Aglomerasi Metropolitan Politik Pemerintahan

Jakarta Mulai Gerakan Pilah Sampah, Yuk Buktiin Anak Muda Juga Peduli Lingkungan

Muhammad Irfan Hidayat • Rabu, 13 Mei 2026 | 12:29 WIB
Mulai sekarang, kebiasaan buang sampah asal campur kayaknya harus mulai ditinggalin. (Getty Images)
Mulai sekarang, kebiasaan buang sampah asal campur kayaknya harus mulai ditinggalin. (Getty Images)
JawaPos.com - Kamar sudah estetik, meja kerja sudah rapi, tumbler sudah dibawa ke mana-mana. Tapi coba lihat tong sampah di rumah atau kamar kos, isinya masih campur semua nggak?

Mulai sekarang, kebiasaan buang sampah asal campur kayaknya harus mulai ditinggalin. Karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber. Lewat aturan ini, warga Jakarta diminta mulai memilah sampah langsung dari rumah masing-masing.

Gubernur Pramono Anung mengatakan langkah ini dilakukan karena persoalan sampah di Jakarta sudah semakin serius. Kapasitas TPST Bantargebang disebut makin terbatas, sehingga masyarakat diminta ikut berperan mengurangi beban sampah sejak dari rumah.

Lewat gerakan ini, warga diminta memilah sampah menjadi empat kategori. Mulai dari sampah organik yang bisa dijadikan kompos, sampah daur ulang seperti plastik dan kertas, sampah B3 seperti baterai atau lampu bekas, hingga sampah residu seperti tisu kotor dan popok sekali pakai.

Buat banyak anak muda, pilah sampah mungkin awalnya terdengar ribet. Apalagi buat anak kos yang kamarnya aja kadang sudah penuh duluan sama tugas kuliah, baju numpuk, dan kardus paket belanja online. Tapi sebenarnya, langkah kecil ini nggak sesulit yang dibayangkan.

Contohnya simpel banget. Kalau habis beli kopi atau minuman dingin, coba pisahkan gelas plastik dan sedotannya dari sisa es atau tisu bekas. Botol air mineral juga bisa dikumpulkan sendiri buat didaur ulang atau dijual ke bank sampah.

Anak muda yang sering pesan makanan online juga bisa mulai biasain misahin sisa makanan dengan kemasan plastiknya. Jadi nasi atau makanan sisa nggak tercampur sama sendok plastik, kantong, atau wadah makan sekali pakai.

Bahkan buat anak kos, cukup sediakan dua kantong sampah berbeda di kamar. Satu buat sampah organik seperti sisa makanan, satu lagi buat plastik, kardus, atau botol bekas. Kelihatannya sepele, tapi itu sudah jadi langkah awal memilah sampah.

Selain bikin lingkungan lebih bersih, memilah sampah juga punya banyak manfaat lain. Sampah yang dipisahkan jadi lebih mudah didaur ulang sehingga nggak semuanya berakhir menumpuk di TPST Bantargebang. Plastik, kardus, dan botol bekas yang masih layak juga bisa punya nilai ekonomi dan dimanfaatkan kembali.

Kalau sampah organik dipisahkan, bau sampah juga jadi berkurang. Tempat sampah di rumah atau kos jadi nggak cepat penuh dan nggak terlalu mengundang lalat atau tikus. Hal kecil kayak gini sebenarnya bikin lingkungan tempat tinggal jadi lebih nyaman.

Manfaat lainnya, memilah sampah juga bisa membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Sampah plastik yang tercampur dan dibuang sembarangan sering kali berakhir di sungai dan laut. Dari situ, dampaknya bisa panjang, mulai dari banjir sampai pencemaran ekosistem.

Barang-barang kecil seperti baterai bekas, charger rusak, atau lampu mati juga jangan dibuang sembarangan. Sampah seperti itu masuk kategori B3 dan perlu dipisahkan karena mengandung zat berbahaya yang bisa mencemari tanah dan air kalau tercampur dengan sampah biasa.

Apalagi sekarang gaya hidup peduli lingkungan juga makin dekat sama anak muda. Mulai dari tren thrifting, membawa tote bag sendiri, pakai tumbler, sampai ikut kegiatan clean up dan lari sambil pungut sampah alias plogging. Pilah sampah bisa jadi langkah kecil berikutnya yang sebenarnya masih satu paket dengan lifestyle ramah lingkungan itu.

Masalahnya, masih banyak orang yang merasa sampah hilang begitu aja setelah diangkut petugas. Padahal kenyataannya, sampah Jakarta jumlahnya terus menumpuk setiap hari dan sebagian besar akhirnya bermuara ke tempat pembuangan akhir.

Karena itu, Pemprov DKI Jakarta sekarang mulai serius mendorong perubahan kebiasaan masyarakat. Program ini bahkan bakal dievaluasi secara berkala untuk melihat perkembangan gerakan pilah sampah di Jakarta.

Buat generasi muda, isu sampah juga bukan cuma soal lingkungan, tapi soal masa depan kota tempat kita tinggal. Nggak sedikit anak muda sekarang yang mulai sadar kalau banjir, pencemaran, sampai gunungan sampah di kota besar juga dipengaruhi kebiasaan sehari-hari masyarakat.

Lagipula, peduli lingkungan sekarang bukan lagi hal yang nggak keren. Justru makin banyak anak muda yang bangga menjalani gaya hidup lebih sadar lingkungan. Mulai dari konten zero waste di media sosial sampai komunitas peduli lingkungan yang makin ramai diikuti anak muda.

Jadi mungkin sekarang waktunya mulai dari hal kecil. Nggak harus langsung sempurna, nggak harus langsung jadi aktivis lingkungan juga. Cukup mulai biasakan pilah sampah dari rumah, dari kamar sendiri, atau dari tempat nongkrong bareng teman.

Karena kota yang lebih bersih bukan cuma tugas pemerintah atau petugas kebersihan aja. Anak muda juga bisa ikut ambil bagian, bahkan lewat hal sederhana seperti tidak lagi mencampur semua sampah jadi satu.

Editor : Bintang Pradewo
#gerakan pilah sampah #sampah