Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Kompetisi Tari Kursi Roda Digelar di Jakarta, Ajang Anak Disabilitas Daksa Unjuk Karya

Hilmi Setiawan • Senin, 2 Februari 2026 | 12:09 WIB

Sejumlah anak disabilitas daksa mengikuti kompetisi Wheelchair Dance Competition yang digelar di Jakarta. Ajang ini menjadi wadah meningkatkan semangat anak-anak untuk berkarya. (Dok. WAFCA)
Sejumlah anak disabilitas daksa mengikuti kompetisi Wheelchair Dance Competition yang digelar di Jakarta. Ajang ini menjadi wadah meningkatkan semangat anak-anak untuk berkarya. (Dok. WAFCA)
 

JawaPos.com - Penyelenggaraan kompetisi kursi roda bertajuk Wheelchair Dance Competition 2025 sukses diselenggarakan di Jakarta pekan lalu. Kompetisi ini menjadi ajang untuk karya bagi anak-anak disabilitas daksa. Mereka tampil penuh semangat dan percaya diri.

Seperti diketahui sampai saat ini, masih banyak anggapan bahwa anak-anak dengan disabilitas daksa memiliki keterbatasan dalam melakukan berbagai aktivitas. Khususnya dalam kemampuan senintari. Kompetisi tari kursi roda itu diselenggarakan WAFCA Indonesia (WAFCAI) untuk membuktikan bahwa kreativitas dan ekspresi diri tidak terbatas.

Ketua Yayasan Kursi Roda (WAFCAI) Helmy Riza mengatakan, kompetisi itu menjadi wadah yang memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas daksa untuk menari dengan iringan musik favorit mereka. "Baik secara mandiri maupun bersama teman atau keluarga," kata Helmy dalam keterangannya (2/2).

Dia menambahkan kegiatan tari kursi roda itu sudah berlangsung sejak 2017 yang lalu. Kompetisi ini digelar dengan konsep para peserta merekam tarian mereka dan mengirimkan video ke WAFCA Indonesia untuk dikompetisikan dan diseleksi.

Acara puncak Wheelchair Dance Competition 2025 digelar pada 29 Januari 2026 di DENSO Sunter Jakarta Utara. Sejak dibukanya kompetisi ini pada November 2025 hingga Januari 2026, sebanyak 42 peserta telah mendaftar baik secara perorangan hingga tari berkelompok.

Photo
Photo

Lebih lanjut Helmy menyampaikan kegiatan itu bukan hanya perlombaan. "Tetapi perayaan keberanian, kreatifitas, dan semangat, dan adik adik semua berhak untuk berkreasi dan berekspresi dalam momen ini," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Dewan Pembina Yayasan Kursi Roda (WAFCAI) Hari Purwanto menyampaikan bahwa kompetisi tari kursi roda itu diharapkan bisa jadi bagian dari proses berdaya dan berkaya bagi adik-adik disabilitas semua.

Operational Manager WAFCA Indonesia, Dimas Pandista menjelaskan lembaganya ingin menunjukkan bahwa menari bukanlah aktivitas eksklusif bagi orang tanpa disabilitas. Bahkan individu dengan disabilitas daksa berat sekalipun dapat menikmati pengalaman ini.

Selain itu, gerakan dan ritme dalam tarian kursi roda memiliki berbagai manfaat. Diantaranya meningkatkan kemampuan motorik, respons tubuh, serta ekspresi emosional bagi penyandang disabilitas. Tarian ini juga dapat menjadi alternatif olahraga dan terapi daksa bagi pengguna kursi roda.

Lebih dari sekadar kompetisi, acara ini menghadirkan momen kebersamaan yang mempererat hubungan antara peserta, teman, dan keluarga. WAFCA Indonesia juga berharap bahwa melalui ajang itu, kesadaran masyarakat semakin meningkat akan kemampuan serta potensi teman-teman dengan disabilitas daksa dalam menari dan menikmati musik. Pada acara puncak Wheelchair Dance 2025, para peserta yang terpilih sebagai pemenang berkesempatan untuk menampilkan tarian mereka di hadapan penonton.

Perwakilan dari WAFCA Jepang Haruna Nishimura menyampaikan menari dengan musik baik untuk tubuh. Kemudian juga bisa merangsang perkembangan dan emosi anak. "Saya senang sekali acara ini sudah berjalan 8 tahun," tuturnya.

Dukungan dan Kolaborasi Wheelchair Dance Competition 2025 diselenggarakan oleh WAFCA Indonesia dengan dukungan dari WAFCA Japan dan PT DENSO. WAFCA Indonesia terus membuka peluang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki visi yang sama. Yaitu untuk mewujudkan persahabatan dan dunia yang lebih inklusif. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#disabilitas