JawaPos.com – Departemen Pariwisata Filipina (Philippine Department of Tourism/PDOT) terus memperkuat eksistensinya di pasar Indonesia. Upaya tersebut diwujudkan melalui partisipasi dalam dua ajang pariwisata bergengsi, yakni ASTINDO Travel Fair dan TTC Travel Mart 2026 yang berlangsung pada 5-11 Februari 2026.
Kehadiran PDOT di dua agenda besar ini dinilai strategis, terlebih bertepatan dengan momentum ASEAN Chairmanship Year, sekaligus menjadi langkah konsisten Filipina untuk menjaga daya tariknya di mata wisatawan Indonesia.
Rangkaian partisipasi ini merupakan langkah proaktif PDOT dalam memperkenalkan paket wisata unggulan (signature packages) yang dikembangkan melalui program Joint Promotions Campaigns. Melalui program tersebut, Filipina ingin memperluas jangkauan promosi sekaligus meningkatkan minat wisatawan Indonesia terhadap berbagai destinasi andalannya.
Pada ASTINDO Travel Fair yang digelar 5–8 Februari 2026 di ICE BSD, Kota Tangerang Selatan, PDOT menyapa langsung konsumen melalui booth seluas 36 meter persegi. Di area pameran, PDOT menghadirkan sejumlah mitra agen perjalanan untuk memasarkan paket wisata ritel ke berbagai destinasi ikonik Filipina, seperti Boracay Island di Aklan, El Nido Palawan, hingga wisata sejarah di Intramuros, Manila.
Usai menyasar konsumen ritel, PDOT melanjutkan agenda business-to-business (B2B) melalui TTC Travel Mart 2026 yang digelar di dua kota. Pertemuan pertama berlangsung di Redtop Hotel and Convention Center, Jakarta, pada 9 Februari 2026, kemudian dilanjutkan di JW Marriott Hotel, Surabaya, pada 11 Februari 2026.
Forum ini dirancang dengan konsep dialog langsung tanpa sistem janji temu, sehingga membuka ruang kolaborasi yang lebih dinamis antara pelaku industri pariwisata Filipina dan Indonesia.
Delegasi Filipina dipimpin langsung oleh Gwendolyn S. Batoon, selaku Attache II and Head of ASEAN Markets - Office of Market Development. Dia menegaskan bahwa kehadiran PDOT di Indonesia merupakan bagian dari strategi berkelanjutan untuk memberikan pembaruan produk dan layanan pariwisata, termasuk destinasi yang ramah bagi wisatawan Muslim.
’’Kami mempromosikan Filipina melalui berbagai jalur, mulai dari agen perjalanan online, agen di pusat perbelanjaan, hingga pameran pariwisata di sekitar Jakarta,’’ kata Gwendolyn di ICE BSD, Kamis (5/2).
Dia juga mengungkapkan karakteristik wisatawan Indonesia yang unik. Wisatawan asal Surabaya, misalnya, lebih suka terbang ke Manila melalui Bali karena dinilai lebih murah. "Makanya rute tersebut sering penuh," tuturnya.
Untuk meningkatkan daya tarik, PDOT kini gencar mengembangkan wisata halal. Pemerintah Filipina menyiapkan fasilitas pendukung mulai dari destinasi ramah Muslim, makanan halal, hingga kemudahan akses beribadah. Langkah ini sejalan dengan pertumbuhan wisatawan Muslim, khususnya di kawasan ASEAN.
"Kami menyadari pertumbuhan wisatawan Muslim sangat besar. Karena itu, wisata halal menjadi salah satu fokus kami," jelas Gwendolyn.
Meski dikenal memiliki beragam kuil Taoisme dan kekayaan budaya, Filipina juga menonjolkan pesona alamnya yang dinilai masih sangat diminati wisatawan Indonesia. "Banyak negara menawarkan volcano trekking. Kami justru ingin menunjukkan kekayaan alam Filipina yang lain, yang tak kalah menarik dan layak dikunjungi," ujarnya.
Melalui integrasi promosi konsumen dan penguatan kerja sama bisnis ini, PDOT optimistis jumlah kunjungan wisatawan asal Indonesia ke Filipina akan terus meningkat. Dengan kekayaan budaya, keramahan masyarakat, serta kemudahan akses antar-pulau, Filipina siap menjadi salah satu destinasi pilihan utama bagi wisatawan Indonesia.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi