Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Diskusi Good Talk Soroti Pentingnya Komunikasi Empatik dalam Penanganan Bencana

Yogi Wahyu Priyono • Rabu, 17 Desember 2025 | 20:58 WIB
Diskusi publik bertajuk “Komunikasi Bencana: Merespon Bencana Dengan Tepat dan Empatik” di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Rabu (17/12).
Diskusi publik bertajuk “Komunikasi Bencana: Merespon Bencana Dengan Tepat dan Empatik” di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Rabu (17/12).

JawaPos.com — Acara Good Talk off air hasil kolaborasi GoodNews From Indonesia, Perhumas, dan Dompet Dhuafa menggelar diskusi publik bertajuk “Komunikasi Bencana: Merespon Bencana Dengan Tepat dan Empatik” di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Rabu (17/12).

Diskusi ini menjadi ruang refleksi bersama atas berbagai persoalan komunikasi dalam penanganan bencana yang kerap terjadi di Indonesia. Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda, yakni Dr. Muhammad Hidayat selaku pakar komunikasi bencana dan dosen LSPR, Udhi Tri Kurniawan sebagai Ketua Disaster Crisis Center Dompet Dhuafa, serta Ahmad Arif, jurnalis senior Kompas. Ketiganya memaparkan pandangan kritis terkait peran komunikasi, koordinasi, dan sensitivitas dalam merespons situasi bencana.

Dr. Muhammad Hidayat menekankan bahwa komunikasi merupakan fondasi utama dalam penanganan bencana. Menurutnya, respons bencana yang efektif hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak yang terlibat mampu membangun komunikasi yang baik dan saling terhubung.

“Dalam menghadapi bencana itu perlu adanya sinkronisasi antara komunikasi, kolaborasi, dan koordinasi. Sejauh ini, itu masih belum dijalankan dengan baik di sini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi peringatan dini dalam konteks mitigasi bencana. Menurut Hidayat, informasi peringatan dini yang disampaikan secara jelas, cepat, dan akurat akan membantu masyarakat mengambil langkah antisipatif sehingga risiko korban dapat diminimalkan sejak awal.

Selain itu, Hidayat menilai komunikasi bencana tidak hanya sebatas penyampaian informasi teknis, tetapi juga harus mengedepankan empati. Cara penyampaian pesan yang manusiawi dan sensitif terhadap kondisi korban dinilai sangat menentukan tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah maupun lembaga penanganan bencana.

Sementara itu, Udhi Tri Kurniawan mengungkapkan sejumlah tantangan utama dalam penanganan bencana saat ini. Ia menyebut penyebaran informasi hoaks, tidak sinkronnya distribusi bantuan, serta minimnya sensitivitas sebagian pejabat publik sebagai persoalan yang terus berulang di lapangan.

“Belakangan ini kalau saya perhatikan justru pemerintah terlihat beroposisi bukan lagi dengan masyarakat, tapi juga dengan realitas. Sebab belakangan ini seringkali yang disampaikan tidak terjadi dengan yang di lapangan, ” tegasnya.

Kemudian selanjutnya Ahmad Arif juga menilai bahwa situasi penanganan bencana belakangan ini justru menunjukkan kemunduran jika dibandingkan dengan pengalaman dirinya di masa lalu.

“Saya mengalami tsunami aceh 2004. Lalu bisa saya bilang situasi saat ini jauh lebih buruk dari segala aspek bantuan dasar bahkan dibanding dengan bencana Aceh tahun 2004,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ahmad Arif menekankan bahwa bencana alam bukanlah akar utama permasalahan. Ia menyebut bencana sebagai siklus yang tidak terhindarkan mengingat posisi geografis Indonesia. Oleh karena itu, ia menilai pemerintah seharusnya lebih sadar dan siap dalam menghadapi bencana, terutama melalui upaya pencegahan dan kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi, bukan hanya berfokus pada respons setelah bencana melanda. (Nadya Amalia Meilani)

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#dompet dhuafa