JawaPos.com — Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, Rieke Suryaningsih, menegaskan bahwa penyerapan aspirasi masyarakat tidak boleh berhenti sebatas catatan. Aspirasi warga, kata dia, harus diwujudkan dalam program nyata yang dampaknya bisa langsung dirasakan.
Menurut Rieke, salah satu kebutuhan yang paling banyak disampaikan masyarakat saat ini adalah pelatihan keterampilan. Hal itu sejalan dengan meningkatnya angka pengangguran, sehingga warga berharap memiliki kemampuan yang bisa langsung diaplikasikan untuk menunjang ekonomi keluarga.
“Banyak warga yang meminta pelatihan, seperti barista, membuat kue, menjahit hingga rias pengantin. Karena dinilai lebih aplikatif dan bisa langsung dimanfaatkan,” ujarnya.
Baca Juga: Merantau ke Ibu Kota Modal Pas-pasan, Ini 7 Tips Survive di Jakarta untuk Perantau Baru
Tak hanya itu, kalangan anak muda juga menunjukkan minat pada pelatihan kekinian. Di antaranya public speaking, konten kreator, hingga pembuatan podcast.
Rieke menambahkan, pihaknya kini tengah mendorong agar layanan pelatihan tidak hanya pada tahap dasar, tetapi ditingkatkan hingga level mahir. “Ini yang sedang kami upayakan agar segera terwujud,” katanya.
Di sektor pendidikan, Rieke mengakui kewenangan pemerintah kota terbatas hingga jenjang SMP. Sementara itu, banyak aspirasi datang dari siswa SMA hingga mahasiswa yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan.
“Untuk itu, kami akan mendorong bantuan ke pemerintah yang lebih tinggi, termasuk ke DPR RI, agar siswa SMA yang tidak mampu dan anak yang ingin kuliah bisa mendapatkan dukungan,” jelasnya.
Baca Juga: Perbandingan Harga Pesawat dan Bus Sleeper Surabaya–Jakarta, Mana Lebih Worth It Pasca Lebaran?
Selain itu, persoalan sosial juga menjadi sorotan. Rieke menyebut banyak keluhan dari warga terkait perubahan status desil yang menyebabkan mereka tidak lagi menerima bantuan sosial.
“Karena itu, saat pengisian data harus benar-benar akurat agar tidak terjadi salah sasaran,” tegasnya.
Di sisi lain, persoalan sampah masih menjadi keluhan paling dominan dari masyarakat. Menurutnya, penanganan sampah tidak bisa diselesaikan di satu titik saja, melainkan membutuhkan kolaborasi semua pihak.
“Memang ada beberapa RW yang kreatif dalam mengelola sampah, tapi jumlahnya masih terbatas. Kami berharap dalam waktu dekat pemerintah bisa menyediakan alat pendukung agar persoalan sampah ini bisa lebih cepat tertangani,” pungkasnya.
Editor : Bintang Pradewo