JawaPos.com – Kabar baik bagi anak kereta (anker) di Jakarta dan sekitarnya. Dua stasiun legendaris di Jakarta berhasil ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Total di seluruh Indonesia ada 85 sertifikat Cagar Budaya Peringkat Nasional yang tersebar di 27 provinsi.
Penetapan Cagar Budaya Peringkat Nasional itu dilaksanakan di Jakarta (16/12) malam dalam acara Apresiasi Cagar Budaya Peringkat Nasional (ACBPN) 2025. Total ada 85 sertifikat untuk 85 cagar budaya di 27 provinsi yang dikeluarkan panitia.
Khusus untuk di Provinsi Jakarta ada tiga cagar budaya yang ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. Yaitu Stasiun Kereta Api Tanjung Priok, Stasiun Kereta Api Jakarta Kota, dan Arca Puspatara Nomor Inventaris BG 125. Untuk diketahui dua stasiun kereta api itu mempunya sejarah panjang untuk Jakarta.
Stasiun Kereta Api Tanjung Priok dibangun dalam dua fase. Untuk fase pertama dibangun pada tahun 1885 silam. Selanjutnya pembangunan fase kedua dengan menggunakan ornament atau gaya art deco dilaksanakan pada 1924-1925 yang lalu.
Sementara itu untuk Stasiun Jakarta Kota atau yang dulu dikenal BEOS dibangun dan direnovasi besar-besaran pada 1926 silam. Stasiun Jakarta Kota menggantikan stasiun Batavia lama yang bernama Batavia Nord dan Batavia Zuid.
Cagar budaya lain disekitar Jakarta yang mendapatkan penghargaan adalah Prasasti Batu Tulis dan Museum Zoologi Bogor di Kota Bogor. Kemudian juga Gedung Juang 45 Bekasi di Kabupaten Bekasi. Selain itu ada Bendung Lama Pamarayan di Kabupaten Serang.
Penetapan penghargaan Cagar Budaya Nasional itu dipimpin langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Secara khusus dia mengapresiasi peran aktif pemerintah daerah dalam pengusulan dan pelestarian cagar budaya. dia menegaskan bahwa kerja sama antara pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan pemerintah pusat merupakan kunci keberhasilan penetapan serta pelestarian cagar budaya.
Fadli juga menekankan pentingnya memaksimalkan pendataan cagar budaya melalui kerja sama dengan Tim Ahli Cagar Budaya. Langkah ini dinilai dapat meningkatkan efektivitas dan kecepatan pendataan cagar budaya nasional.
’’Ke depan, kita bisa menambah jumlah Tim Ahli Cagar Budaya tingkat nasional agar pencatatan cagar budaya bisa lebih cepat,’’ katanya.
Politisi Partai Gerindra itu mengatakan, mereka memerlukan pendekatan multidisipliner, melibatkan arkeolog, antropolog, geolog, geografer, arsitek, dan para ahli lainnya. Dia menambahkan bahwa penetapan cagar budaya sejalan dengan upaya Kementerian Kebudayaan dalam melestarikan, mengembangkan, dan memanfaatkan budaya nasional.
Menurutnya, apabila dikelola secara maksimal, budaya Indonesia dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan.
’’Cagar budaya berada di hulu industri budaya. Sementara hilirnya adalah ekonomi kreatif, intellectual property, UMKM, kuliner, dan sektor terkait lainnya. Kekayaan budaya dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan,” jelasnya.
Fadli menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dia mencontohkan praktik di berbagai negara yang melibatkan sektor swasta melalui skema public-private partnership dalam pemanfaatan cagar budaya. Seperti pengembangan restoran, coffee shop, hingga produk merchandise.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi