Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Tangerang Selatan Dikepung Sampah, Puspiptek Serpong Bangun Fasilitas Pengolahan Sampah Jadi Energi

Hilmi Setiawan • Kamis, 18 Desember 2025 | 09:39 WIB
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN Prof. Cuk Supriyadi Ali Nandar (tengah) di Energi Week 2024 BRIN di Serpong (17/12). (Hilmi/Jawa Pos)
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN Prof. Cuk Supriyadi Ali Nandar (tengah) di Energi Week 2024 BRIN di Serpong (17/12). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Kota Tangerang Selatan beberapa hari terakhir sedang jadi sorotan. Pemicunya adalah sampah menumpuk di mana-mana, karena tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang sedang diperbaiki.

Beberapa pihak berinisiatif untuk menerapkan pengelolaan sampah secara ramah lingkungan. Seperti mengolah sampah jadi sumber energi. Upaya tersebut dilaksanakan oleh Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN. Mereka membangun pengolahan sampah jadi sumber energi di kawasan Puspiptek BRIN di Serpong.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN Prof. Cuk Supriyadi Ali Nandar (tengah) di Energi Week 2024 BRIN di Serpong (17/12). Dia mengatakan sudah menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Banten dalam pengelolaan sampah.

Cuk mengatakan BRIN saat ini melakukan inovasi pengelolaan sampah. Khusus di komplek BRIN di Puspiptek Serpong, dibangun fasilitas pengelolaan sampah jadi energi. Sehingga sampah dari pegawai di Puspiptek Serpong tidak sampai keluar dari kawasan. Tetapi bis diolah langsung jadi sumber energi.

"Sehari sampah diproduksi, sehari itu juga diolah jadi sumber energi," katanya. Sehingga produksi sampah dari aktivitas ratusan pegawai di dalam Puspiptek Serpong tidak ikut membebani pengelolaan sampah di luar kawasan.

Dia menegaskan BRIN berupaya berkontribusi untuk mengatasi perubahan iklim. Selain pembangunan unit pengolahan sampah jadi sumber energi, BRIN juga terlibat dalam inovasi bioetanol generasi kedua. Produksi bioetanol ini dilakukan di Kamojang, Kabupaten Bandung.

Upaya penelitian dan inovasi yang dilakukan BRIN itu mendapatkan dukungan dari Kemendiktisaintek. Pasalnya inovasi menjadi penggerak motor Indonesia untuk bisa jadi negara maju 2045 nanti. Upaya meningkatkan inovasi itu perlu dukungan SDM peneliti yang mencukupi.

Sayangnya analisa dari Kemendiktisaintek, Indonesia masih kekurangan peneliti. Pentingnya keberadaan peneliti tersebut disampaikan Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemendiktisaintek Prof. Yos Sunitiyoso. Menurut dia ketika jumlah peneliti banyak, maka jumlah inovasi ikut banyak juga.

Keberadaan inovasi itu jadi salah satu motor penggerak Indonesia untuk bisa jadi negara maju. "Saat ini rasio di Indonesia adalah 1.000 peneliti berbanding satu juta penduduk," katanya. Idealnya untuk bisa jadi negara maju, Indonesia butuh rasio 4.000 peneliti berbanding satu juta jiwa penduduk.

Yos menegaskan untuk jadi negara maju, harus ada lompatan di bidang inovasi. Lompatan tersebut, berada di tangan para peneliti. "Tentunya para peneliti yang berkualitas," jelasnya.

Untuk mengawal upaya penambahan jumlah peneliti tersebut, dia mengatakan Kemendiktisaintek menjalankan sejumlah program. Diantaranya lewat kegiatan bina peneliti. Kemudian juga pembinaan talenta sejak dini. Bagi Yos yang tidak kalah penting adalah hilirisasi hasil penelitian atau inovasi para peneliti tersebut.

"Peneliti itu jadi pondasinya," katanya. Sementara itu perlu didukung dengan riset dan publikasi yang kuat. Sehingga bisa menghasilkan produk inovasi bernilai tinggi. Seperti inovasi di sektor kendaraan listrik atau sejenisnya, yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan tetap menjaga kelestarian alam dari efek perubahan iklim.

Editor : Arief Indra Dwisetyadi
#BRIN