Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan Olahraga

Terinspirasi Dakwah Para Walisongo, Agama dan Budaya Punya Hubungan Kuat dan Tidak Terpisahkan

Hilmi Setiawan • Jumat, 3 Oktober 2025 | 15:02 WIB
Kegiatan Ngaji Budaya Kementerian Agama (Kemenag) yang berlangsung di UIN Walisongo Semarang (2/10). (Humas Kemenag)
Kegiatan Ngaji Budaya Kementerian Agama (Kemenag) yang berlangsung di UIN Walisongo Semarang (2/10). (Humas Kemenag)

JawaPos.com - Sejak sebelum kemerdekaan, hubungan antara agama dan kebudayaan sudah terjalin cukup kuat di Indonesia. Bahkan para Walisongo dalam berdakwah, juga memadukan unsur kebudayaan. Hubungan erat antara kebudayaan dan agama ini yang coba terus ditumbuhkan oleh Kemenag.

Seperti diketahui beberapa Walisongo berdakwah dengan media seni budaya. Misalnya Raden Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang. Putra dari Sunan Ampel itu berdakwah dengan alat musik tradisional Bonang. Dia juga menciptakan suluk, serta tembang Tombo Ati yang masih sering dinyanyikan sampai sekarang.

Upaya meneguhkan hubungan agama dengan kebudayaan itu, diantaranya dikupas dalam Ngaji Budaya: Haflah Mawlid al-Rasul. Acara yang digelar di UIN Walisongo Semarang pada Kamis (2/10) itu diikuti seribu lebih mahasiswa. Untuk memperkuat unsur budaya, turut diundang band Letto dan Gamelan Kiai Kanjeng.

Plt. Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Ahmad Zayadi mengungkapkan, bahwa agama dan budaya memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dalam dakwah. “Relasi antara agama dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan," katanya.

Menurut dia seni menjadi instrumen yang membuat nilai-nilai agama lebih mudah diterima dan tidak terasa kering. Zayadi juga mengingatkan bahwa Ngaji Budaya merupakan bentuk aktualisasi tradisi dakwah Walisongo. Seperti diketahui dakwah Islam yang dilakukan Walisongo memanfaatkan seni dan budaya sebagai media penyebaran Islam yang damai dan kontekstual.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Jenderal Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan, kegiatan Ngaji Budaya menjadi sarana efektif untuk mengajak generasi muda mencintai seni dan budaya. Tanpa meninggalkan nilai-nilai agama.

“Mereka (anak-anak muda) sangat dinamis, cepat menerima informasi, dan membutuhkan asupan informasi serta konten yang edukatif," kata dia.

Abu menjelaskan budaya adalah fondasi bangsa. Kemudian jangan pernah lupa pada ajaran agama sebagai pegangannya.

Menurut Abu, pendidikan melalui kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari jati diri bangsa. Ia mendorong generasi muda untuk bersikap terbuka terhadap arus informasi global, namun tetap berakar pada tradisi dan spiritualitas.

“Generasi muda boleh progresif, tetapi jangan sampai kehilangan akar, atau dalam istilah Jawa disebut wes ora njowo,” jelasnya.

Kasubdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam Kemenag Wida Sukmawati ikut mengingatkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya.

“Kalau generasi muda tidak diperkenalkan pada budaya, mereka bisa kehilangan akar budayanya. Bisa terjadi loss budaya,” ujarnya.

Kehadiran peserta Ngaji Budaya di UIN Walisongo Semarang itu terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa UIN Walisongo, mahasiswa UIN Yogyakarta, hingga masyarakat umum.

Sehingga menunjukkan bahwa Ngaji Budaya telah menjadi ruang inklusif yang menghubungkan nilai agama, seni, dan kehidupan sosial. Kemenag berharap kegiatan ini dapat memperkuat spiritualitas sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
kemenag