Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Proyek Galian Kabel Semrawut, DPRD Bandung Soroti Kinerja BII

A
Penulis: ARM❯
Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Dr. Uung Tanuwidjaja, S.E., M.M., menilai pihak yang lalai dalam penyelesaian proyek galian kabel harus dikenai sanksi tegas. (Istimewa)
Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Dr. Uung Tanuwidjaja, S.E., M.M., menilai pihak yang lalai dalam penyelesaian proyek galian kabel harus dikenai sanksi tegas. (Istimewa)

Advertisement

JawaPos.com – Pengerjaan proyek Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (IPT) di Kota Bandung yang dinilai semrawut menuai sorotan dari DPRD Kota Bandung. Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Dr. Uung Tanuwidjaja, S.E., M.M., menilai pihak yang lalai dalam penyelesaian proyek tersebut harus dikenai sanksi tegas.

Uung mengatakan, jika terdapat perjanjian kerja yang mengatur kewajiban penyelesaian proyek, maka pihak yang bertanggung jawab harus diberikan sanksi administratif, bahkan bisa dimasukkan ke dalam daftar hitam Pemerintah Kota Bandung.

“Kalau ada perjanjian, pihak yang lalai harus dikenai sanksi. Bisa secara administratif melalui denda per hari, bahkan kalau perlu di-blacklist dari daftar Pemkot Bandung,” ujar Uung.

Advertisement

Menurutnya, kondisi pengerjaan proyek yang tidak rapi tidak hanya merusak keindahan kota dan fasilitas umum, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat, khususnya pengguna jalan.

Ia menilai permasalahan tersebut bisa terjadi karena kurangnya tanggung jawab dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Uung menduga pengerjaan proyek yang dilaksanakan oleh PT Bandung Infra Investama (BII) kemungkinan diserahkan kepada pihak ketiga atau subkontraktor yang tidak memiliki rekam jejak yang baik.

“Bisa jadi pekerjaan diberikan kepada perusahaan subkon yang menawarkan harga sesuai anggaran, tetapi pengawasannya tidak maksimal. Akhirnya pengerjaan di lapangan tidak sesuai standar,” katanya.

Politisi Partai NasDem itu menegaskan, apabila menunjuk pihak ketiga, perusahaan harus memastikan bahwa pihak yang dipilih memiliki spesifikasi unggul dan kemampuan yang memadai agar pekerjaan tidak dilakukan secara asal-asalan.

Selain itu, Uung juga menilai Pemerintah Kota Bandung memiliki kewenangan untuk menegur pihak BII sebagai pemegang proyek. Ia bahkan menyebut kelalaian tidak hanya terjadi pada pelaksana proyek, tetapi juga pada pengawasan.

“Pemkot juga harus melakukan pengawasan lebih ketat. Ketika satu titik terindikasi ada kesalahan, harusnya langsung ditindaklanjuti, bukan menunggu sampai muncul kerusakan di banyak titik dan zonasi,” ujarnya.

Uung menambahkan, Pemkot Bandung sebenarnya telah menempatkan dua orang perwakilan sebagai direksi di perusahaan tersebut. Karena itu, menurutnya, perwakilan tersebut seharusnya lebih aktif dalam melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan proyek.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp dan podcast kami?
WhatsApp
Jawa Pos MetropolitanIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Spotify
Kami Haus GOL KamuBuka Spotify

Dari ruang redaksi ke telinga kamu, inilah Jawa Pos Podcast! Obrolan santai tapi bermakna soal isu terkini, olahraga, hiburan dan kehidupan sehari-hari. Karena setiap cerita layak untuk dibicarakan!


Artikel Terkait

Belanja Pegawai Bandung Sudah 29 Persen, DPRD Dorong Produktivitas dan Dongkrak PAD

Belanja Pegawai Bandung Sudah 29 Persen, DPRD Dorong Produktivitas dan Dongkrak PAD

Kebijakan pemerintah pusat yang membatasi belanja pegawai maksimal 30 persen mulai direspons daerah. Di Kota Bandung, porsi belanja pegawai saat ini tercatat sebesar 29 persen.

Waspadai Cuaca Ekstrem, DPRD Minta Pemkot Bandung Cek Pohon dan Tiang Reklame

Waspadai Cuaca Ekstrem, DPRD Minta Pemkot Bandung Cek Pohon dan Tiang Reklame

Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Bandung, Rieke Suryaningsih, meminta Pemkot Bandung meningkatkan kewaspadaan, khususnya terkait potensi bahaya dari pohon dan tiang reklame.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer