Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Prihatin Bencana Alam di Sumatera, Mantan Rektor UIN Jakarta Singgung Pentingnya Budaya Malu

Hilmi Setiawan • Sabtu, 6 Desember 2025 | 14:31 WIB
Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Amany Lubis. (Dok. UIN Jakarta)
Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Amany Lubis. (Dok. UIN Jakarta)

JawaPos.com - Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Amany Lubis menjadi salah satu pembicara dalam Dialog Kerukunan Lintas Agama di Jakarta (6/12). Dia menyinggung pentingnya budaya malu bagi bangsa Indonesia.

Amany mengatakan bencana alam di Aceh, Sumut, dan Sumbar sejatinya terkait dengan rendahnya budaya malu. "Merusak alam yang katanya demi ekonomi tidak malu. Membakar hutan juga tidak malu," kata guru besar Fakultas Syariah dan Hukum itu.

Seharusnya perusahaan yang mendapatkan izin mengelola hutan, harus bertanggungjawab memeliharanya. Ketika dapat izin membuka hutan, maka harus bertanggungjawab untuk memperbaikinya. Supaya tidak jadi sumber bencana alam.

Amany menegaskan pentingnya penanaman karakter malu kepada bangsa Indonesia. "Khususnya kepada anak-anak muda. Mari meningkatkan budaya malu di semua tingkatan," kata rektor perempuan pertama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. Dengan rasa malu, maka seseorang akan terbiasa untuk bertanggungjawab.

Selain itu Amany juga mengatakan pentingnya karakter bersyukur. Dengan karakter syukur, seseorang tidak akan berlebihan dalam mengejar sesuatu. Termasuk ketika dipercaya mengelola alam. Sebaliknya jika tidak mempunyai rasa syukur, maka akan ugal-ugalan dalam eksploitasi alam.

Dialog Kerukunan Lintas Agama itu juga dihadiri Menag Nasaruddin Umar. Dia mengatakan pentingnya pemahaman ekoteologi. Yaitu sebuah konsep beragama yang selaras dengan alam. Dia mengatakan alam itu juga ciptaan Allah yang harus dijaga.

"Manusia sebagai Khalifah di muka bumi, bertugas menjaga alam," tandansya. Nasaruddin menegaskan bahwa agama dengan kelestarian alam punya hubungan erat. Dia mencontohkan ketika alam rusak dan terjadi bencana, umat menjadi tidak maksimal dalam beribadah.

Khusus untuk bencana di Sumatera, Nasaruddin mengatakan akan terus melakukan pemantauan dan pendataan. Seperti pendataan rumah ibadah yang rusak. Termasuk juga pendataan madrasah yang tersapu aliran banjir bandang.

Acara dialog kerukunan itu juga dihadiri Sekretaris Jenderal Muslim World League Mohammed bin Abdulkarim Al-Issa. Dia menyambut gagasan ekoteologi Indonesia dengan antusias. Dia menilai forum internasional yang mengangkat tema agama dan ekologi masih sangat jarang. Padahal kerusakan lingkungan merupakan ancaman yang dirasakan semua komunitas iman.

“Ketika banjir atau kerusakan ekosistem terjadi, tidak ada satu pun kelompok agama yang terbebas dari dampaknya,” ujarnya. Dia memuji ekoteologi sebagai terobosan penting dalam percakapan global tentang keberlanjutan. 

 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#Menag Nasaruddin Umar #UIN Syarif Hidayatullah jakarta