Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Berita Bohong dan Ujaran Kebencian Tahun Ini Diprediksi Naik, Platform Medsos Tidak Boleh Pasif

Hilmi Setiawan • Selasa, 6 Januari 2026 | 19:50 WIB
Eksekutif Direktur Evident Institute Rinatania Anggraeni Fajriani (kiri) bersama tim memaparkan soal disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian sepanjang 2025 di Jakarta (6/1). (Hilmi/Jawa Pos)
Eksekutif Direktur Evident Institute Rinatania Anggraeni Fajriani (kiri) bersama tim memaparkan soal disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian sepanjang 2025 di Jakarta (6/1). (Hilmi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Lembaga Evident Institute membuat kajian penyebaran berita atau informasi DFK (Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian) sepanjang 2025. Hasilnya Juli-Agustus merupakan periode tertinggi informasi DFK. Tahun ini informasi DFK diprediksi bakal semakin marak, khususnya di platform media sosial (medsos).

Paparan pemantauan postingan atau informasi DFK itu disampaikan Eksekutif Direktur Evident Institute Rinatania Anggraeni Fajriani di kantornya di kawasan Tebet, Jakarta (6/1). Dia mengatakan peak season atau tingkat tertinggi penyebaran berita atau informasi DFK terjadi pada periode Juni-Agustus.

"Tema terbanyaknya soal politik. Objek atau sasaran DFK yang terbanyak adalah Pak Prabowo," katanya. Selain itu, institusi Polri juga cukup banyak menjadi objek atau sasaran DFK. Selain itu juga ada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.

Temuan menarik dari Evident Institute adalah setiap kali banyak tersebar berita DFK, diikuti dengan pelemahan kurs Rupiah terhadap dolar AS (USD). Dia mencontohkan pada 30 Juli ketika banyak informasi DFK, kurs Rupiah turun di kisaran Rp 16.300/USD. Kemudian besoknya melorot lagi di Rp 16.600/USD.

"Kami tidak menarik kesimpulan sebab akibat," tegasnya.

 

Dia hanya menyampaikan dua data. Yaitu ketika informasi atau berita DFK sedang marak, maka nilai Rupiah melorot. Kondisi ini bisa jadi adanya sentimen dari masyarakat atau pelaku ekonomi. Kemudian mempengaruhi nilai tukar Rupiah kepada dolar AS.

Lebih lanjut Rina mengatakan tahun ini postingan atau informasi DFK diprediksi bakal naik. Bahkan kenaikannya bisa mencapai 20 persenan. Kondisi ini diantaranya dipicu aktivitas media sosial (medsos) masyarakat yang meningkat atau intensif.

Dia menegaskan upaya menekan adanya berita atau informasi DFK tidak bisa mengandalkan Pemerintah saja. Tetapi juga melibatkan platform medsos. "Platform medsos tidak boleh pasif," katanya.

Dia mencontohkan platform X dengan layanan kecerdasan buatan bernama Grok. Belakangan layanan kecerdasan buatan Grok kerap digunakan untuk editing foto. Misalnya mengubah foto seseorang sehingga berpakaian bikini.

Rina menegaskan platform X seharusnya mengontrol kecerdasan buatan Grok, sehingga tidak dijadikan sumber informasi negatif. Baik itu menjadi bahan mengejek, menghasut, mengolok-olok, dan sejenisnya.

Evident Institute juga menilai konten yang mengandung unsur DFK, berpotensi digunakan secara sistematis untuk menghambat eksekusi kebijakan dan program strategis negara. Terutama pada momen fiskal krusial.

“Dalam konteks ini, Disinformasi, Fitnah, dan Kebencian (DFK) tidak lagi dapat diperlakukan sebagai isu komunikasi semata," tutur Rijadh Djatu Winardi, selaku Direktur Ekonomi Evident Institute.

Dia mengatakan konten DFK juga harus ditempatkan sebagai risiko struktural terhadap stabilitas ekspektasi publik dan kepercayaan ekonomi.

Dalam Konferensi Pers Kaleidoskop Kebohongan Publik 2025 dan Tantangan 2026 bertajuk Pola Isu, Target, dan Medium Persebaran tersebut, Evident Institute memperkirakan tahun 2026 menandai pergeseran informasi. Dari fase konsolidasi menuju fase perang narasi yang lebih terstruktur dan instrumentalis setelah pada tahun 2025. Selain itu DFK masih berfungsi sebagai kebisingan yang terfragmentasi.

Prediksi DFK 2026 didapat melalui telaah data terbuka DFK yang terdokumentasi sepanjang tahun 2025 disandingkan dengan data variabel ekonomi tertentu dan index ekonomi. Sementara proyeksi isu DFK tahun 2026 dihitung menggunakan pendekatan hibrida yang mengkombinasikan Regresi Linear dan metode Prophet.

Melalui proses tersebut Evident Institute menilai kebutuhan utama pada 2026 bukan sekadar respons terhadap DFK tetapi kapasitas mitigasi yang presisi. Pemantauan DFK harus diposisikan sebagai early warning system atau peringatan dini. Sehingga mampu mendeteksi friksi informasi sebelum berubah menjadi kepanikan kolektif. 

Editor : Arief Indra Dwisetyadi