JawaPos.com – Dewasa ini, kehadiran kecerdasan artifisial (AI) tak bisa dinafikan. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno mendorong penggunaannya diperuntukkan pada kemanusiaan.
Diakuinya, setiap inovasi teknologi membawa risiko ketimpangan apabila hanya dikuasai oleh kelompok tertentu. Karena itu, pemerintah mendorong paradigma technology for humanity, di mana teknologi harus memperkuat kelompok rentan, membantu masyarakat terdampak bencana, membantu penyandang disabilitas, hingga memperluas akses layanan publik.
Menurut dia, di tengah kondisi bencana saat ini, teknologi terutama AI akan sangat membantu penanganan. Misalnya, dalam pencarian korban yang saat ini masih dinyatakan hilang. Lalu, membantu menyalurkan bantuan ke lokasi bencana dengan pesawat tanpa awak dan lainnya.
’’Manfaatkan teknologi dalam precision policy mencegah bencana, memperbaiki ekosistem kita, ketangguhan kita, serta mengembangkan teknologi untuk memiliki respons cepat bagi kerja-kerja manusia," paparnya dalam acara Peresmian Masyarakat Teknologi Cerdas Indonesia (MTCI) bersama MAXY Academy dan Robotic Explorer di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Rabu (3/12).
Dalam kesempatan itu, Pratikno pun berkesempatan mencoba kemampuan sebuah robot perempuan berbasis AI yang dipamerkan di atas panggung. Ia lantas meminta saran terkait langkah penanganan bencana yang terjadi di Sumatera.
’’Bagaimana cara menanggulangi bencana yang terjadi saat ini sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan?" tanyanya.
Lucunya, sang robot justru balik meminta penjelasan. Dia ingin Pratikno mendetailkan permintaannya. Apakah tentang rekomendasi menangani bencana atau hal lain. Respon ini sontak membuat Pratikno dan seluruh undangan terbahak. Pratikno pun kembali mendekat dan bertanya dengan detail, langkah apa saja untuk menangani bencana.
Robot wanita dengan potongan bob itu lantas memberikan jawaban runut mengenai langkah-langkah dalam penanganan bencana. Mulai dari evakuasi warga ke tempat aman, koordinasi dengan pihak berwenang dan lembaga kemanusiaan, sediakan makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat penampungan. Bahkan, saran soal edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana dan pantau situasi lewat kanal resmi juga diberikan.
Pratikno sendiri mengaku, saat ini pemerintah tengah bekerja keras, siang dan malam, dalam penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Meski diakuinya, tantangan yang dihadapi saat ini sangat berat. Medan yang terdampak bencana sangat luas, cuaca masih basah, hingga akses yang terputus.
"Seluruh tim dikerahkan untuk membantu saudara-saudara kita yang terisolir karena putusnya jalan logistik. Pemerintah bekerja keras, dan mohon maaf jika masih kurang maksimal menghadapi tantangan berat ini," paparnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengungkapkan, bahwa pemanfaatan teknologi cerdas memungkinkan layanan publik lebih responsif, mobilitas lebih aman dan terkoneksi, hingga pemerataan akses pendidikan dan kesehatan lebih mudah dilakukan. Yang kemudian dapat membawa sebuah kota menuju kota yang layak huni dan kompetitif di tingkat global.
"Dalam konteks inilah kehadiran IS-SMART menjadi penting. Ekosistem teknologi hanya dapat tumbuh jika ditopang jejaring pengetahuan yang kuat, ruang kolaborasi yang terbuka, serta keterlibatan seluruh pemangku kepentingan," tuturnya.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, kemajuan talenta digital sudah mulai menggeliat di kalangan masyarakat, tak terkecuali di dunia pendidikan. Hal ini disebutnya sejalan dengan arah pembangunan Jakarta, yang tengah bertransformasi menuju Kota Global dan Pusat Perekonomian Nasional. Karena itu, target Jakarta untuk masuk Top 50 Global Cities pada 2030 dan Top 20 pada 2045 bukan hanya angan.
"Bagi kami, smart city bukan sekadar digitalisasi layanan, melainkan pendekatan baru dalam memahami kebutuhan warga dan meresponsnya melalui sistem yang cepat, terintegrasi, dan setara," pungkasnya.
Editor : Arief Indra Dwisetyadi