Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Perbedaan Kapal ASDP dan Pelni di Rute Merak–Bakauheni: Harga, Waktu, hingga Kenyamanan

Halimah Naila Yasmine • Selasa, 5 Mei 2026 | 14:13 WIB
Dua layanan yang sering dibandingkan masyarakat adalah kapal ASDP dan kapal PELNI. Meski sama-sama beroperasi di laut, keduanya memiliki perbedaan signifikan dari sisi biaya, waktu tempuh, hingga kenyamanan. (Dok ASDP)
Dua layanan yang sering dibandingkan masyarakat adalah kapal ASDP dan kapal PELNI. Meski sama-sama beroperasi di laut, keduanya memiliki perbedaan signifikan dari sisi biaya, waktu tempuh, hingga kenyamanan. (Dok ASDP)

JawaPos.com - Penyeberangan Selat Sunda melalui rute Merak–Bakauheni menjadi salah satu jalur transportasi tersibuk di Indonesia. Dua layanan yang sering dibandingkan masyarakat adalah kapal ASDP dan kapal PELNI. Meski sama-sama beroperasi di laut, keduanya memiliki perbedaan signifikan dari sisi biaya, waktu tempuh, hingga kenyamanan.

PT ASDP Indonesia Ferry menjadi operator utama di lintasan Merak–Bakauheni. Layanan ini memang dirancang khusus untuk penyeberangan jarak pendek dengan sistem roll-on/roll-off (Ro-Ro), di mana kendaraan dan penumpang dapat masuk langsung ke dalam kapal. Karena itu, ASDP menjadi pilihan utama masyarakat yang ingin menyeberang dengan cepat dan efisien.

Dari sisi biaya, ASDP tergolong lebih ekonomis. Tarif penumpang pejalan kaki relatif terjangkau, sementara kendaraan seperti motor dan mobil dikenakan biaya berdasarkan golongan. Dengan kisaran puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, ASDP dinilai lebih ramah bagi pengguna harian maupun perjalanan mudik.

Sementara itu, kapal PELNI memiliki struktur biaya yang berbeda. Tiket penumpang biasanya lebih mahal karena sudah termasuk fasilitas seperti tempat tidur dan makan. Namun, PELNI lebih ditujukan untuk perjalanan jarak jauh antar pulau besar di Indonesia, bukan penyeberangan singkat seperti Merak–Bakauheni.

Dari segi waktu tempuh, ASDP jauh lebih unggul untuk rute ini. Perjalanan di laut hanya memakan waktu sekitar 2 hingga 3 jam, bahkan bisa lebih cepat pada layanan tertentu. Meski demikian, total waktu perjalanan bisa bertambah jika memperhitungkan antrean masuk pelabuhan yang cukup padat, terutama saat musim liburan atau arus mudik.

Sebaliknya, kapal PELNI tidak dirancang untuk rute pendek. Waktu perjalanan bisa mencapai belasan jam hingga beberapa hari, tergantung rute yang ditempuh. Karena itu, jika digunakan untuk Merak–Bakauheni, PELNI tidak efisien baik dari sisi waktu maupun operasional.

Perbedaan juga terlihat jelas dari sisi kenyamanan. ASDP menawarkan fasilitas kursi duduk dengan pendingin udara, serta beberapa kapal eksekutif yang dilengkapi kursi reclining dan ruang yang lebih modern. Namun saat kondisi padat, penumpang bisa merasakan kepadatan dan keterbatasan ruang.

Di sisi lain, PELNI menawarkan konsep perjalanan seperti kapal besar dengan fasilitas tempat tidur atau kabin. Penumpang dapat beristirahat selama perjalanan panjang. Namun, suasana di kapal bisa terasa lebih ramai dan kurang privat, terutama pada kelas ekonomi yang dihuni banyak penumpang dalam satu ruang besar.

Secara umum, ASDP lebih unggul untuk kenyamanan perjalanan singkat karena cepat dan praktis. Sementara PELNI lebih cocok untuk perjalanan jauh yang membutuhkan waktu istirahat lebih lama di atas kapal.

Jika dilihat secara keseluruhan, ASDP menjadi pilihan paling rasional untuk rute Merak–Bakauheni. Selain cepat dan murah, layanan ini memang dirancang khusus untuk penyeberangan Selat Sunda yang padat dan beroperasi hampir setiap jam.

Sementara itu, PELNI tetap memiliki peran penting dalam sistem transportasi laut nasional, namun bukan untuk rute pendek seperti Merak–Bakauheni. Perbandingan keduanya menunjukkan bahwa setiap moda transportasi memiliki fungsi dan segmentasi yang berbeda sesuai kebutuhan perjalanan masyarakat.
Editor : Bintang Pradewo
#pelni #asdp #rute merak-bakauheni