JawaPos.com - Didik Suhartono jadi penggawa domba dorper asal Australia yang kini tersebar di area Malang Raya. Namun, di balik kesuksesan itu, ada kerja keras yang panjang. Termasuk dukungan dari banyak pihak.
Mimpi Didik Suhartono cukup besar. Pemilik D'Berkah Farm itu ingin merangkul teman-temannya untuk bisa bertumbuh bersama lewat peternakan domba.
Di belakang rumahnya, di Jalan Kebobang, Kabupaten Malang, terdapat kandang seluas 18 m x 18 m, tempat 300 domba miliknya diternakkan. Jenisnya variatif, mulai dorper, van rooy, stud, dan awassi. Didik melakukan kawin silang domba luar negeri dengan lokal. Hasilnya, domba dengan kualitas unggul dan daging yang lebih banyak.
Baca Juga: Ayi Subarna Resmi Ditunjuk sebagai Direktur Pengganti Direktur Utama bank bjb
Kini, Didik memiliki 46 mitra yang tergabung dalam Himpunan Peternak Domba Dorsip (HPDD) Joyo Setinggil. Di mitra-mitra tersebut, Didik mengirim domba yang mengandung dan akan melahirkan. Jika sudah melahirkan, anak domba dirawat mitra, sementara induknya dikembalikan keD’Berkah Farm untuk di-breeding kembali. Didik akan mendatangi mitra ketika anak domba di sana sudahsiap panen. Didik pula yang melakukan pemasaran domba tersebut ke pengepul untuk diambil dagingnya dan dipasarkan ke seluruh Indonesia.
’’Satu mitra setidaknya memiliki 20 domba domba dari seluruh mitra mencapai 1.000 ekor. Dalam satu bulan, kami bisa memanen hingga 50 domba. Umumya, satu domba anakan beratnya 25 kg dengan harga daging per kilogramnya sekitar Rp 150 ribu,” ungkap Didik yang juga merupakan ketua HPDD Joyo Setinggil.
Kegiatan tersebut berputar, layaknya siklus. Hingga menjadi passive income yang menjanjikan bagi para mitra. Didik juga mengaku tak kesulitanmenemukan pembeli domba. Bahkan hingga kinipermintaan pasar cukup tinggi. Tak sekadar untuk diolah sebagai konsumsi harian atau menu-menu di rumah makan, namun juga makanan siap saji lainnya seperti sosis.
Bisnis potensial milik Didik mencuri perhatian. Termasuk dari dinas peternakan, pemimpin daerah, kementerian, hingga kunjungan dari luar negeri. Pasokan domba dari peternakan miliknya dan para mitra juga masih sangat dibutuhkan karena tingginya kebutuhan daging domba/kambing di Indonesia.
Belajar Peternakan dari Pengalaman dan Percobaan
Bukan perjalanan mudah, Didik mengakui bahwa perkembangan peternakannya berawal dari mimpi seorang pekerja bengkel. Didik merupakan lulusanSTM jurusan teknik mesin pada 1995. Ilmu peternakanyang dimilikinya bukan dari bangku kuliah. Melainkan pelajaran yang dia dapat dari pengalaman dan percobaan.
Hingga pada 2017, Didik bersama sang istri, Aries Haryani, mencoba membangun kandang domba dorper mereka. Saat itu, Didik juga mendapat kepercayaandari lima mitranya untuk berkembang bersama. Namun, keterbatasan modal membuatnya harusmemutar otak.
’’Titik balik datang ketika saya dan istri mulaiintens berkomunikasi dengan pihak perbankan. Setelah melalui proses panjang sejak 2017, akhirnya pada Maret 2021, bank bjb melalui kantor cabang Surabaya hadir sebagai mitra strategis," tutur Didik saat didatangi tim Jawa Pos di kediamannya.
Dari kandang kecil seluas 5 m x 5 m dengan jumlah domba hanya delapan ekor dan lima orang mitra, Didik berhasil mengembangkannya. Kini kandangnya seluas 18 m x 18 m dengan jumlah domba ratusan ekor, serta 46 mitra. Tiap mitranya kini bisa memperoleh pinjaman modal dari bank bjb denganplafon hingga Rp 100 juta. Melihat kesuksesan dan peluang itu, Didik menargetkan ke depan bakal membangun satu peternakan yang lebih besar lagi.
Tak sekadar pendanaan, bank bjb juga memberikan dukungannya, seperti seminar, studi banding peternak, pertemuan anggota peternak, pendampingan, hinggarelasi intensif. Bahkan, bank bjb juga memberikan bantuan untuk pembangunan musala di desa tempat tinggal Didik.
Tidak hanya tampil sebagai pemberi dana modal, bagi Didik, bank bjb menjadi partner bertumbuh D’Berkah Farm dari peternakan kecil hingga menuaibanyak keuntungan.
’’Bisnis ini bukan untukkepentingan pribadi saya. Namun untuk perkembanganpeternak, khususnya di kabupaten Malang, dan untukmaju bersama seluruh mitra,” pungkasnya.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi