JawaPos.com – Kemenag mengumumkan hasil asesmen atau penilaian kemampuan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah dalam membaca Alquran. Hasilnya masih banyak guru PAI yang kemampuan membaca Alquran mereka di level pratama. Hanya sedikit guru PAI yang sudah berada di level mahir dalam membaca Alquran.
Asesmen membaca Alquran bagi kalangan guru PAI itu baru pertama dilaksanakan Kemenag. Sehingga masih menyasar guru-guru di Pulau Jawa saja. Dengan total peserta yang mengikuti asesmen sebanyak 107.278 guru. Penilaian ini dilakukan merespon kemampuan membaca Alquran yang rendah di kalangan siswa sekolah umum. Bahkan ada yang belum bisa membaca Alquran sama sekali.
’’Kita mulai mengukur kemampuan gurunya dulu,’’ kata Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno di Jakarta (17/12) malam.
Hasilnya memang cukup memprihatinkan. Karena di semua provinsi di Jawa, mayoritas guru PAI berada di level kemampuan Pratama atau kelompok terendah. Kemampuan ini setara dengan anak-anak belajar Iqra di TPQ. ’’Hasil asesmen ini belum semua menggembirakan. Misalnya Jakarta saja baru 13 persen yang masuk kategori mahir,’’ katanya.
Total guru PAI di Jakarta yang mengikuti penilaian kemampuan membaca Alquran itu 4.129 orang. Sebanyak 517 orang atau 13 persen masuk kategori mahir. Kemudian 1.268 orang atau 30 persen, masuk kategori menengah. Lalu sisanya sebesar 2.344 persen masuk level kemampuan pratama alias terendah.
Kemudian Jawa Timur tertinggi dibanding provinsi lain, yaitu 17 persen. Suyitno mengatakan ada guru PAI yang kemampuan membaca Alqurannya seperti orang belajar Iqra jilid 1. Diamenyampaikan apresiasi kepada Jawa Timur, karena jumlah guru yang mahir membaca Alquran lebih banyak dibandingkan lainnya.
Dia memperkirakan faktor itu disebabkan banyak guru PAI di Jawa Timur yang merupakan jebolan pondok pesantren. Termasuk saat kuliah keguruan juga masih aktif sebagai santri.
Dia tidak bisa membayangkan ada guru PAI yang level membaca Alquran-nya masih di tingkat pratama. ’’Bagaimana dia bisa menguatkan pelajaran agama. Pantas saja anak sekolah butuh atensi khusus,’’ tuturnya.
Dari hasil penilaian itu, Kemenag juga akan memperbaiki sistem perkuliahan yang mencetak guru-guru PAI. Supaya kemampuan membaca Alquran juga jadi titik penting selama perkuliahan.
Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa kemampuan membaca Alquran itu penting. Bahkan terkait langsung dengan Rukun Islam, yaitu salat. ’’Kalau tidak bisa membaca Alquran, bagaimana salatnya,’’ katanya. Untuk itu dia benar-benar berpesan supaya kemampuan guru PAI dalam membaca Alquran terus ditingkatkan.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi