Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Atasi Wasir dan Fistula Ani dengan Penanganan Minimal Invasive yang Minim Risiko dan Masa Pemulihan yang Cepat

Arief Indra Dwisetyadi • Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:30 WIB

 

dr. Franky Mainza Zulkarnain jelaskan penyakit wasir dan cara mengatasinya.
dr. Franky Mainza Zulkarnain jelaskan penyakit wasir dan cara mengatasinya.

JawaPos.com - Wasir (hemoroid/ambeien) dan fistula ani merupakan gangguan di area anus yang dapat menimbulkan nyeri, perdarahan, serta menurunkan kualitas hidup penderitanya. Dengan perkembangan teknologi bedah, kini tersedia metode minimal invasiveyang lebih aman dan nyaman bagi pasien.

Penanganan wasir dapat dilakukan melalui Laser Hemorrhoidoplasty (LHP), sedangkan fistula ani dapat ditangani menggunakan Fistula-tract Laser Closure (FiLaC).

Apa itu Hemoroid?

Hemoroid, yang dikenal juga sebagai wasir atau ambeien, adalah pembengkakan atau pelebaran pembuluh darah vena (varises) di sekitar anus atau rektum bagian bawah. Pada kondisi normal, pembuluh darah vena di anus atau rektum akan menyalurkan darah kembali ke jantung. Namun, ketika pembuluh darah melebar, darah dapat menumpuk dan membentuk benjolan lunak yang tidak normal di area anus. Benjolan tersebut terjadi karena pembesaran pembuluh darah vena yang berisi darah.

Ada dua jenis hemoroid. Pertama, Hemoroid internal. Ini adalah pembengkakan di dalam rektum, yang terkadang keluar saat buang air besar (BAB). Jenis ini terbagi kembali menjadi empat tingkatan, antara lain:

Stadium 1: Terjadi pendarahan tetapi tidak ada tonjolan, tanpa disertai rasa nyeri

Stadium 2: Terjadi tonjolan rektum tetapi dapat masuk kembali dengan sendirinya

Stadium 3: Terjadi tonjolan rektum, dapat masuk kembali dengan bantuan tangan

Stadium 4: Terjadi tonjolan rektum dan pembekuan darah yang menutupi muara anus dan tidak dapat dimasukkan kembali dengan bantuan tangan

Jenis kedua adalah hemoroid eksternal. Yakni, pembengkakan di bawah kulit sekitar anus dengan gejala yang tidak separah hemoroid internal. Hemoroid ini mudah dideteksi karena cenderung menonjol keluar.

Selain faktor genetik dan usia, hemoroid sering kali dipicu oleh pola dan gaya hidup sehari-hari. Beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko hemoroid, antara lain:

- Mengejan saat BAB akibat sembelit atau saat mengangkat beban berat

- Kebiasaan duduk lama yang membuat rektum tertekan

-Kehamilan, di mana tekanan dari rahim yang membesar dapat menekan pembuluh darah di area panggul sehingga menghambat aliran darah

- Obesitas atau berat badan berlebih yang menambah tekanan pada pembuluh darah

- Konsumsi makanan pedas berlebihan merangsang gerakan usus menjadi semakin cepat sehingga meningkatkan tekanan pada pemuluh darah yang memicu pelebaran

Gejala Hemoroid yang Perlu Diwaspadai

Hemoroid kerap diabaikan jika benjolan hanya muncul pada saat BAB dan dapat masuk kembali dengan sendirinya. Selain itu, masih ada stigma di kalangan masyarakat yang menganggap hemoroid sebagai hal yang memalukan, sehingga penderita cenderung menutupi kondisinya. Padahal, hemoroid yang tidak segera ditangani dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Berikut gejala hemoroid yang perlu diwaspadai:

- Rasa gatal, nyeri, atau perih di area anus

- Darah merah segar pada tisu, kloset, atau feses

- Muncul benjolan atau tonjolan di sekitar anus

- Lendir atau feses yang keluar setelah BAB

- Rasa nyeri saat BAB

- Pembengkakan di sekitar anus yang sensitif, yang membesar saat mengejan

Penanganan Hemoroid

Penanganan hemoroid disesuaikan dengan tingkat keparahannya. Gejala ringan dapat sembuh sendiri dengan melakukan perawatan sederhana atau mengubah gaya hidup, seperti mengonsumsi makanan berserat, memperbanyak asupan cairan, tidak mengejan keras, dan tidak duduk terlalu lama.

Sitz bath (terapi berendam air hangat) dapat dilakukan pada stadium awal untuk melenturkan pembuluh darah dan memperbaiki katup vena.

Penanganan dengan obat atau tindakan medis dari dokter harus segera dilakukan jika adanya keluhan berat seperti terjadi pendarahan yang disertai nyeri hebat. Terapi operatif dapat dilakukan pada hemoroid stadium 3 dan 4, antara lain:

Hemorrhoidectomy konvensional

Rubber band ligation

Skleroterapi

Doppler-guided Hemorrhoidal Artery Ligation - Recto Anal Repair (Dg-HAL RAR),

Radiofrekuensi

Bipolar electrocoagulation

Spaler

Biological Electrical Impendance Auto-Measurement (BEIM)

Laser Hemorrhoidoplasty (LHP)

Laser Hemorrhoidoplasty (LHP) sebagai Pilihan Metode Penanganan Hemoroid

LHP merupakan tindakan operasi minimal invasivepada hemoroid internal maupun eksternal menggunakan laser diode untuk mereduksi jaringan hemoroid tanpa menyentuh daerah anoderm dan merekonstruksi anatominya secara natural. Prosedur yang berlangsung sekitar paling lama satu jam ini dimulai dengan kondisi pasien terbius total dengan tambahan bius lokal di sekitar anus. Alat pemancar laser fiber kemudian dimasukkan ke dalam hemoroid untuk mengempiskannya. Tindakan laser selesai dilakukan ketika hemoroid sudah tereduksi sebanyak 40-60 persen.

