Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Tetap Produktif dan Aktif tapi Sering Overthinking? Bisa Jadi Kamu Mengalami Quarter Life Crisis, Ini 7 Tandanya yang Sering Diabaikan

Deby Alya Ramadhani • Sabtu, 9 Mei 2026 | 17:38 WIB
Ilustrasi Quarter Life Crisis (Mahevash Muses)
Ilustrasi Quarter Life Crisis (Mahevash Muses)

JawaPos.com – Di media sosial, hampir semua orang menunjukkan kehidupan yang baik, rapi, menyenangkan, dan produktif. Sayangnya, feed Instagram yang estetik atau story yang memperlihatkan tawa, terkadang berbanding terbalik dengan yang dirasakan oleh orang tersebut. Banyak anak muda, khususnya Gen Z dan Milenial tengah berada dalam fase quarter life crisis.

Quarter life crisis merupakan kondisi saat seseorang mulai merasa bingung, cemas, dan mempertanyakan kehidupan yang selama ini dijalankan. Fase ini seringkali melanda dewasa muda di usia 20-an hingga 30 awal. Quarter life crisis akan membuat mereka meragukan eksistensi, arti, hingga tujuan dari hidup mereka.

Mengutip dari mindbodygreen, psikolog berlisensi, Rachel Needle, PsyD, mengindikasikan bahwa rasa ketidakpastian itu umumnya melanda saat seseorang mulai mencari tahu siapa diri mereka dan apa yang mereka mau. Oleh karena itu, orang yang mengalami quarter life crisis biasanya akan tetap menjalankan kesehariannya dengan normal. Meskipun tersamarkan dengan kehidupan normal, quarter life crisis dapat dikenali melalui beberapa tanda berikut.

  1. Tetap Produktif, Tapi Diam-Diam  Mulai Kehilangan Semangat

Orang yang mengalami quarter life crisis memang masih bisa bekerja, kuliah, atau menjalankan rutinitas seperti biasanya. Akan tetapi, mereka akan mulai kehilangan rasa antusias atau semangat terhadap hal-hal tersebut, bahkan yang dulu disukai. Kondisi ini juga bisa disebut sebagai hidden burnout atau kelelahan emosional yang tersamarkan.

  1. Merasa Harus Selalu Sibuk dan “Ramai” agar Tidak Kepikiran

Meskipun motivasinya mulai hilang, beberapa orang justru menambah kesibukan diri. Jadwal dibuat penuh, baik untuk mengikuti berbagai kegiatan atau bertemu banyak orang, dan waktu luang dialihkan untuk “scrolling” di media sosial. Tujuannya, bukan untuk produktif, melainkan untuk mendistraksi otak agar tidak sempat memikirkan tentang kecemasannya sendiri.

  1. Bersosial, Tapi Tetap Merasa Kesepian

Dewasa muda yang mengalami quarter life crisis, seringkali tidak menarik diri sepenuhnya dari sosial. Sebaliknya, mereka masih “nongkrong”, bercanda, bahkan aktif di grup pertemanan. Akan tetapi, rasa kesepian serta pemikiran tentang tekanan untuk melakukan aktivitas sosial, biasanya timbul setelah sampai di rumah.

  1. Sering Membandingkan Diri dengan Teman Sebaya

Bisa dikatakan, ini adalah tanda paling umum quarter life crisis, sekaligus bisa dikatakan sebagai pemicu. Para muda-mudi yang seringnya melihat kehidupan luar melalui media sosial, mulai mempersepsikan postingan di sosmed sebagai kehidupan asli orang lain. Imbasnya, saat mereka melihat teman memposting kehidupan yang “lebih baik”, seperti menikah, karir bagus, atau jalan-jalan, mereka akan merasa tidak percaya diri dan cemas akan kehidupannya sendiri.

  1. Overthinking tentang Kehidupan Masa Depan Sebelum Tidur

Di siang hari, mungkin semuanya terasa aman dan baik-baik saja. Tapi saat malam datang dan sekeliling mulai sunyi, pertanyaan tentang ‘bagaimana kehidupan mereka di masa depan’, atau ‘apakah pekerjaan saat ini bisa bertahan lama’ mulai hadir dan memenuhi pikiran. Kecemasan tentang masa depan juga bisa diperparah oleh tekanan dari lingkungan sekitar.

  1. Sulit Membuat Keputusan, baik Kecil maupun Besar

Mengutip dari beberapa web kesehatan, salah satu pengaruh terbesar quarter life crisis dapat terlihat pada kemampuan seseorang dalam membuat keputusan. Orang yang mengalami krisis ini banyak memikirkan kemungkinan resiko dari setiap pilihan. Imbasnya, ia akan sulit mengambil keputusan dan bisa berakibat pada hilangnya peluang memperbaiki masa depan.

  1. Sering Bertanya, ‘Inikah Kehidupan yang Diinginkan?’

Sinyal lain yang sering muncul saat seseorang berada pada quarter life crisis adalah mulai mempertanyakan tujuan hidup sendiri. Tak jarang meskipun sudah memiliki pekerjaan dan kehidupan yang stabil, mereka tetap merasa ada yang kurang. Umumnya, mereka akan sering bertanya pada diri sendiri, apakah kehidupan saat ini benar sesuai keinginan pribadi atau justru penjara yang dibangun dari mengikuti ekspektasi orang lain.

Menurut sejumlah penelitian psikologi, pencarian makna hidup menjadi indikasi utama dalam quarter life crisis. Banyak anak muda bukan hanya stres soal uang atau pekerjaan, tapi juga merasa kehilangan arah dan identitas diri. Meskipun begitu, itu bukanlah penghalang bagi mereka untuk terus menjalani kehidupan setiap harinya.

Editor : Bintang Pradewo
#Quarter Life Crisis #overthinkung