JawaPos.com – Pemprov DKI Jakarta melaksanakan kick-off Penyusunan Kajian Pencanangan Jakarta Menuju Kota Global di Ruang Pola Bappeda, Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (10/9). Kajian itu untuk menguatkan peran Jakarta sebagai Kota Global.
Penjabat (Pj) Gubernur DKI Heru Budi Hartono menuturkan, kegiatan itu menguatkan peran Jakarta sebagai Kota Global dengan menempati peringkat 20 besar dalam Global City Index sebagaimana Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025–2045.
’’Kegiatan ini landasannya justru RPJPD. Maka ini kami detailkan lagi dengan mengundang expert (pakar) di bidang perkotaan, kesehatan, dan seterusnya,’’ ujar Heru.
Lebih lanjut, Heru menjelaskan, ada banyak hal yang harus dilakukan Jakarta untuk meningkatkan peringkatnya. Mulai dari peningkatan pariwisata hingga ekonominya. ’’Dan ini, tim dari Bappeda sudah mulai membuat panduan detailnya,’’ katanya.
Dalam kesempatan itu, Heru juga mengakui bahwa meski kajian sedang disusun, Jakarta terus berusaha meningkatkan perannya menjadi kota global. Salah satunya menekan angka kemiskinan ekstrem yang targetnya 0 persen dan stunting (tengkes) di bawah 5 persen pada tahun 2024.
Heru menyebutkan, Pemprov DKI sudah menggelontorkan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun untuk mengatasi tengkes maupun kemiskinan ekstrem. Mulai dari pemberian makanan tambahan, obat, hingga vitamin.
Dari hasil pengentasan tengkes, Pemprov DKI masih terus menemukan kasus hingga saat ini. Heru juga tidak menampik angka tengkes di Jakarta masih mengalami penambahan. Hal itu disebutkannya karena keaktifan jajarannya dalam mencari kasus tengkes.
’’Kami cari terus, kemarin sudah ketemu 9.000 kasus, sudah selesai (ditangani, Red). Lalu, ketemu lagi 15 ribu kasus, 10 ribu kasus, semua selesai. Kemarin, ketemu sekitar 2.000 kasus, ya sedang kami rawat,’’ jelas Heru.
Dengan penanganan dan temuan kasus itu, Heru mengaku tidak menghafal secara rinci persentase kasus tengkes aktif di Jakarta saat ini. Namun, dia yakin Pemprov DKI bisa mencapai target di bawah 5 persen pada akhir tahun ini.
’’Persentasenya saya lupa. Tapi, asal masyarakat bisa aktif ke puskesmas (bisa tercapai, Red). Jadi, kalau ketahuan stunting, dia aktif ke puskesmas, posyandu, gitu kira-kira. Ya, mudah-mudahan tidak ada urbanisasi dari daerah yang warganya ada stunting,’’ imbuhnya.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi