JawaPos.com – Sebagai ibu kota negara yang telah menjadi saksi atas banyak peristiwa penting, Jakarta menyimpan banyak jejak sejarah yang masih bisa dilihat, bahkan digunakan, hingga saat ini. Salah satunya adalah masjid, bangunan yang menjadi saksi sejarah dan masih tetao digunakan sebagai tempat ibadah. Diantaranya yang paling terkenal adalah Masjid Istiqlal.
Mengutip dari laman Wonderful Indonesia, Masjid Istiqlal yang terletak di Jakarta Pusat, merupakan salah satu ikon nasional yang memadukan nilai sejarah, arsitektur, dan keberagaman. Dengan kapasitas masjid yang bisa menampung sampai 200.000 jamaah, Masjid Istiqlal menjadi masjid yang terbesar di Asia Tenggara. Tidak sampai disitu, setelah selesai dibangun pada 1978, Masjid Istiqlal masih beroperasi setiap harinya hingga saat ini, sebagai tempat ibadah sekaligus pusat kegiatan sosial dan ekonomi umat muslim.
Selain Masjid Istiqlal, Jakarta memiliki beberapa masjid lain yang juga memiliki keunikan sendiri. Masjid-masjid tersebut masih sering menerima kunjungan, bukan hanya dari umat yang ingin beribadah, tetapi juga dari wisatawan yang tertarik melihat arsitektur maupun belajar sejarahnya. Berikut adalah 7 masjid di Jakarta yang sering menjadi tujuan wisata religi karena keunikannya.
Baca Juga: 7 Aktivitas Ngabuburit Seru di Jakarta, Dari Olahraga di GBK hingga Berburu Takjil
-
Masjid Lautze dengan arsitekturnya yang bergaya Tionghoa
Tidak begitu jauh dari Masjid Istiqlal, di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, terdapat satu masjid yang sudah cukup terkenal karena keunikan arsitekturnya. Didirikan oleh Yayasan Haji Karim Oei, bangunan Masjid Lautze didominasi oleh warna kuning cerah dan merah di beberapa sisi dengan atap berkelok khas kuil Cina. Berawal dari sejarah pahit diskriminasi etnis, Masjid Lautze menjadi salah satu monumen simbol toleransi dan kolaborasi antar etnis di Jakarta.
-
Masjid Jami’ Al-Anwar (Masjid Angke)
Masjid Jami’ Al-Anwar, atau yang biasa dikenal dengan Masjid Angke, juga terkenal unik karena perpaduan arsitekturnya. Bangunannya merupakan kombinasi dari berbagai elemen budaya, mulai dari Jawa, Bali, China, hingga sentuhan arsitektur Belanda. Sudah berdiri lebih dari 250 tahun, masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di wilayah Jakarta. Karena hal-hal tersebut, pada tahun 2017, Pemerintah DKI Jakarta menjadikan Masjid Angke sebagai Cagar Budaya.
Baca Juga: Lapangan Padel Menjamur, 185 Belum Kantongi PBG dari Pemprov DKI
-
Masjid Ramlie Mustofa dengan Desain Bangunan Mirip Taj Mahal
Mulai dibangun pada 2011 dan rampung pada 2016, Masjid Ramlie Mustofa didirikan oleh keluarga Ramli Rasidin tepatnya di daerah Sunter, Jakarta Utara. Tidak hanya bangunannya yang dibuat menyerupai Taj Mahal, ornamen masjid ini juga merupakan gabungan dari tiga budaya, yaitu Melayu, Arab, dan Tionghoa. Keindahan bangunan masjid inilah yang membuat banyak orang memilih banyak orang memilih Masjid Ramlie sebagai tempat ijab kabul atau foto pra pernikahan.
-
Masjid dengan atap tinggi menjulang, Masjid At-Taufiq
Berada di wilayah Jakarta Selatan, Masjid At-Taufiq juga menjadi salah satu masjid yang sering menjadi destinasi wisata religi karena memiliki keunikan tersendiri. Karakteristik utama yang menjadi pembeda pada masjid ini adalah pada bangunannya yang lebih menyerupai bangunan tradisional Indonesia. Selain itu, atap Masjid At-Taufiq dibuat menjulang seperti bangunan adat khas Minangkabau, berbeda dengan masjid pada umumnya yang memiliki atap kubah.
Selain bentuk bangunan dan atapnya, pemisahan fungsi antara lantai 1 dan lantai 2 juga mencerminkan filosofi “Hablum Minannas, Hablum Minallah”. Penggunaan lantai 1 berpedoman pada prinsip “Hablum Minannas”, yang berarti hubungan antar manusia, difungsikan untuk toilet, tempat wudhu, auditorium, dan ruang management. Sedangkan, lantai 2 difungsikan sebagai tempat peribadatan utama, sebagaimana arti dari “Hablum Minallah”, hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya.
-
Masjid bekas bangunan kolonial Belanda, Masjid Cut Meutia
Masjid Cut Meutia terletak di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Bangunan masjid ini merupakan salah satu peninggalan dari era kolonial Belanda. Saat baru berdiri pada 1912, bangunan masjid ini merupakan gedung perkantoran, Gedung NVDE Bauplo.
Sebelum difungsikan sebagai tempat peribadatan umat muslim, bangunan masjid ini lebih dulu dipergunakan sebagai kantor pos, Kantor Jawatan Kereta Api Belanda, serta sebagai Kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang. Setelah masa pendudukan Jepang berakhir, bangunan ini beralih fungsi menjadi Kantor Urusan Agama dan pada 1965 dialihkan menjadi Kantor MPRS. Barulah setelah 1987 bangunan ini difungsikan sebagai Masjid Cut Meutia.
Baca Juga: Ingin Ikutan Tren Padel? Yuk Simak 7 Tips Olahraga Padel Saat Puasa di Bulan Ramadhan
-
Masjid Agung Al-Munada Darussalam Baiturrahman
Masjid Agung Al-Munada Darussalam Baiturrahman yang terletak di Menteng, Jakarta Selatan, lebih akrab disebut dengan Masjid Perahu. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh KH. Qoshim Abdurrahman Mashum dan KH. Abdurrahman Amin sekitar tahun 1963. Bentuk bangunan yang menyerupai perahu ini juga merupakan ide para pendiri yang terinspirasi dari kisah Nabi Nuh dengan bahteraNya.
Selain keunikan berupa perahu yang dibangun seakan menyatu dengan masjid, Masjid Agung Al-Munada Darussalam Baiturrahman juga memiliki beberapa keunikan lain. Di area masjid berdiri empat tiang yang masing-masing melangbangkan tingkatan kesufian dengan ukiran asma Allah SWT dan Rasulullah di dua tiang depan. Selain itu, Masjid Agung Al-Munada Baiturrahman juga memiliki koleksi lain, seperti Al-Quran raksasa serta batu-batuan alam yang semakin menarik minat wisatawan untuk berkunjung.
Baca Juga: PIM 5 Baru Saja Grand Opening, Apa Sih Bedanya PIM 1–5?
Secara keseluruhan, keenam masjid di atas telah memperlihatkan ragam budaya yang ada di Jakarta dan pengaruhnya untuk satu sama lain. Keunikan bangunan setiap masjid menjadi jejak sejarah yang telah dilalui. Latar belakang budaya dan sejarah itulah yang menjadi daya tarik tersendiri untuk masjid-masjid tersebut menjadi destinasi wisata religi.
Editor : Bintang Pradewo