JawaPos.com - Kondisi layanan keumatan, khususnya Kantor Urusan Agama (KUA) masih banyak masalah. Diantaranya adalah sejumlah gedung KUA yang belum permanen. Bahkan di provinsi sebesar Jakarta, masih banyak KUA yang sewa gedung atau rumah untuk kantor.
Informasi tambahan yang dihimpun Jawa Pos, di Jakarta ada 44 unit KUA. Dari jumlah tersebut hanya 5 unit KUA di Jakarta yang berdiri di lahan bersertifikat Kemenag. Sisanya berdiri di atas lahan atau aset Pemda setempat. Bahkan ada juga yang sejatinya area fasilitas umum (fasum) atau area fasilitas sosial (fasos)
Sorotan banyak KUA yang masih numpang itu, disampaikan langsung Menteri Agama (Menag) Nasarudin Umar dalam malam Anugerah Layanan KUA di Kota Tangerang (12/12) malam. "Di Jakarta banyak KUA yang masih ngontrak," katanya. Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, tugas KUA itu 24 jam.
Dia mengatakan aparatur KUA dalam bertugas berbeda dengan aparatur instansi lain. Aparatur KUA sering kali tetap bekerja meskipun hari libur. Contohnya adalah saat bertugas sebagai pencatat nikah. Seringkali masyarakat menikah di hari libur.
"Saya pernah ke Pulau Seribu, petugas KUA nya kerap dipanggil untuk jadi imam," katanya. Selain itu juga sering diminta hadir untuk memimpin doa di masyarakat, di luar jam kerja.
Bagi Nasaruddin, aparatur KUA memiliki peran yang strategis. Dia mengatakan banyak masyalah keagamaan, khususnya soal Mazhab, diselesaikan di KUA. "Fungi KUA sangat penting. Konflik keluarga, konflik antar Mazhab, dan konflik kemasyarakatan lain rujukannya ke KUA," kata Nasaruddin.
Dia mengatakan ketika di masyarakat ada masalah Mazhab, tidak mungkin tanya ke camat untuk menyelesaikannya. Bahkan saat ini banyak camat sekarang usianya muda-muda. Sebaliknya Kepala KUA usianya sudah mau pensiun. "Maka tokoh paling berwibawa di kecamatan itu kepala KUA," tuturnya.
Pada malam itu, Kemenag sekaligus menyampaikan penghargaan untuk sejumlah KUA. Dari Jakarta diwakili oleh KUA Setiabudi Kota Jakarta Selatan DKI Jakarta yang meraih penghargaan kategori KUA Multi Layanan. Sementara itu Pemprov DKI Jakarta meraih penghargaan Provinsi Peduli KUA.
Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmat menjelaskan bahwa KUA merupakan unit terdepan Kementerian Agama yang tersebar di 5.917 kecamatan di Indonesia. Dia menegaskan bahwa KUA terus berupaya memberikan pelayanan optimal. Meskipun masih terdapat kantor yang berdiri di atas lahan bukan milik Kemenag.
“Masih ada KUA yang berada di tanah wakaf, aset pemda, atau bahkan milik pihak lain," katanya. Dia berharap dukungan dari pemerintah daerah untuk dapat menghibahkan lahannya. Sehingga Kemenag bisa membangun fasilitas yang lebih layak melalui skema SBSN (surat berharga syariah negara).
Ketersediaan infrastruktur yang memadai, kata Abu, menjadi kunci dalam memastikan pelayanan KUA. Sehingga bisa semakin nyaman, terstandar, dan mampu menjangkau seluruh masyarakat.
Dia menegaskan bahwa Anugerah Layanan KUA 2025 merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi ribuan insan KUA di seluruh Indonesia. "Lebih dari 12 ribu penghulu, 28 ribu penyuluh agama, serta 35 ribu pelaksana layanan setiap hari bekerja memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan keagamaan yang terbaik".
Peenghargaan itu bukan ajang perlombaan. Melainkan apresiasi atas kerja nyata para pelaksana layanan yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan publik Kementerian Agama.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi