Fenomena tersebut bukan sekadar kisah regenerasi biasa.
Jika Nico Paz dan Giuliano Simeone tampil di Piala Dunia 2026, Argentina untuk pertama kalinya bisa memiliki lebih dari satu pemain kelahiran luar negeri dalam satu edisi Piala Dunia.
Bagaimana Nico Paz dan Giuliano Simeone Mengikuti Jejak Sang Ayah?
Nico Paz lahir di Santa Cruz de Tenerife, Spanyol, saat ayahnya Pablo Paz berkarier di klub Tenerife.
Pablo merupakan bek asal Bahia Blanca yang sebelumnya menimba ilmu di Newell’s Old Boys dan sempat memperkuat Independiente sebelum berkiprah di Eropa.
Sementara itu, Giuliano Simeone lahir di Roma, Italia, ketika Diego Simeone masih bermain untuk Lazio.
Kini, Nico berkembang menjadi gelandang kreatif berkaki kiri bersama Como, sedangkan Giuliano menjelma sebagai winger pekerja keras yang memperkuat Atletico Madrid.
Keduanya digadang-gadang masuk skuad Argentina untuk Piala Dunia 2026. Jika terpilih, mereka akan melanjutkan kisah keluarga yang sudah terjalin sejak era ayah mereka hampir tiga dekade lalu.
Apa Hubungan Piala Dunia 1998 dengan Cerita Mereka?
Pablo Paz dan Diego Simeone sama-sama menjadi bagian skuad Argentina asuhan Daniel Passarella pada Piala Dunia 1998.
Keduanya tampil bersama dalam laga fase grup melawan Kroasia yang berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Argentina.
Pada pertandingan yang berlangsung di Bordeaux tersebut, Pablo bermain penuh selama 90 menit. Diego Simeone masuk sebagai pemain pengganti menggantikan Javier Zanetti pada babak kedua.
Kebersamaan mereka menjadi salah satu momen penting dalam sejarah La Albiceleste.
Argentina memang melaju hingga perempat final, tetapi langkah mereka terhenti setelah kalah 1-2 dari Belanda akibat gol ikonik Dennis Bergkamp.
Piala Dunia 1998 juga menjadi penampilan internasional terakhir Pablo Paz. Sebaliknya,
Diego Simeone masih melanjutkan kiprahnya hingga Piala Dunia 2002 dan mengoleksi total 106 caps bersama Argentina antara 1988 hingga 2002.
Catatan tersebut membuat Diego Simeone menjadi pemain pertama dalam sejarah Argentina yang mencapai 100 pertandingan internasional.
Status legendaris itu kini menjadi beban sekaligus motivasi bagi Giuliano yang sedang membangun namanya sendiri.
Mengapa Kehadiran Nico dan Giuliano Bisa Jadi Sejarah Baru Argentina?
Argentina selama sejarah Piala Dunia sangat jarang diperkuat pemain yang lahir di luar negeri. Hingga kini hanya tiga pemain kelahiran luar Argentina yang pernah tampil bersama La Albiceleste di ajang tersebut.
Mereka adalah Pedro Suarez yang lahir di Spanyol dan tampil pada Piala Dunia 1930, Constantino Urbieta Sosa yang lahir di Paraguay pada Piala Dunia 1934, serta Gonzalo Higuain yang lahir di Prancis dan tampil pada Piala Dunia 2010, 2014, serta 2018.
Jika Nico Paz dan Giuliano Simeone masuk skuad Piala Dunia 2026, keduanya akan menciptakan rekor baru. Untuk pertama kalinya Argentina memiliki lebih dari satu pemain kelahiran luar negeri dalam satu turnamen Piala Dunia.
Fakta tersebut menunjukkan perubahan besar dalam cara Argentina membangun tim nasional. Federasi kini lebih aktif menjangkau talenta diaspora yang memiliki garis keturunan Argentina meski lahir dan tumbuh di negara lain.
Strategi Argentina Mencari Talenta Berdarah Argentina di Seluruh Dunia
Sejak restrukturisasi tim nasional pada 2017, Asosiasi Sepak Bola Argentina meningkatkan pencarian pemain berdarah Argentina yang lahir di luar negeri.
Program tersebut bahkan memiliki tim khusus yang bertugas memantau perkembangan talenta diaspora di berbagai negara Eropa.
Koordinator tim nasional usia muda Argentina, Enrique Cesana, menjelaskan proses identifikasi itu dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Menurutnya, banyak pemain muda yang tetap memiliki ikatan emosional kuat dengan Argentina meski tumbuh di negara lain.
“Anak-anak ini lahir di luar negeri, tetapi darah Argentina mengalir dalam tubuh mereka dan mereka bangga menjadi bagian dari Argentina,” ujar Cesana.
Ia juga mengungkapkan banyak pemain yang langsung memilih Argentina ketika ditanya negara mana yang ingin mereka bela.
Bahkan, menurutnya, sejumlah pemain datang dengan aksen Spanyol tetapi pulang dengan identitas Argentina yang semakin kuat.
Argentina kini juga memperluas jaringan pencarian ke Amerika Utara. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi munculnya talenta besar berikutnya yang memiliki akar keluarga Argentina.
Cesana menegaskan federasi tidak ingin kehilangan pemain berbakat seperti yang nyaris terjadi pada Lionel Messi saat masih muda.
Karena itu, pemantauan terhadap pemain diaspora menjadi prioritas penting dalam strategi jangka panjang mereka.
Warisan Keluarga yang Terus Hidup di La Albiceleste
Keluarga Paz dan Simeone termasuk dalam kelompok eksklusif ayah dan anak yang sama-sama mencetak gol untuk tim senior Argentina.
Selain Nico dan Giuliano, ada pula Giovanni Simeone yang telah lebih dahulu memperkuat La Albiceleste di level senior.
Giovanni merupakan putra sulung Diego Simeone yang kini bermain sebagai striker Torino.
Meski belum pernah tampil di Piala Dunia senior, ia pernah membela Argentina pada Piala Dunia U-20 2015 dan mencetak gol pada debut internasional seniornya.
Kini sorotan tertuju kepada Nico Paz dan Giuliano Simeone.
Keduanya menjadi simbol generasi baru Argentina yang ingin meneruskan kejayaan setelah keberhasilan Lionel Messi membawa La Albiceleste menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar.
Jika mereka benar-benar tampil di Piala Dunia 2026, cerita yang dimulai oleh Pablo Paz dan Diego Simeone di Prancis pada 1998 akan menemukan babak baru.
Bukan sekadar soal sepak bola, melainkan kisah warisan darah, mimpi keluarga, dan kebanggaan mengenakan seragam Argentina lintas generasi.
Moch. Rizky Pratama Putra/ JawaPos.com
Editor : Bintang Pradewo