Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Komunitas Lari Jadi Cara Baru Anak Muda Bangun Relasi, Layakkah Disebut Dating App Baru?

Azmy Muhammad Kiranova • Rabu, 15 April 2026 | 16:11 WIB
ILUSTRASI: Running (fitnessfirst.com)
ILUSTRASI: Running (fitnessfirst.com)

JawaPos.com - Olahraga lari kembali menemukan momentumnya di berbagai kota besar, termasuk di Jakarta. Dalam beberapa waktu terakhir, semakin banyak komunitas lari bermunculan, mulai dari yang berbasis lingkungan perumahan hingga yang rutin berkumpul di titik-titik populer seperti kawasan Sudirman dan Gelora Bung Karno, terutama saat akhir pekan atau car free day.

Fenomena ini tidak hanya mencerminkan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat, tetapi juga menunjukkan perubahan cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam membangun koneksi sosial. Komunitas lari kini tidak lagi sekadar wadah untuk berolahraga, melainkan berkembang menjadi ruang interaksi yang lebih luas.

Di tengah kejenuhan terhadap aplikasi kencan digital, komunitas lari mulai dilihat sebagai alternatif baru untuk bertemu orang. Konsep ini bahkan kerap disebut sebagai “the new dating app”. Dibandingkan menilai seseorang dari profil dan foto, komunitas lari menawarkan pertemuan langsung dengan orang-orang yang memiliki minat dan gaya hidup yang serupa.

Baca Juga: Rekomendasi 7 Book Cafe di Jakarta yang Nyaman untuk Baca Buku sambil Ngopi Santai

Interaksi yang terjadi pun cenderung lebih natural. Percakapan bisa dimulai saat berlari berdampingan dengan ritme yang sama, beristirahat sejenak untuk minum, hingga berlanjut ke aktivitas santai seperti sarapan bersama setelah sesi lari. Pola interaksi ini menciptakan ruang komunikasi yang lebih organik tanpa tekanan seperti yang sering ditemui di platform digital.

Fenomena ini juga didukung oleh berbagai laporan global. Data dari Strava dalam laporan tren olahraga 2025 menunjukkan bahwa keanggotaan klub lari meningkat hingga 59 persen dalam periode 2024 hingga 2025. Menariknya, motivasi utama generasi Z dalam berolahraga tidak lagi semata soal kesehatan, tetapi juga untuk membangun koneksi sosial.

Riset dari LADbible Group bahkan mencatat bahwa sekitar 72 persen Gen Z bergabung dengan komunitas lari dengan tujuan utama untuk bersosialisasi dan bertemu orang baru. Sekitar 22 persen di antaranya menyatakan bahwa klub lari layak disebut sebagai bentuk baru dari aplikasi kencan.

Baca Juga: Komisi-Komisi DPRD Kota Bekasi Bergerak Masif Lakukan Uji Petik dan Tinjauan Lapangan untuk Tindak Lanjut LKPJ 2025

Platform gaya hidup seperti Service95 juga melihat fenomena ini sebagai pergeseran budaya. Komunitas lari disebut sebagai “group chat baru” di dunia nyata, di mana interaksi tidak lagi terjadi melalui layar, melainkan secara langsung dalam aktivitas bersama.

Di kota metropolitan, tren ini semakin terlihat jelas. Banyak komunitas lari yang tidak hanya fokus pada olahraga, tetapi juga membangun ekosistem sosial, misalnya dengan mengakhiri sesi lari di kafe atau ruang publik. Aktivitas seperti *post-run brunch* menjadi bagian dari rutinitas yang memperkuat relasi antaranggota.

Fenomena serupa memang banyak dibahas dalam berbagai laporan dan riset yang berangkat dari kota-kota besar dunia seperti London dan New York. Namun, pola yang sama kini juga mulai terlihat di Jakarta. Komunitas lari di ibu kota tidak hanya tumbuh dari sisi jumlah, tetapi juga dari cara mereka membangun interaksi sosial di dalamnya.

 

Aktivitas seperti lari bersama, berbincang di sela sesi, hingga berkumpul setelahnya menunjukkan bahwa fungsi komunitas ini telah berkembang. Ia bukan lagi sekadar ruang olahraga, melainkan juga wadah untuk membangun koneksi yang lebih nyata di tengah kehidupan metropolitan yang serba cepat dan digital.

Editor : Bintang Pradewo
#komunitas lari #dating app