Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Sudah Mangkrak Selama 22 Tahun! Pemprov DKI Bongkar Tiang Monorel, Pramono Anung Ajak Sutiyoso

Masria Pane • Kamis, 15 Januari 2026 | 14:28 WIB
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (dua kiri) bersama Gubernur DKI Jakarta ke 12 Sutiyoso (tiga kiri) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (kanan) menyaksikan pembongkaran tiang Monorel di jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta, Rabu (15/01/2026). Pemprov D
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung (dua kiri) bersama Gubernur DKI Jakarta ke 12 Sutiyoso (tiga kiri) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (kanan) menyaksikan pembongkaran tiang Monorel di jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta, Rabu (15/01/2026). Pemprov D

JawaPos.com – Sebanyak empat pasukan kuning Dinas Bina Marga DKI tampak berkumpul di samping tiang monorel di Jalan H.R. Rasuna Said, kemarin (14/1) pagi. Tepatnya, di sisi timur Stasiun LRT Setiabudi. Keempatnya tampak kompak memotong tiang monorel yang sudah mangkrak hampir 22 tahun tersebut. Pemotongan itu sebagai penanda kegiatan pembongkaran tiang itu mulai dilakukan. 

Kegiatan pemotongan itu disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Pramono Anung, Wakil Gubernur DKI Rano Karno, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) DKI Patris Yusrian, Direktur Korsub Wilayah II KPK Brigjen Pol Bachtiar, jajaran pejabat DKI, hingga Gubernur DKI ke-12 (1997-2007) Sutiyoso.

’’Tentunya, untuk melakukan ini prosesnya panjang. Dan secara khusus, saya berterima kasih kepada Kajati dan KPK yang telah memberikan support sepenuhnya untuk penataan Jalan H.R. Rasuna Said ini supaya tidak ada permasalahan dikemudian hari,’’ terang Pramono. Kemudian, mudah-mudahan menjadi penanda bahwa Jakarta memang sedang menata diri untuk memperbaiki fasilitas publik yang ada. 

Dalam kesempatan itu, Pramono juga menegaskan bahwa tiang mangkrak itu tidak ada lagi permasalahan hukum. Yakni, dengan adanya surat dari Kajati. Meskipun, diakuinya bahwa tiang monorel itu merupakan aset dari Adhi Karya, salah satu BUMN. ’’Kami sudah berkirim surat secara langsung kepada Adhi Karya untuk mereka membongkar sendiri pada November tahun lalu. Kami kasih batasan waktu satu bulan untuk bongkar,’’ jelasnya.

Lantaran tidak ada tindak lanjutnya dari Adhi Karya, Pramono memerintahkan jajarannya di Dinas Bina Marga DKI untuk membongkar tiang tersebut. Dia pun menyebutkan akan mengomunikasikan terkait tiang yang dibongkar itu kepada Adhi Karya.

’’Termasuk besi-besi ini kenapa tidak dikerjakan kontraktor tertentu? Karena besinya kan kami serahkan kepada Adhi Karya,’’ imbuhnya. Selanjutnya, bila kegiatan pembongkaran dan penataan di sana rampung pada September 2026, maka mereka akan melanjutkan pembongkaran tiang monorel yang ada di Jalan Asia Afrika. 

’’Kalau ini sudah berjalan dengan baik karena yang di Senayan memang ada beberapa (tiang mangkrak), pasti akan kami bongkar. Tetapi beberapa akan kami sisakan untuk videotron dan sebagainya untuk reklame,’’ jelasnya.

Sebagai informasi, ada sebanyak 109 tiang monorel mangkrak di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan. Tiang mangkrak itu terpancang sepanjang 3,65 kilometer dari Simpang Jalan Gembira setelah flyover Latuharhari hingga ujung Jalan Gatot Subroto di Simpang Kuningan. Pembongkaran dan penataan di sana ditargetkan rampung dalam delapan bulan atau sekitar September 2026. Total anggaran penataan dan pembongkaran itu mencapai Rp 102 miliar dari APBD DKI 2026. Khusus untuk pembongkaran tiang, kebutuhannya sekitar Rp 254–350 juta.

Gubernur DKI ke-12 (1997-2007) Sutiyoso menceritakan sejarah tiang monorel tersebut. Menurutnya, pembangunan monorel itu merupakan hasil pemikirannya bersama para pakar transportasi dan juga survei ke beberapa negara untuk mengembangkan transportasi makro Jakarta. Tahun 2024 proses pembangunan dilakukan oleh Presiden Megawati.

’’Artinya, saat dicanangkan presiden, itu berarti segala sesuatunya itu sudah ada. Rencananya jelas, investornya juga ada dari Cina (Tiongkok). Tapi saya kan harus berhenti tahun 2007,’’ jelasnya.

Namun, proyek tersebut tidak dilanjutkan, melainkan diganti dengan LRT pada 2014. ’’LRT yang tidak ada rencana sebelumnya, tentu gubernur waktu itu punya alasan yang saya tidak tahu. Sejak itu mangkrak total ini jadi besi tua dan merusak estetika kota,’’ imbuhnya. 

Sutiyoso menyebutkan, pembongkaran menjadi langkah terbaik karena proyeknya tidak bisa dilanjutkan. ’’Itu pilihan yang paling buruk tetapi harus kita lakukan itu. Saya sekali lagi secara pribadi, terima kasih. Mudah-mudahan kalau saya lewat ini gak sakit mata lagi saya. Yang selama ini terus terpikir gini, ya sedih aja ya. Aku mulai itu jadinya kayak begini,’’ katanya.

Karena itu, dia berharap, setelah H.R. Rasuna Said selesai ditata, yang di Senayan juga bisa dilakukan juga pembongkaran tiang monorelnya. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#monorel #Gubernur DKI Pramono Anung