Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Punya Hak yang Sama, Anak-Anak Disabilitas Perlu Didukung untuk Berkreasi

Hilmi Setiawan • Jumat, 12 Desember 2025 | 13:37 WIB
Gelaran pertunjukan Dunia Tanpa Batas sebagai dukungan untuk anak-anak disabilitas dan keteguhan perempuan di Jakarta (10/12) malam.
Gelaran pertunjukan Dunia Tanpa Batas sebagai dukungan untuk anak-anak disabilitas dan keteguhan perempuan di Jakarta (10/12) malam.

JawaPos.com - Memperingati hari disabilitas internasional, Yayasan Sekar Ayu menggelar pertunjukan Dunia Tanpa Batas di Jakarta (10/12) malam. Lewat pertunjukan itu, mereka ingin mengirim pesan bahwa anak-anak disabilitas punya hak yang sama untuk berkreasi dan berprestasi.

Pendiri sekaligus pembina Yayasan Sekar Ayu Emi Wiranto menyampaikan harapannya agar kegiatan Dunia Tanpa Batas tidak berhenti sebagai perayaan sesaat. Tetapi menjadi gerakan berkelanjutan.

“Harapan saya sederhana sekaligus besar. Semoga setelah acara ini, kita semua, orang tua, komunitas, pelaku budaya, dan pemerintah, lebih peka dan mau membuka ruang," kata Emi dalam keterangannya (12/12). Menurut dia anak disabilitas berhak memiliki panggung untuk menunjukkan prestasinya.

Selain itu ibu-ibu yang mendampingi anak-anak disabilitas berhak mendapatkan apresiasi. "Hari ini kita bisa bertemu dalam satu ruang yang penuh cinta dan kebanggaan. Saya percaya Indonesia bisa terus melangkah menuju dunia yang benar-benar tanpa batas,” tandas Emi yang juga dikenal sebagai pegiat budaya dan sosial kemanusiaan itu.

Pertunjukan Dunia Tanpa Batas itu terselenggara melalui kerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA). Dalam berbagai kesempatan, Menteri PPPAArifatul Choiri Fauzi menegaskan komitmennya terhadap pemenuhan hak perempuan dan anak. Termasuk anak disabilitas, melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Salah satu momen yanh mengharukan dalam Dunia Tanpa Batas adalah penganugerahan penghargaan kepada ibu Inspiratif. Penghargaan ini diberikan kepada para ibu yang selama ini mendampingi anak disabilitas berprestasi.

Penghargaan itu lahir dari kesadaran bahwa di balik setiap capaian seorang anak disabilitas, selalu ada sosok ibu yang dengan sabar mengantar terapi. Serta bernegosiasi dengan sistem pendidikan dan menjadi sumber keberanian di rumah.

Ketua panitia Dunia Tanpa Batas Aylawati Sarwono menekankan bahwa acara itu dirancang bukan sekadar menjadi tontonan. Tetapi pengalaman bersama yang mengajak publik untuk melihat disabilitas dengan cara pandang yang baru.

“Kita ingin pengunjung mal yang kebetulan lewat, keluarga yang datang bersama anak-anak, maupun komunitas perempuan dan disabilitas merasakan bahwa inklusi itu konkret," jelasnya. Dia mengatakan ketika penari tuna rungu, musisi tuna netra, dan model disabilitas berbagi panggung dengan figur publik, di situ publik melihat Indonesia yang adil, setara, dan saling menguatkan.

Sendang Wangi selaku praktisi SDM dan pegiat budaya menggarisbawahi pentingnya dukungan sistemik agar semangat inklusi tidak berhenti pada satu event. Dari perspektif pengembangan manusia, anak disabilitas dan keluarganya membutuhkan ekosistem yang mendukung.

"Mulai dari sekolah, lingkungan, sampai kebijakan publik," jelasnya. Menurut dia kegiatan Dunia Tanpa Batas adalah contoh kecil bagaimana komunitas budaya, pemerintah, dan dunia usaha bisa berkolaborasi menghadirkan ruang aman dan bermakna. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#disabilitas