Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Kemendiktisaintek Dorong Integrasi Fisika Kuantum ke Kurikulum Nasional

Zalzilatul Hikmia • Selasa, 14 Oktober 2025 | 06:14 WIB

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Yudi Darma (kiri) dan Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB Andriyan B. Suksmono.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek Yudi Darma (kiri) dan Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB Andriyan B. Suksmono.

JawaPos.com – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kuantum dunia, Indonesia justru belum banyak kemajuan. Minimnya sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur pendidikan membuat Indonesia seolah tak siap menyongsong revolusi kuantum 2.0 yang kian dekat.

Guru Besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB) Andriyan B. Suksmono mengamini soal minimnya SDM dan infrastruktur di bidang kuantum tersebut. Menurut dia, Indonesia harus segera memiliki roadmap pengembangan SDM kuantum agar tak semakin tertinggal.

“Kita harus memikirkan hal ini secara serius,” ujarnya dalam acara bertema “The Spirit of Quantum” di Jakarta, dikutip Senin (13/10).

Dalam pengembangan SDM ini, Andriyan turut menekankan soal dukungan pemerintah melalui pembiayaan pendidikan maupun riset. Baik itu melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atau Beasiswa Sumberdaya Sains dan Wirausaha (BSSW). Sehingga, banyak pelajar yang bisa dikirim ke luar negeri untuk belajar teknologi kuantum ini.

Tak hanya SDM, infrastruktur riset kuantum juga menjadi kunci penting. Alumnus Universitas Tokyo ini menyebut, laboratorium dan fasilitas penelitian yang memadai sangat dibutuhkan untuk riset terkait kuantum. Meski diakuinya, untuk mencapai hal ini, butuh investasi yang tidak sedikit

“Sebenarnya semua negara juga belum final dalam penguasaan teknologi ini. Tapi bukan berarti kita harus menunggu. Sekarang saatnya kita menyiapkan fondasi agar tidak tertinggal lagi,” tegasnya.  

Baca Juga: UMP 2026 Pasti Naik? Begini Kata Menaker

Pandangan serupa disampaikan Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kemendiktisaintek, Yudi Darma. Ia mengakui, hingga kini Indonesia belum memiliki perguruan tinggi yang secara khusus fokus pada pendidikan fisika kuantum.

“Kalau mau jujur, jurusan yang dengan klir mengatakan prodinya bernama (fisika) kuantum, kayaknya belum ada ya,” ujarnya.

Ia pun turut menyayangkan hal ini. Sebab, sejumlah negara seperti Rusia, Tiongkok, Singapura, hingga Thailand telah memiliki jurusan yang cukup penting di masa depan. Terlebih, dengan perkembangan teknologi yang kian pesat saat ini.

Karena itu, pihaknya bersama para fisikawan nasional menggagas Indonesian Quantum Initiative (IQI). Harapannya, dapat mengembangkan keilmuan fisika kuantum di Indonesia. IQI pun telah membuat Peta Jalan Fisika Kuantum yang mencakup pengembangan SDM dan infrastruktur dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Di sisi lain, ia pun mendorong adanya upaya integrasi dasar-dasar fisika kuantum ke kurikulum nasional. Dengan begitu, para murid bisa lebih dini mengenal dasar-dasar ilmu ini sebagaimana materi coding dan kecerdasan buatan (AI). “Ini tentunya policy dari Kemendikdasmen nanti, tapi kita terus mendorong,” tuturnya.

Diharapkan integrasi ini dapat dilaksanakan segera seperti di sejumlah negara maju. Di mana, fisika kuantum telah diajarkan sejak level SMA. “Di beberapa sekolah di Indonesia ada juga yang telah menjadikan fisika kuantum dan robotika menjadi ekstrakurikuler dan kokurikuler unggulan,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya pun telah menyiapkan sejumlah program lainnya untuk bisa membumikan sains di tengah masyarakat. Salah satunya, memfasilitasi berbagai macam aktivitas diseminasi serta pemanfaatan sains dan teknologi yang dilakukan oleh Perguruan Tinggi kepada pemangku kepentingan, khususnya masyarakat. (mia/oni)

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#fisika #Kemendiktisaintek