Pasien dapat beraktivitas normal dalam waktu kurang dari 1 minggu setelah tindakan LHP. Karena pasien dapat mengalami sedikit pendarahan dan mengeluarkan cairan, penggunaan pembalut selama 2-3 minggu diwajibkan. Dalam 4-8 minggu, hemoroid akan mengecil dengan sempurna.

Keunggulan Laser Hemorrhoidoplasty (LHP)

Sekitar 90 persen pasien yang menjalani prosedur LHP melaporkan tingkat kepuasan yang tinggi dan merekomendasikan prosedur ini kepada orang lain. Sejumlah keunggulan dibandingkan prosedur penanganan hemoroid yang lainnya, antara lain:

- Tidak dilakukan pemotongan jaringan hemoroid

- Minim sakit dengan masa pemulihan yang lebih singkat, sehingga pasien dapat segera beraktivitas kembali

- Dapat dilakukan One-Day-Care, kecuali pada kasus tertentu

- Risiko komplikasi, kekambuhan, dan kerusakan Sphincter yang lebih rendah

- Tidak memiliki batasan ukuran hemoroid yang dapat ditangani

Beberapa persiapan untuk mengurangi risiko pasca prosedur LHP, antara lain:

- Menghentikan obat pengencer darah guna menghindari pendarahan

- LHP dilakukan setelah melahirkan untuk wanita hamil sehingga menghindari risiko kembalinya hemoroid

- Mengonsumsi obat pencahar beberapa hari sebelum tindakan untuk membantu proses BAB setelah tindakan

Apa itu Fistula?

Fistula adalah saluran abnormal atau terowongan kecil di bawah kulit yang menghubungkan dua organ yang seharusnya tidak saling terhubung. Ada beberapa jenis fistula, salah satunya fistula ani yang merupakan kondisi di mana terdapat saluran abnormal yang menghubungkan saluran anus (usus besar) dengan kulit di sekitar anus atau bokong.

Faktor Penyebab Fistula Ani

Fistula ani dipicu oleh berbagai kondisi medis yang merusak jaringan anus, antara lain:

Infeksi kelenjar anus: Penyebab paling umum di mana abses terbentuk karena tersumbatnya kelenjar di dalam anus

Penyakit radang usus (inflammatory bowel disease/IBD): Peradangan di saluran pencernaan, salah satunya penyakit Crohn

Trauma atau pembedahan: Cedera pada area anus atau komplikasi pasca operasi

Kanker atau tuberkulosis, meskipun kasusnya relatif jarang 

Gejala Fistula Ani yang Perlu Diwaspadai

Berikut gejala fistula ani yang perlu diwaspadai, antara lain:

- Nyeri hebat dan pembengkakan di sekitar anus

- Keluarnya nanah, darah, atau cairan berbau busuk dari lubang kecil di dekat anus

- Demam

- Iritiasi kulit di area anus

- Rasa nyeri saat BAB

Penanganan Fistula

Pengobatan fistula dapat dilakukan dengan berbagai prosedur, antara lain:

- Fistulotomi: Pembukaan saluran fistula agar dapat sembuh dari dalam ke luar

- Seton: Penempatan benang atau selang secara bertahap untuk membuka saluran fistula

- LIFT: Prosedur untuk menutup fistula di antara dua otot sfingter

- Fistula-tract Laser Closure (FiLaC): Penutupan fistula dengan energi laser

Laser Fistula-tract Laser Closure (FiLaC) sebagai Pilihan Metode Penanganan Fistula

Pada FiLaC saluran abnormal dapat ditutup dari dalam dengan teknologi berbasis laser tanpa sayatan besar. Probe laser radial tersebut dirancang untuk menghancurkan epitel fistula dan menutup saluran fistula yang tersisa melalui efek fototermal secara bersamaan, serta penutupan orifisium fistula bagian dalam dan luar. Penutupan primer saluran fistula dilakukan menggunakan laser diode. Energi yang dihasilkan laser memicu penyusutan jaringan dan penutupan saluran fistula secara progresif.

Teknik FiLAC kemudian disempurnakan melalui Mainza Method (dikembangkan oleh dr. Franky Mainza Zulkarnain, Sp. B), yakni dengan memadukan penggunaan laser dan kateter isap (suction catheter). Tindakan ini memastikan saluran fistula benar-benar kering dan bersih dari cairan atau nanah selama tindakan berlangsung, sehingga energi laser dapat bekerja lebih maksimal dan membantu diameter saluran menyusut lebih cepat.

Mainza Method menjadi solusi efektif untuk menutup kasus fistula kompleks yang memiliki banyak cabang atau yang sering kambuh, dengan tetap meminimalkan rasa nyeri dan risiko kerusakan otot sfingter bagi pasien.

Penting untuk diingat bahwa penanganan yang tepat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi hemoroid dan fistula ani. Pemeriksaan rutin dan konsultasi ke dokter spesialis bedah umum sangat dianjurkan untuk penanganan yang optimal dan terhindar dari risiko yang lebih berbahaya. (*/oni)

 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#hemoroid #wasir