JawaPos.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) beberapa waktu lalu, tepatnya pada tanggal 22 Januari 2026, telah berpartisipasi dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 yang diselenggarakan di Davos, Swiss. Dalam rangkaian forum bergengsi tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Terenggono menghadiri sejumlah agenda strategis bersama para pemimpin dunia, termasuk Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang juga turut hadir dalam pertemuan tersebut.
"Hari ini, konferensi pers ini diselenggarakan untuk membahas hasil strategis dan tindak lanjut dari agenda partisipasi KKP dalam ajang tersebut," kata Staf Ahli Menteri KP Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Hendra Yusran Siry, Rabu (28/1).
Hendra mengatakan WEF Annual Meeting tahun ini merupakan kegiatan tahunan ke-52, yang diselenggarakan di Davos Kloster, Swiss. Sebagai salah satu ajang terbesar di dunia, pertemuan ini menjadi tempat berkumpulnya pemimpin dunia, CEO perusahaan besar, serta tokoh politik dari berbagai negara. Tema yang diangkat dalam pertemuan tahun ini adalah "Spirit of Dialogue", yang menekankan pentingnya dialog lintas negara dan lintas sektor di tengah kondisi ketegangan geopolitik yang meliputi isu terkait Greenland, Venezuela, dan Iran.
Selain itu, diskusi juga fokus pada fragmentasi ekonomi dan perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI) yang menjadi tema dominan dengan kehadiran berbagai perusahaan besar di bidang tersebut serta kegiatan side event yang mengeksplorasi potensi perjanjian bisnis dan kerjasama.
"Secara keseluruhan, pertemuan ini dihadiri oleh kurang lebih 3.000 peserta dari 130 negara, termasuk 400 pemimpin politik, hampir 65 kepala negara, dan 550 CEO global. Di antara mereka adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Perdana Menteri Kanada, serta Presiden Prancis yang setelah acara juga melakukan kunjungan kerja ke Paris," terangnya.
Meskipun tidak memiliki peringkat resmi dari WHO, WEF Annual Meeting 2026 dianggap sebagai yang paling besar dalam sejarahnya berdasarkan jumlah dan profil peserta yang hadir. Sementara, Presiden Prabowo Subianto yang pada tahun 2025 baru menjabat selama 3 bulan saat diundang, akhirnya dapat menghadiri pertemuan tahun ini setelah satu tahun memimpin negara.
"Dalam pidatonya, beliau menyampaikan berbagai kebijakan strategis, termasuk konsep proponomik. Selain itu, 6 dari 9 negara anggota G7 juga hadir dalam ajang ini," ucapnya.
Blue Davos: Fokus pada Isu Air dan Ekonomi Biru
Tahun ini, WEF juga mengusung tema khusus bernama "Blue Davos" yang berpatokan pada isu air, sejalan dengan tahun air global yang akan ditandai dengan penyelenggaraan UN Water Conference pada bulan Desember 2026, merayakan 50 tahun sejak konferensi air pertama. Isu air menjadi sangat relevan mengingat berbagai tantangan global seperti bencana hidrometeorologi, pemanasan laut yang meningkat 4 kali lipat, serta risiko yang ditimbulkannya.
Peningkatan suhu laut hanya 1 derajat saja dapat memengaruhi biota perairan, termasuk perubahan dominasi spesies yang tidak toleran terhadap suhu. Selain itu, sekitar 1,8 miliar orang di dunia terpapar risiko banjir, hampir 75 persen sumber air tawar terancam hilang, dan nilai ekosistem perairan mencapai 58 triliun USD meskipun investasinya hanya sekitar 2-3 persen.
"Blue Davos memiliki 3 pilar utama, yaitu Pengelolaan dan akses air tawar, yang mencakup pendanaan, kemitraan, dan inovasi dalam keamanan air, Keamanan pangan biru, dan Perlindungan laut dan ekonomi biru," ujar Hendra.
Sebagai tindak lanjut penting, Ocean Impact Summit yang telah disosialisasikan akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang, dengan arahan strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat (hub) kelautan di Asia. Penjelasan lebih lanjut mengenai kegiatan ini akan disampaikan oleh pihak terkait.
Kegiatan Kelautan dan Perikanan RI di WEF dan Rencana Acara Mendatang di Bali
Staf Khusus Menteri KP Bidang Humas dan Komunikasi Media Doni Ismanto Darwin menambahkan pada tahun ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah kepemimpinan Menteri Sakti Wahyu Terenggono mengikuti World Economic Forum (WEF) sebagai kesempatan pertama bagi beliau di era tahun ini.
"Selama di Davos, agenda Menteri sangat padat. Beliau terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari memberikan sambutan pembuka dan penutup, menggelar acara sisi (side event), hingga melakukan pertemuan bilateral serta mendampingi Presiden dalam pertemuan dengan tokoh penting," ucap Doni.
Dalam pidatonya yang berlangsung hampir 40 menit, Presiden Prabowo tidak hanya menyampaikan visi ekonominya yang dikenal sebagai Prabowo Nomics, tetapi juga menyinggung isu kemaritiman. Pertama, beliau mengemukakan tentang pembangunan Kempung Nelayan Merah Putih yang akan dimodernisasi menjadi Kempung Nelayan Modern, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir yang menjadi tanggung jawab utama KKP.
"Presiden juga mengumumkan akan diselenggarakannya Ocean Impact Summit (OIS) bertaraf internasional di Bali," kata Doni.
Meskipun detail lengkap mengenai OIS belum dapat diungkapkan secara panjang lebar, acara ini mulai digaungkan karena akan dihadiri oleh banyak kepala negara dari luar negeri, pejabat organisasi non-pemerintah internasional, dan berbagai pihak terkait. Mulai bulan depan, KKP akan melakukan pendataan bagi media yang berminat untuk melakukan peliputan langsung di Bali atau menjadi mitra media acara.
"OIS juga mendapatkan dukungan dari WEF, dan KKP telah menandatangani Letter of Intent (LOI)," jelasnya.
Selain itu, di WEF, KKP juga bekerja sama dengan BKPM dalam menyelenggarakan Pavilion Indonesia. Di sana, pihaknya mempromosikan konsep pangan biru dan menyebarkan buku MBG Pangan Biru dalam format bahasa ganda (Indonesia dan bahasa Inggris) sebagai upaya literasi publik. Buku tersebut bertujuan untuk memperkenalkan beragam pilihan pangan biru dari Indonesia, di mana bahkan dalam bentuk bare minimum pun dapat memberikan protein yang cukup bagi konsumsi masyarakat.
Selain OIS, KKP juga akan menyelenggarakan kegiatan memperingati Hari Kelautan Se-Dunia pada tanggal 8 Juni dan Hari Terumbu Karang / Coral Triangle Day pada tanggal 9 Juni. Acara berlangsung pada hari Senin dan Selasa di Bali, sebagai bentuk apresiasi dan perhatian terhadap kelestarian sumber daya kelautan dan ekosistem terumbu karang di wilayah Segitiga Tumbuh Karang.