Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Berikut Daftar Masjid di Jakarta yang Menggelar Salat Tarawih Malam Ini, Warga Muhammadiyah Mulai Puasa Besok

Syahrul Yunizar • Selasa, 17 Februari 2026 | 18:41 WIB
Umat Islam melaksanakan ibadah Sholat Tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (11/3/2024) (Foto: Salman Toyibi/ Jawa Pos)
Umat Islam melaksanakan ibadah Sholat Tarawih pertama di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (11/3/2024) (Foto: Salman Toyibi/ Jawa Pos)

JawaPos.com - Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2). Artinya mulai malam ini (17/2), warga Muhammadiyah sudah mulai melaksanakan ibadah salat tarawih. Di Jakarta, ada beberapa masjid yang sudah memastikan akan menggelar salat tarawih mulai malam ini. Berikut rinciannya.

Jakarta Pusat

Masjid At-Tanwir, PP Muhammadiyah
PCM Kramat
PCM Tanah Abang IV
PCM Kemayoran 2
PCM Cempaka Putih
RS Islam Jakarta Cempaka Putih
PCM Tanah Abang II Pejompongan
PCM Tanah Abang III Bendungan Hilir

Jakarta Selatan

Masjid Al-Huda, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tebet Timur
At-Taqwa, PCM Kebayoran Baru
PCM Bukit Duri
PCM Kebayoran Lama
Masjid Al-Jihad, PCM Setiabudi Karet
Masjid Baiturrahmah Tanjung Barat
Al-Bayyinah, Cipedak, Jagakarsa
Masjid At-Taqwa, PCM Pasar Rumput
Masjid Al-Muhajirin, PCM Tebet Barat
Masjid Nurul Haq, PCM Kebon Baru
Masjid Al-Amin, PCM Pesanggrahan

Jakarta Timur

PCM Utan Kayu
PCM Duren Sawit II
PCM Pasar Rebo
Masjid At-Taqwa, Perguruan Muhammadiyah Matraman
PRM Kayumanis Utara
PCM Kramat Jati
Islamic Center Muhammadiyah Duren Sawit I
Perguruan Muhammadiyah Duren Sawit I
RS Islam Jakarta Pondok Kopi
Masjid Al-Muslimun, Matraman
Masjid Istiqomah, Cijantung
Masjid Asy-Syifa PRM Kayu Tinggi Cakung
Masjid Muhammadiyah Arrahman

Jakarta Barat

Masjid Al-Isra, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Barat
Masjid Raya Uswatun Hasanah, Cengkareng
Masjid Al-Barakah, Cengkareng Barat
Masjid Nurul Amal, PCM Palmerah
Masjid Al-Jihad, Cengkareng Timur
Masjid Baitul Hikmah, PCM Tomang
Masjid Al-Hasanah, PCM Kembangan
Masjid Al-Muhajirin, Kemanggisan
PCM Slipi Kota Bambu
Masjid Al-Huda, PCM Jelambar
Masjid Nurul Falah, Jati Pulo
Masjid Mujahidin, Kebon Jeruk
Masjid Al-Mujahidin I, Grogol Petamburan

Jakarta Utara

PCM Penjaringan
PCM Tanjung Priok
PCM Kelapa Gading
PCM Cilincing
RSIJ Sukapura
Masjid Al-Jihad, PCM Koja
Masjid Nurul Hidayah
Masjid At-Taubah
Masjid Al-Mutoqorrobin
Masjid Muhammad Irsyad

Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Muhamad Rofiq Muzakkir mengakui, keputusan menetapkan awal Ramadhan tahun ini memantik diskusi kritis di tengah masyarakat. Salah satu pertanyaan yang muncul ialah bagaimana mungkin umat Islam di Indonesia memulai puasa, sementara parameter hilal di lokasi rujukan (Alaska) baru terpenuhi belasan jam kemudian.

"Keberatan ini wajar terjadi akibat benturan antara logika kalender lokal yang berbasis visibilitas langsung dengan logika kalender global yang bersifat sistemik,” kata Rofiq dalam keterangan tertulis hari ini.

Dia menegaskan pentingnya memahami logika syar’i dan astronomis Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) secara proporsional. Setidaknya ada lima alasan utama yang mendasari keputusan tersebut. Salah satunya konsep Satu Hari Satu Tanggal (Single Global Day). Rofiq menjelaskan perlunya membedakan antara “waktu” (jam/siang-malam) dan “tanggal” (sistem administrasi hari). KHGT tidak mengubah kewajiban puasa yang tetap dilaksanakan dari fajar hingga magrib sesuai waktu setempat.

Baca Juga: Vihara Amurva Bhumi Prediksi Keramaian Tahun Baru Imlek 2577 Berlangsung hingga Cap Go Meh 

Dalam sistem tersebut, bumi dipandang sebagai satu kesatuan matra waktu. Siklus hari dimulai dari Garis Tanggal Internasional (International Date Line) di Samudra Pasifik, bergerak ke barat melewati Selandia Baru, Australia, Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan berakhir kembali di Pasifik dekat Alaska.

Karena itu, jika parameter keterlihatan bulan terpenuhi di mana pun sebelum siklus hari berakhir—meskipun di wilayah paling barat seperti Alaska—maka keberadaan hilal tersebut menjadi validasi hukum bagi seluruh penduduk bumi pada tanggal yang sama.

”Jadi, 17 Februari dipandang sebagai satu hamparan waktu global. Ketika syarat terpenuhi di ujung hari (Alaska), status bulan baru berlaku untuk seluruh zona waktu dalam satu putaran hari tersebut, termasuk Indonesia,” jelasnya.

Editor : Bintang Pradewo
#puasa #muhammadiyah #salat tarawih