JawaPos.com – Jakarta alami tekanan harga yang melandai tahun 2026. Yakni, mencatatkan deflasi sebesar 0,23 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada Januari 2026. Angka ini berbalik arah dibandingkan Desember 2025 yang mengalami inflasi 0,33 persen (mtm).
Berdasar rilis Badan Pusat Statistik (BPS), deflasi Jakarta tercatat lebih dalam dibandingkan deflasi nasional yang mencapai 0,15 persen (mtm). Meski demikian, secara tahunan inflasi DKI Jakarta masih relatif tinggi, yakni 3,96 persen secara tahunan year on year (yoy), di atas inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Iwan Setiawan menjelaskan, tingginya inflasi tahunan tersebut dipengaruhi efek basis rendah (low base effect). ’’Inflasi tahun lalu sebagai pembanding relatif lebih rendah akibat adanya kebijakan diskon tarif listrik,’’ ujarnya.
Sementara deflasi Januari 2026 terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga sebesar 1,57 persen (mtm). Padahal, pada bulan sebelumnya kelompok ini masih mencatat inflasi 1,07 persen (mtm). Penurunan harga dipicu turunnya harga komoditas hortikultura seperti cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit seiring masuknya musim panen awal tahun.
Selain itu, harga daging ayam ras yang lebih rendah turut menekan inflasi. Kondisi ini sejalan dengan penurunan harga live bird di tingkat produsen serta tingginya produksi di daerah pemasok utama seperti Lampung, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
’’Namun, deflasi tertahan oleh kenaikan harga sayuran hijau, seperti kangkung, bayam, dan tomat akibat gangguan pasokan di tengah cuaca yang kurang mendukung,’’ tambahnya.
Kelompok Transportasi juga mencatat deflasi sebesar 0,69 persen (mtm), setelah pada Desember 2025 mengalami inflasi 0,65 persen (mtm). Deflasi itu didorong penurunan harga bensin seiring penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Januari 2026, serta normalisasi permintaan transportasi pasca libur Natal dan Tahun Baru yang menekan tarif angkutan udara dan angkutan antarkota.
’’Namun, sisi lain, tekanan inflasi masih datang dari harga emas perhiasan yang melonjak 5,75 persen (mtm), meningkat tajam dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,59 persen (mtm),” terangnya. Kenaikan itu sejalan dengan tren harga emas global yang masih meningkat. Kondisi tersebut mendorong kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatat inflasi 1,52 persen (mtm).
Inflasi juga terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,30 persen (mtm), serta kelompok pendidikan yang naik 0,10 persen (mtm), dipicu kenaikan harga kursus bahasa asing.
Menurut Iwan, inflasi Jakarta itu masih terkendali karena sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta. Berbagai langkah telah dilakukan sejak awal tahun, mulai dari pelaksanaan pasar murah oleh BUMD pangan, distribusi pangan bersubsidi bagi masyarakat tertentu, hingga pemantauan stok daging sapi di RPH Cakung bersama Kementerian Pertanian dan Perumda Dharma Jaya.
“Penguatan ketahanan pangan perkotaan juga kami dorong melalui pengembangan urban farming,” katanya.
Ke depan, lanjutnya, pengendalian inflasi akan terus diperkuat melalui strategi 4K, yakni Ketersediaan Pasokan, Keterjangkauan Harga, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri. “Beberapa risiko yang bisa meningkatkan inflasi juga akan kami perhatikan. Di antaranya, rangkaian hari besar keagamaan dan tingginya curah hujan hingga akhir triwulan pertama tahun ini,” imbuhnya.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi