JawaPos.com - Olahraga padel semakin populer di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, terutama di ibu kota seperti Jakarta. Lapangan padel kini semakin mudah ditemui, dan hampir setiap hari dipadati oleh anak muda, mahasiswa, pekerja kantoran, pebisnis, hingga figur publik yang ingin mencoba olahraga yang sedang tren ini. Padel menjadi pilihan karena permainannya seru, sosial, dan relatif mudah dipelajari bahkan untuk pemula.
Memasuki bulan Ramadan, banyak warga ibu kota yang tetap ingin aktif dan mengikuti tren padel tanpa harus mengorbankan kesehatan saat berpuasa. Meski menahan makan dan minum seharian, olahraga tetap bisa dilakukan selama strategi dan intensitasnya tepat. Untuk kamu yang ingin tetap bermain padel saat puasa, berikut beberapa tips agar tetap aman, bugar, dan tidak berlebihan.
Padel sendiri merupakan olahraga raket yang sekilas mirip tenis, namun dimainkan di lapangan yang lebih kecil dan dikelilingi dinding kaca seperti squash, sehingga bola bisa memantul dan tetap dimainkan. Permainan ini cenderung eksplosif dengan banyak pergerakan cepat dan rally, sehingga membutuhkan pengaturan energi yang baik, terutama saat tubuh sedang berpuasa.
Tips pertama adalah memilih waktu yang paling aman. Waktu ideal bermain padel saat puasa adalah 60–90 menit menjelang berbuka sehingga setelah selesai kamu bisa langsung rehidrasi dan mengisi energi. Alternatif lainnya adalah 1–2 jam setelah berbuka, ketika asupan cairan dan energi sudah kembali stabil. Hindari bermain di tengah hari karena risiko dehidrasi dan kelelahan jauh lebih tinggi.
Tips kedua, turunkan intensitas permainan. Karena padel termasuk olahraga dengan intensitas cukup tinggi, kamu bisa mengurangi durasi bermain dari biasanya 90 menit menjadi sekitar 45–60 menit. Hindari rally yang terlalu panjang dan tempo permainan yang terlalu cepat. Fokuslah pada teknik, kontrol bola, dan placement dibandingkan mengandalkan power.
Tips ketiga adalah memperhatikan durasi dan format permainan. Gunakan sistem short set atau batasi jumlah game agar tidak terlalu menguras tenaga. Beri waktu istirahat lebih sering antar game untuk menstabilkan napas dan detak jantung. Sebaiknya hindari sesi yang terlalu kompetitif karena bisa membuatmu memaksakan diri tanpa sadar.
Tips keempat, pastikan strategi nutrisi yang tepat. Saat sahur, konsumsi karbohidrat kompleks seperti oat atau nasi merah agar energi bertahan lebih lama, sertai dengan protein yang cukup untuk menjaga massa otot, serta penuhi kebutuhan cairan. Saat berbuka, lakukan rehidrasi secara bertahap dengan air putih dan elektrolit alami. Jika bermain setelah berbuka, hindari langsung makan berat sebelum bertanding agar tidak terasa begah.
Tips kelima adalah melakukan pemanasan dan pendinginan lebih lama dari biasanya. Karena tubuh berada dalam kondisi energi terbatas, pemanasan sekitar 10–15 menit sangat penting untuk mengurangi risiko cedera. Pendinginan juga membantu proses pemulihan serta menurunkan stres metabolik setelah bermain.
Tips keenam, dengarkan sinyal tubuh. Jika muncul gejala seperti pusing, lemas berlebihan, kram, atau detak jantung terasa tidak stabil, segera hentikan permainan. Jangan memaksakan diri demi menyelesaikan satu set tambahan karena kesehatan tetap menjadi prioritas utama selama berpuasa.
Tips ketujuh adalah mengatur frekuensi bermain. Idealnya, bermain padel cukup 2–3 kali per minggu selama Ramadan agar tubuh tetap aktif namun tidak mengalami overtraining. Memberi waktu istirahat yang cukup akan membantu tubuh beradaptasi dengan kondisi puasa sekaligus menjaga performa tetap optimal.
Kesimpulannya, bermain padel saat puasa bukanlah hal yang berbahaya dan tetap memberikan manfaat kebugaran, selama dilakukan dengan perencanaan yang baik. Kuncinya adalah mengontrol intensitas, memilih waktu yang tepat, menjaga asupan nutrisi dan cairan, serta tidak memaksakan diri. Dengan strategi yang tepat, kamu tetap bisa mengikuti tren padel di Jakarta tanpa mengorbankan kesehatan selama bulan Ramadan.
Editor : Bintang Pradewo