untuk Mengakhiri Hubungan

Tidak semua hubungan yang bermasalah harus langsung diakhiri. Namun, jika perilaku yang merugikan terus berulang, batasan tidak dihormati, dan tidak ada perubahan nyata, mengakhiri hubungan bisa menjadi pilihan yang perlu dipertimbangkan.

Keputusan ini tidak selalu mudah, terutama ketika masih memiliki perasaan terhadap pasangan. Meski begitu, mempertahankan hubungan bukan berarti harus terus menerima perlakuan yang menyakiti diri sendiri.

Jika terdapat ancaman, kekerasan, atau kontrol yang membuatmu takut, utamakan keselamatan. Mintalah bantuan orang terdekat yang dipercaya atau layanan pendampingan yang sesuai, dan hindari menghadapi situasi berbahaya seorang diri.

Pentingnya Mengenali Hubungan yang Sehat

Mengenali toxic relationship bukan berarti harus langsung memberikan label buruk kepada pasangan setiap kali terjadi perselisihan. Hal yang perlu diperhatikan adalah pola perilaku, seberapa sering hal tersebut terjadi, serta dampaknya terhadap kedua pihak.

Hubungan yang sehat tetap bisa menghadapi masalah, tetapi kedua pihak perlu memiliki kemauan untuk saling mendengarkan, menghormati batasan, dan memperbaiki keadaan. Sebaliknya, perilaku merendahkan, manipulasi, serta kontrol berlebihan yang terus berulang tidak seharusnya dianggap sebagai bentuk kasih sayang.

Dengan memahami tanda-tandanya, seseorang dapat lebih bijak dalam menentukan langkah untuk menjaga dirinya dan membangun hubungan yang lebih sehat. Sebab, hubungan yang baik bukan hanya tentang bertahan bersama, tetapi juga tentang bagaimana kedua pihak bisa tumbuh tanpa kehilangan rasa aman dan penghargaan terhadap diri sendiri.

Editor : Bintang Pradewo
Toxic Relationship