JawaPos.com – Bencana banjir yang menerjang Kota Bekasi mulai Senin malam (3/3) membuat Kota Bekasi lumpuh. Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengakui terjangan banjir tersebut membuat 7 kecamatan dari 12 kecamatan terendam.
’’Ya, hari ini (kemarin) Kota Bekasi lumpuh. Sampai di jalan utama, termasuk kantor pemerintahan dan pusat perbelanjaan dimasukin air yang limpasannya sangat luar biasa. Sehingga memang ketinggian air memang sangat tinggi,’’ kata Tri Selasa (4/3).
Tri menjelaskan, daerah yang terdampak paling parah berada di sepanjang Sungai Bekasi. Utamanya yang merupakan pertemuan antara kali Cikeas dan Kali Cileungsi. Ia juga mengatakan bahwa banjir kali ini terparah sejak 2016 dan 2020.
Tri menambahkan, Pemerintah Kota Bekasi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi telah melakukan langkah evakuasi warga akibat bencana banjir, Selasa (4/3). Dalam rapat koordinasi dengan 12 camat, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto mengungkapkan bahwa langkah awal yang diambil pihaknya adalah melakukan evakuasi dan memastikan bahwa warga yang terdampak tetap terlayani dengan baik.
’’Langkah pertama adalah berkonsentrasi pada evakuasi. Kami memastikan bahwa warga yang terdampak tetap mendapatkan layanan yang dibutuhkan, terutama di tempat-tempat pengungsian yang sudah disiapkan. Selain itu, kami juga menyiapkan sarana dan prasarana yang ada untuk mendukung proses ini,” ungkapnya.
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Bekasi akibat curah hujan tinggi dan kiriman air dari Bogor, mengakibatkan dampak signifikan, terutama di kawasan sepanjang Kali Bekasi. Sebanyak 1.000 warga diungsikan sementara ditempatkan pada tenda maupun fasilitas sosial.
Adapun hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi lama di wilayah hulu kali Bekasi dan wilayah Kota Bekasi dari sore hingga malam hari yang mengakibatkan peningkatan debit air dan menyebabkan wilayah Kota Bekasi di 7 kecamatan mengalami bencana banjir.
Tri mengatakan dari tujuh wilayah yang terdampak banjir, yakni Bekasi Timur, Bekasi Utara, Bekasi Selatan, Jari Asih, Pondok Gede, Bantargebang, dan Rawalumbu. Potensi air rob juga turut memengaruhi kondisi wilayah, membuat permukaan air naik hingga mencapai ketinggian 1-2 meter.
’’Wilayah yang paling parah terendam adalah kawasan Jati Asih, yang hampir seluruhnya dilalui oleh aliran Kali Bekasi,’’ ucapnya.
Dalam upaya menghadapi bencana ini, Pemkot Bekasi mengerahkan berbagai sumber daya. BPBD Bekasi telah menyiapkan 50 perahu karet untuk evakuasi dan bantuan kepada warga yang terdampak. Dandim 0507 Bekasi dan Kapolres Bekasi juga memastikan siap dengan peralatan pendukung, termasuk perahu karet yang dimiliki BPBD Kota Bekasi.
’’Walaupun curah hujan diperkirakan akan masih besar pada tanggal 11 hingga 20 Maret, kami terus waspada dan berupaya untuk meminimalisir dampaknya. Komunikasi dengan BNPB juga terus berjalan untuk memastikan kita siap menghadapi potensi hujan yang lebih besar,” tambah wali kota.
Kondisi tanggul yang belum sepenuhnya diperbaiki juga menjadi salah satu tantangan. Tri Adhianto mengingatkan bahwa upaya komprehensif masih dibutuhkan untuk memperbaiki tanggul dan mengantisipasi potensi banjir di masa mendatang. Kerja sama antara berbagai pihak, baik pemerintah pusat maupun daerah, sangat menentukan penanganan bencana ini.
Tri Adhianto juga menerima koordinasi Deputi BNPB Lukmansah yang mengatakan prihatin atas bencana yang terjadi dan ia mensupport penanganan bencana yang dilakukan jajaran Pemerintah Kota Bekasi.
’’Pemkot Bekasi lakukan evakuasi pada warga prioritas serta penuhi kebutuhan pokoknya. Orang tua, ibu hamil, balita, anak-anak,’’ ucapnya.
Pihaknya juga tengah mempersiapkan sejumlah bantuan yang akan diberikan sesuai permintaan Pemkot Bekasi terutama mengenai kebutuhan makanan siap saji dan penambahan perahu karet.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi