Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Targetkan Transaksi QRIS Mencapai Rp 5 Miliar, Dorong Pengembangan di Kepulauan Seribu

Arief Indra Dwisetyadi • Selasa, 18 November 2025 | 19:47 WIB
Kepala KPwBI Jakarta Iwan Setiawan mencoba pembayaran QRIS Di Pulau Pari, Kepulauan Seribu.
Kepala KPwBI Jakarta Iwan Setiawan mencoba pembayaran QRIS Di Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

JawaPos.com - Akselerasi digitalisasi pembayaran terus dilakukan di Jakarta. Utamanya, perluasan implementasi QRIS di lima wilayah kota yang ada di Jakarta.

Berdasar data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) DKI Jakarta, hingga September 2025, penerapan QRIS sudah mencapai 6 juta pengguna dan 6,3 juta merchant yang mencatat total transaksi sebesar Rp 3,8 miliar.

Kepala KPwBI Jakarta Iwan Setiawan menuturkan, dari capaian itu, yang paling besar itu di Jakarta Selatan. Sementara yang paling kecil ada di Kepulauan Seribu. Perincian lihat grafis.

Baca Juga: Jakpro Luncurkan Program Karya Ibu Berdaya melalui Pelatihan Seni Keramik 

“Adopsi QRIS di Kepulauan Seribu masih relatif rendah. Angkanya masih di bawah 1 persen dari total Jakarta. Yakni sekitar 4 ribu merchant atau 0,08 persen dan 22 ribu transaksi atau 0,004 persen dari total Jakarta. Jumlah penduduk yang hanya sekitar 30 ribu membuat skalanya kecil,” ujar Iwan.

Selain jumlah penduduk yang lebih kecil dibanding wilayah lainnya, ada beberapa tantangan lainnya untuk penerapan QRIS di Kepulauan Seribu. Di antaranya, keterbatasan jaringan internet hingga terbatasnya layanan Penyedia Jasa Pembayaran. Selain itu, variasi tingkat literasi digital masyarakat membuat pemanfaatan QRIS belum merata.

Menurut BI Jakarta, sebagian besar pulau berpenduduk sudah menggunakan QRIS, namun beberapa pulau kecil masih menunggu perbaikan konektivitas. “Kami akan koordinasi agar kendala sinyal bisa teratasi supaya transaksi berjalan lebih baik,” lanjutnya.

Kepulauan Seribu dinilai BI memiliki peluang besar pengembangan QRIS dengan peningkatan destinasi wisata digital. Sebab, mayoritas penduduk bekerja di sektor pariwisata. Mulai dari homestay, kuliner, dan jasa pemandu.

Penerapan QRIS Cross Border diproyeksikan mampu memudahkan wisatawan mancanegara bertransaksi tanpa penukaran uang asing. Sementara QRIS Tap berpotensi mendukung pembayaran transportasi antarpulau, sehingga wisata menjadi lebih nyaman, modern, dan aman.

“Prinsipnya, semua warga Jakarta harus mendapat manfaat digitalisasi. No one left behind, termasuk masyarakat di kepulauan,” tambah Iwan.

Lebih lanjut Iwan menjelaskan, realisasi QRIS di Jakarta mencatat pertumbuhan signifikan dari target yang ditentukan sepanjang 2025. Hingga Triwulan III 2025, volume transaksi mencapai Rp 3,8 miliar transaksi, melesat 182 persen (yoy) dan berkontribusi 37,35 persen terhadap total nasional. Secara nasional, transaksi QRIS tercatat sekitar Rp 10,3 miliar.

Pertumbuhan juga terlihat dari sisi pengguna. Total pengguna QRIS di Jakarta kini menembus 6 juta, dari jumlah itu ada tambahan 140 ribu pengguna dari target tahunan 120 ribu.

Begitu juga dengan Merchant, juga mencatat peningkatan dengan 601 merchant baru atau tumbuh 13,6 persen secara tahunan (yoy) menjadi 6,3 juta merchant.

“Dengan tren ini, sampai akhir tahun, harapan kami volume transaksi bisa menyentuh Rp 5 miliar. Memang ada beberapa tantangan lain yang akan kami hadapi ke depan. Utamanya terkait penduduk yang ber-KTP Jakarta itu hanya 8 juta orang,” jelasnya. Jadi, meskipun merchant dan pengguna bisa ditingkatkan ke depan, jumlahnya tidak terlalu signifikan melihat data warga yang ber-KTP Jakarta. Namun begitu, bersama Pemprov DKI, BI akan meningkatkan kolaborasi digitalisasi yang berkelanjutan di Jakarta.(rya/)

 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#jakpro