JawaPos.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengidentifikasi masalah narkotika di Indonesia dari berbagai sudut pandang serta beragam pendekatan dalam upaya penanganannya. Berdasar identifikasi yang dilakukan BNN, melalui metode ship to ship (STS) bahwa penyelundupan narkotika di Indonesia 80 persen dilakukan melalui jalur laut.
’’Modus kejahatan dominan dalam penyelundupan narkotika di Indonesia 80 persen dilakukan melalui jalur laut. Adapun wilayah pesisir timur Pulau Sumatera sebagai titik-titik rawan penyelundupan narkotika,’’ kata Deputi Hukum dan Kerja Sama (Hukker) BNN RI Agus Irianto Kamis (5/9).
Hal itu disampaikan oleh Agus Irianto pada pembahasan terkait penanganan permasalahan narkotika yang menjadi salah satu agenda side event dalam High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) 2024.
’’Saat ini BNN tengah fokus dalam melakukan penguatan di provinsi-provinsi yang menjadi pintu masuk peredaran narkotika ilegal,’’ ujarnya.
Dia menyebut, penguatan tersebut terus diupayakan BNN, salah satunya melalui pendekatan terhadap para tokoh masyarakat setempat guna mengoptimalkan pengawasan dan kolaborasi dengan masyarakat pesisir di titik masuk tersebut.
Agus menjelaskan, BNN saat ini juga telah merancang rencana aksi pengendalian narkotika 2024–2025 yang akan berfokus pada penguatan di bidang intelijen. Dia berharap Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara-negara Asia dan Pasifik dalam melakukan penanganan terhadap narkotika.
’’Indonesia harus menjadi role model atau leading country dalam penanganan narkotika di Asia dan Pasifik, karena Indonesia memiliki wilayah dan jumlah penduduk terbesar di kawasan, sehingga tentu saja Indonesia pun harus mengambil porsi yang paling besar dalam penanganannya,’’ tuturnya.
Agus menegaskan perlunya mengambil peran di dalam forum-forum internasional serupa sebagai bentuk komitmen Indonesia dalam menangani permasalahan narkotika di mata dunia, khususnya Asia dan Pasifik.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi