Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Cegah Kehancuran Bangsa, Romo Bei Ingatkan Pentingnya Integrasi Pendidikan Karakter di Kurikulum Pembelajaran

Hilmi Setiawan • Rabu, 28 Januari 2026 | 08:00 WIB
Direktur Perkumpulan Strada Romo Odemus Bei Witono (kiri) menyampaikan pentingnya pendidikan karakter dalam peluncuran buku 50 Tahun Tak Lekang Dimakan Waktu di Jakarta (27/1). (Hilmi/Jawa Pos)
Direktur Perkumpulan Strada Romo Odemus Bei Witono (kiri) menyampaikan pentingnya pendidikan karakter dalam peluncuran buku 50 Tahun Tak Lekang Dimakan Waktu di Jakarta (27/1). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Proses pembelajaran tidak boleh hanya mengutamakan aspek pengajaran mata pelajaran saja. Tetapi juga harus menekankan aspek pendidikan kurikulum. Bahkan pendidikan karakter harus bisa diintegrasikan di dalam kurikulum pembelajaran yang sedang berjalan.

Pentingnya aspek pendidikan karakter itu disampaikan Direktur Perkumpulan Strada Romo Odemus Bei Witono (kiri) menyampaikan pentingnya pendidikan karakter dalam peluncuran buku Tak Lekanh Dimakan Waktu di Jakarta (27/1). Buku ini merekam 50 tahun hadirnya Yayasan Toyota dan Astra di Indonesia. Dia menegaskan pendidikan karakter perlu diintegrasikan di kurikulum.

"Tanpa ada integrasi itu, maka pendidikan akan menyiapkan kehancuran bangsa," jelasnya. Romo Bei mengatakan banyak negara yang berhasil jadi negara maju, karena menekankan aspek pendidikan karakter.

"Diantaranya adalah Jepang yang punya karakter seperti ikan salmon atau ikan tuna," jelasnya. Karakter tersebut adalah selalu bergerak dan berjalan cepat.

Menurut dia karakter itu mengandung dua arti. Yaitu kemampuan menghitung dengan cermat dan tau arah yang akan dituju. Dengan karakter tersebut seseorang bisa mengetahui apa saja potensi dan kekurangannya. Kemudian memahami mengarahkan potensinya itu ke titik yang dituju.

Kegiatan bedah buku itu juga dihadiri pemerhati pendidikan Doni Koesoema. Dalam kesempatan itu dia menyampaikan tantangan lain di dunia pendidikan. Yaitu kondisi yang dialami sekitar 12 ribu SMK di seluruh Indonesia. Seperti diketahui SMK adalah pendidikan vokasional yang mencetak SDM terampil.

"Ironisnya ada sekitar 12 ribu SMK yang tidak punya tempat praktik memadai," katanya. Padahal keberadaan tempat praktik yang memadai itu sangat penting untuk mencetak lulusan SMK yang terampil. Misalnya SMK keahlian otomotif, idealnya punya bengkel untuk praktik. Begitupun dengan keahlian lainnya.

"Di sekitar 12 ribuan SMK itu, ada sekitar 3 juta siswa yang belajar di dalamnya," tuturnya. Dia berharap negara memperhatikan tantangan yang ada di SMK itu.

Tantangan lainnya ada kecenderungan anak masuk SMK sebagai pilihan terakhir, karena tidak diterima di SMA umum. Selain itu pemerintah juga harus lihat mengelola anggaran pendidikan, di tengah program makan bergizi gratis (MBG) yang membutuhkan anggaran jumbo. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#Romo Odemus Bei Witono