Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Dulu Tempat Karantina, Kini Jadi Simbol Persiapan Haji Indonesia: Mengenal Asrama Haji Pondok Gede

Muhammad Irfan Hidayat • Rabu, 13 Mei 2026 | 11:32 WIB
Asrama Haji Pondok Gede. (Dok Asrama Haji Jakarta)
Asrama Haji Pondok Gede. (Dok Asrama Haji Jakarta) 

JawaPos.com - Menjelang musim haji 2026, kawasan Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, mulai kembali dipadati calon jemaah. Koper besar berjajar di lorong-lorong gedung, keluarga sibuk mengantar sanak saudara, sementara petugas hilir mudik memastikan proses keberangkatan berjalan lancar. Dari tempat inilah ribuan jemaah Indonesia memulai perjalanan spiritual menuju Tanah Suci setiap tahunnya.

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, nama Asrama Haji Pondok Gede tentu sudah tidak asing lagi. Lokasinya yang berada di pinggir Jalan Raya Pondok Gede membuat kawasan ini selalu ramai ketika musim haji tiba. Namun di balik aktivitas keberangkatan jemaah, tempat ini ternyata menyimpan sejarah panjang yang sudah dimulai sejak era 1970 an.

Asrama Haji Pondok Gede dikenal sebagai asrama haji pertama milik Indonesia. Tempat ini dibangun sebagai jawaban atas kebutuhan pelayanan jemaah haji yang saat itu terus meningkat. Pada masa lalu, pemerintah Indonesia bahkan belum memiliki fasilitas khusus untuk menampung dan mempersiapkan jamaah sebelum berangkat ke Arab Saudi.

Baca Juga: Ubi Makin Digemari, Ini 5 Olahannya yang Paling Viral dan Bisa Jadi Ide Usaha

Kala itu, perjalanan haji masih banyak dilakukan menggunakan kapal laut dan memakan waktu sangat panjang, bahkan bisa berbulan-bulan. Jemaah biasanya dikumpulkan di beberapa titik keberangkatan tanpa fasilitas karantina yang memadai. Situasi mulai berubah ketika pemerintah Arab Saudi menemukan kasus penyakit Kolera Eltor pada jemaah asal Indonesia di awal 1970-an.

Karena temuan tersebut, pemerintah Saudi mewajibkan calon jemaah haji Indonesia menjalani masa karantina sebelum keberangkatan dan setelah kembali ke Tanah Air. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO saat itu juga menyatakan Indonesia sebagai salah satu wilayah yang terdampak wabah Kolera Eltor.

Pemerintah Indonesia akhirnya menerapkan kebijakan karantina bagi jemaah haji selama lima hari sebelum berangkat dan lima hari setelah pulang dari Arab Saudi. Tujuannya untuk memastikan kesehatan jemaah sekaligus mencegah penyebaran penyakit menular. Namun karena belum memiliki fasilitas sendiri, pemerintah harus menyewa berbagai wisma dengan biaya besar untuk menampung para jamaah.

Melihat kebutuhan yang semakin besar, pemerintah kemudian mulai merencanakan pembangunan asrama haji permanen. Pada 24 April 1974 diterbitkan Surat Perintah Nomor SP-08/1974 tentang pembentukan Tim Perencanaan Pembangunan Asrama Karantina Haji. Tim ini kemudian mencari lokasi strategis yang cocok dijadikan pusat embarkasi haji di Jakarta.

Baca Juga: Viral Vibes India di Jakarta! Shiva Mandir, Kuil Hindu Tamil Tertua di Jakarta Kembali Disorot

Pilihan akhirnya jatuh pada kawasan di pinggir Jalan Raya Pondok Gede, Jakarta Timur. Lokasi tersebut dipilih karena dinilai strategis dan dekat dengan Bandara Halim Perdanakusuma yang pada masa itu masih menjadi bandara internasional utama Indonesia. Kedekatan dengan bandara dianggap penting agar proses keberangkatan jemaah menjadi lebih mudah dan efisien.

Pembangunan Asrama Haji Pondok Gede mulai dilakukan pada 1977 setelah Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, mengeluarkan izin penggunaan lahan. Kompleks asrama kemudian dibangun di kawasan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.

Pada 1978, pembangunan fisik mulai berjalan di atas lahan seluas lebih dari 15 hektar. Kapasitas awalnya mencapai hampir 3 ribu orang. Kehadiran Asrama Haji Pondok Gede akhirnya menjadi tonggak penting dalam sejarah pelayanan haji Indonesia karena untuk pertama kalinya pemerintah memiliki fasilitas khusus bagi calon jemaah haji.

Seiring waktu, fungsi asrama haji tidak lagi hanya sebagai tempat karantina. Kini, Asrama Haji Pondok Gede menjadi pusat persiapan keberangkatan jemaah sebelum menuju Arab Saudi. Di tempat ini, jamaah mengikuti pemeriksaan kesehatan, pembagian kelompok terbang, manasik, hingga proses administrasi keberangkatan.

Menariknya lagi, kawasan Asrama Haji Pondok Gede sekarang juga sering digunakan sebagai lokasi manasik haji dan umrah, bukan hanya untuk calon jemaah, tetapi juga untuk sekolah-sekolah hingga lembaga pendidikan Islam. Banyak siswa datang untuk belajar tata cara ibadah haji secara langsung melalui simulasi yang dibuat menyerupai suasana di Tanah Suci.

Baca Juga: Bukan di Menu, Ini Secret Hacks Minuman Coffee Shop yang Banyak Dicoba Pecinta Kopi

Di area manasik, terdapat replika Kabah, area lempar jumrah, hingga jalur sai yang dibuat mirip seperti di Arab Saudi. Kehadiran fasilitas ini membuat para peserta bisa mendapatkan gambaran nyata tentang proses ibadah haji sebelum benar-benar berangkat ke Makkah. Tidak heran kalau tempat ini sering ramai didatangi rombongan anak sekolah maupun calon jemaah umrah.

Bagi sebagian orang, pengalaman manasik di Asrama Haji Pondok Gede bahkan menjadi momen pertama mereka melihat replika Ka'bah secara langsung. Banyak yang memanfaatkannya untuk belajar sekaligus berfoto karena suasananya terasa cukup mirip dengan area ibadah haji asli.

Dalam perkembangannya, fasilitas di kawasan asrama juga semakin lengkap. Mulai dari aula pertemuan, masjid, penginapan, layanan kesehatan, hingga area UMKM tersedia untuk mendukung kebutuhan jemaah maupun masyarakat umum. Bahkan di luar musim haji, kawasan ini juga kerap digunakan untuk kegiatan sosial dan acara keagamaan lainnya.

Kini, Asrama Haji Pondok Gede tetap menjadi salah satu simbol penting penyelenggaraan ibadah haji Indonesia. Tempat ini bukan cuma lokasi transit sebelum berangkat ke Arab Saudi, tetapi juga menjadi saksi jutaan cerita perjalanan spiritual masyarakat Indonesia dari masa ke masa.

PENULIS :Muhammad Irfan Hidayat

Editor : Bintang Pradewo
#Asrama Haji Pondok Gede