JawaPos.com – Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012 Fauzi Bowo menilai Gubernur DKI Jakarta periode 1966–1977 Ali Sadikin telah meletakkan fondasi pembangunan kebudayaan yang menjadi salah satu pilar kemajuan Jakarta sebagai kota metropolitan.
Menurut pria yang akrab disapa Foke itu, kebudayaan bukan sekadar pelengkap pembangunan, melainkan fondasi penting dalam membentuk karakter dan identitas sebuah kota.
"Kebudayaan sebagai fondasi pembangunan bukan hanya sekadar pelengkap," kata Fauzi Bowo saat peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin di Jakarta, Jumat (17/7).
Kebudayaan Jadi Dasar Kemajuan Kota
Foke mengatakan sejumlah pemikiran Ali Sadikin masih relevan hingga kini, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan di era digital.
Ia mengisahkan salah satu gagasan besar Ali Sadikin berawal dari pertanyaan sederhana pada awal 1968 mengenai hilangnya para seniman yang sebelumnya kerap berkumpul di kawasan Senen.
Menurutnya, para seniman tidak lagi memiliki ruang untuk berkarya setelah kawasan tersebut berubah.
"Dari situlah lahir keyakinan bahwa pemerintah wajib menyediakan ruang bagi seniman untuk berkreasi, sebab kemajuan kota tidak cukup diukur dari gedung tinggi atau pertumbuhan ekonomi, melainkan juga dari kehidupan seni dan budaya masyarakatnya," ujarnya.
Baca Juga: Jakarta Kembali Jadi Daerah Tujuan Investasi Terbesar, Semester I 2026 Tembus Rp 173,6 Triliun
Foke menilai Ali Sadikin percaya bahwa kebudayaan mampu membangun karakter masyarakat, memperkuat identitas kota, sekaligus menjadi ruang dialog antarkelompok masyarakat. Karena itu, pemerintah tidak boleh bersikap pasif dalam mendukung perkembangan seni meskipun tidak selalu memberikan keuntungan secara fiskal.
Lahirkan Dewan Kesenian Jakarta
Prinsip tersebut diwujudkan melalui pembentukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada Juni 1968. Lembaga tersebut bertugas memberikan masukan kepada gubernur mengenai pembinaan kebudayaan di Jakarta.
"Bang Ali berpandangan bahwa kesenian mesti hidup dan berkembang sesuai denyut yang diinginkan Jakarta sendiri. Prinsip ini diwujudkan lewat pembentukan Dewan Kesenian Jakarta pada Juni 1968 yang bertugas memberi nasihat kepada Gubernur dalam membina kebudayaan Jakarta, diminta maupun tidak," kata Foke.
Ia menambahkan pendekatan serupa juga diterapkan saat pendirian Lembaga Kebudayaan Betawi pada 1977. Pengelolaan lembaga tersebut diserahkan kepada masyarakat, sementara pemerintah berperan memberikan pembinaan dan dukungan.
TIM Jadi Simbol Visi Ali Sadikin
Fauzi Bowo juga mengenang Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai simbol paling kuat dari visi kebudayaan Ali Sadikin. Kompleks kesenian yang diresmikan pada 10 November 1968 itu sengaja dibangun di pusat Jakarta agar mudah diakses masyarakat.
Menurutnya, TIM bukan sekadar kompleks gedung pertunjukan, tetapi menjadi wujud komitmen pemerintah menyediakan ruang bagi kreativitas dan perkembangan seni.
Dari kawasan tersebut lahir berbagai aktivitas seni lintas disiplin, mulai dari teater, musik, tari, sastra, seni rupa, hingga perfilman. TIM juga menjadi ruang pertemuan seniman, intelektual, mahasiswa, dan masyarakat yang melahirkan iklim budaya dinamis.
Foke menilai warisan kebijakan Ali Sadikin tersebut menjadi salah satu fondasi yang mengantarkan Jakarta berkembang sebagai pusat seni dan kebudayaan kontemporer di Indonesia.
Editor : Edy Pramana