Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Hasil Patroli Emisi di Jabodetabek, Delapan Perusahaan Terbukti Picu Pencemaran Udara

Hilmi Setiawan • Jumat, 23 Januari 2026 | 13:35 WIB
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (LH) Rasio Ridho Sani paparan patroli emisi di Jakarta (22/1). (Hilmi/Jawa Pos)
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (LH) Rasio Ridho Sani paparan patroli emisi di Jakarta (22/1). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Meskipun Jakarta dan sekitarnya sedang musim hujan, Pemerintah tetap melakukan patroli emisi atau pencemaran udara. Hasilnya ada delapan perusahaan di Jabodetabek yang terbukti melanggar aturan emisi. Sumber emisinya langsung ditutup atau dihentikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup.

Delapan perusahaan atau industri itu adalah PT. MF di Kabupaten Bekasi, PT. BK di KBN Marunda, PT. MG di kawasan JIEP Jakarta Timur, dan PT. KP di Bekasi Fajar Estate. Kemudian PT. RJ di kawasan Jetake, Tangerang, PT. PM di Jababeka II, PT. DK di Cikarang Barat, dan terakhir PT. TK di Kabupaten Tangerang.

Temuan hasil patroli emisi itu disampaikan Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup (LH) Rasio Ridho Sani di kantornya (22/1) sore. Dia menjelaskan ketika musim hujan, udara di Jakarta dan sekitarnya cenderung baik atau sehat.

Pasalnya polutan atau emisi gas buang dari industri langsung turun tersapu air hujan. "Meskipun begitu kami tidak berhenti melakukan patroli emisi saat musim hujan," jelasnya.

Dia menegaskan patroli emisi tetap dijalankan. Sampai akhirnya tim menemukan ada delapan perusahaan atau industri yang melanggar ketentuan emisi atau cemaran udara. "Tim langsung menutup atau menghentikan sumber emisinya," katanya.

Umumnya berupa cerobong asap besar tempat pembuangan asap hasil pembakaran. Asap yang keluar sangat pekat dan tidak sehat. Berpotensi memicu gangguan pernafasan masyarakat ibukota dan sekitarnya.

Dia menegaskan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya ada 17 stasiun pengawasan emisi atau kualitas udara. Rencananya jumlah stasiun itu akan terus ditambah. Supaya bisa lebih efektif memetakan kondisi udara. Khususnya terkait dengan indikator PM 2.5 di udara.

Rasio menjelaskan upaya pengawasan atau patroli emisi harus dijalankan sejak sekarang. Karena tidak lama lagi Jakarta dan sekitarnya masuk musim kemarau. Ketika sudah berada di musim kemarau, cemaran udara sangat mudah dirasakan masyarakat. Karena polutan atau emisi mengambang dalam waktu yang lama di udara.

"Mulai April atau Mei biasanya (polusi) cenderung naik," jelasnya. Dia mengingatkan kepada industri atau perusahaan untuk mematuhi ketentuan emisi. Supaya proses usaha mereka tidak mencemari udara dan lingkungan. Karena dampaknya bisa negatif untuk kesehatan masyarakat. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#pencemaran udara