JawaPos.com – Fenomena “krisis ojol” sedang ramai dibahas di platform media sosial seperti X dan Instagram. Isu ini mulai naik sejak memasuki bulan Ramadhan. Banyak warga net, khususnya yang tinggal di daerah perkotaan seperti Jakarta, mengeluhkan sulitnya mendapatkan ojek online, terlebih saat menjelang waktu berbuka puasa.
Awalnya, keluhan terkait hal tersebut muncul dalam beberapa unggahan di media sosial yang kemudian menjadi viral dan memicu percakapan luas. Unggahan-unggahan tersebut memuat tangkapan layar disertai cuitan tentang pengalaman mereka yang tidak bisa mendapatkan driver saat ingin memesan makanan maupun saat membutuhkan transportasi untuk bepergian. Bahkan beberapa tangkapan layar menunjukkan pemberitahuan tidak ada driver tersedia atau aplikasi tengah gangguan.
Cerita warganet Sulit mendapat Driver
Baca Juga: Olahraga Kekinian yang Sedang Digemari Anak Muda Jakarta
Banyak warganet mengunggah di media sosial terkait pengalaman tidak mengenakkan yang mereka alami saat ingin menggunakan layanan ojek online selama bulan Ramadhan ini. Dalam salah satu unggahan dari akun @txtfrombrand di platform X, pengguna membagikan tangkapan layar saat pesanan yang telah ditunggu lama dibatalkan tanpa konfirmasi. Tidak sampai disitu, saat pengguna ingin melakukan pemesanan ulang, tidak ada driver ojol tersedia untuk mengambil pesanannya.
Keluhan lain juga datang dari akun @peunat_ yang menyebutkan terkait sulitnya mendapat driver ojol di waktu belakangan. Ini berbanding terbalik dengan argo yang justru semakin mahal. Kedua postingan ini memperoleh banyak perhatian dari warganet yang terlihat dari jumlah like dan komentar yang ditinggalkan.
Lebih sulit mendapat driver saat Rush Hour
Fenomena “krisis ojol” ini lebih sering terjadi pada waktu-waktu tertentu selama bulan Ramadhan. Waktu yang paling sering disebut adalah menjelang berbuka puasa, sekitar waktu sore menjelang Maghrib. Pada waktu tersebut, permintaan transportasi cenderung meningkat karena terjadinya rush hour, atau jam sibuk waktu pulang kerja.
Mengutip dari unggahan akun Instagram @jakarta.terkini, data menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat Jakarta meningkat saat memasuki waktu sore selama bulan Ramadhan. Disebutkan bahwa puncak mobilitas terjadi sekitar waktu 16.00-18.00 WIB dengan peningkatan mencapai 30-50% dari waktu normal. Lonjakan aktivitas ini terjadi di kawasan perkantoran seperti Sudirman, Thamrin, dan Kuningan.
Ketika permintaan meningkat drastis dalam waktu bersamaan, jumlah driver yang aktif tidak selalu bertambah. Sistem aplikasi biasanya akan berusaha mencocokan calon penumpang dengan driver terdekat. Namun, jika permintaan yang masuk jauh lebih besar dari jumlah driver yang tersedia, proses pencocokan tersebut akan menjadi lebih sulit.
Tanggapan driver tentang jalur Red Zone dan mematikan aplikasi saat menjelang waktu berbuka
Selain karena faktor permintaan yang melonjak, kemacetan parah yang sering melanda Jakarta juga menjadi faktor. Saat jam sibuk seperti waktu-waktu pulang kerja dan menjelang berbuka puasa, terdapat zona merah kemacetan yang biasanya akan dihindari untuk diambil oleh ojol. Hal ini karena banyak driver yang menganggap bahwa waktu yang dibutuhkan untuk menempuh rute di zona tersebut, tidak sebanding dengan tarif yang diberlakukan.
Selain karena mengurasi efisiensi kerja pengemudi ojol, diskusi di media sosial juga mengungkap beberapa alasan lain yang menyebabkan terjadinya “krisis ojol”. Beberapa warganet yang berprofesi sebagai driver ojol mengungkapkan bahwa seringnya, mereka mematikan aplikasi sekitar 30 menit sebelum berbuka. Berkurangnya jumlah driver ojol yang tersedia semakin mempersulit pelanggan untuk menemukan pengemudi yang mau mengambil orderannya.
Pada saat-saat tertentu, seperti ketika hujan deras melanda, banyak driver juga lebih memilih customer yang akan dilayani. Hal ini karena banjir yang sering melanda banyak kawasan di Jakarta memperparah kondisi lalu lintas. Selain itu, driver juga menghindari kawasan banjir karena dapat berpotensi kerusakan pada mesin kendaraan.
Baca Juga: Buka Puasa Fancy di Hotel Jakarta, Ini DiaPilihan Iftar Buffet yang Bisa Dicoba
Fenomena “krisis ojol” ini juga menimbulkan dampak konflik antara driver ojol dengan pengguna aplikasi. Hal ini karena umumnya penumpang yang merasa kurang puas terhadap pelayanan driver dan performa platform, akan memberikan rating rendah pada driver tersebut. Sedangkan driver ojol, yang sangat bergantung pada rating, sering merasa tersinggung akan rating tersebut.
Percakapan di media sosial telah menunjukkan bahwa berbagai faktor jadi penyebab sulitnya pelanggan untuk mendapatkan driver ojek online akhir-akhir ini. Mulai dari lonjakan permintaan, jeda waktu berbuka puasa, hingga kemacetan parah dan banjir membuat driver ojol lebih memilih orderan yang akan diambil. Warga menghimbau perusahaan penyedia jasa untuk segera mengambil tindakan, kebijakan yang bisa meningkatkan kinerja driver, agar konflik driver dan customer tidak sering terjadi dan masyarakat dapat beraktivitas kembali dengan nyaman.
Editor : Bintang Pradewo